![]() |
| Ilustrasi Kerajaan Peureulak |
Data Aceh. Kesultanan Peureulak adalah kerajaan Islam di Indonesia yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292. Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak. Hasil alam dan posisinya yang strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad ke-8, disinggahi oleh kapal-kapal yang antara lain berasal dari Arab dan Persia. Hal ini membuat berkembangnya masyarakat Islam di daerah ini, terutama sebagai akibat perkawinan campur antara saudagar muslim dengan perempuan setempat.
Islam telah masuk ke Indonesia sejak abad 7 atau 8 M. Pada abad ke-13, Islam sudah berkembang pesat. Menurut catatan A. Hasymi, Kesultanan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia yang berdiri pada tanggal 1 Muharam 225 H atau 804 M. Kesultanan ini terletak di wilayah Perlak, Aceh Timur, Negeri Aceh.
Nama Kesultanan Perlak sebagai sejarah permulaan masuknya Islam di Indonesia kurang begitu dikenal dibandingkan dengan Kesultanan Samudera Pasai. Namun demikian, nama Kesultanan Perlak justru terkenal di Eropa karena kunjungan Marco Polo pada tahun 1293.
Sejarah Masuknya Islam
Kesultanan Perlak berdiri pada tahun 840 dan berakhir pada tahun 1292. Proses berdirinya tidak terlepas dari pengaruh Islam di wilayah Sumatera. Sebelum Kesultanan Perlak berdiri, di wilayah Perlak sebenarnya sudah berdiri Negeri Perlak yang raja dan rakyatnya merupakan keturunan dari Maharaja Pho He La (Meurah Perlak Syahir Nuwi) serta keturunan dari pasukan-pasukan pengikutnya.
Pada tahun 840 ini, rombongan berjumlah 100 orang dari Timur Tengah menuju pantai Sumatera yang dipimpin oleh Nakhoda Khilafah. Rombongan ini bertujuan untuk berdagang sekaligus membawa sejumlah da‘i yang bertugas untuk membawa dan menyebarkan Islam ke Perlak. Dalam waktu kurang dari setengah abad, raja dan rakyat Perlak meninggalkan agama lama mereka (Hindu dan Buddha), yang kemudian secara sukarela berbondong-bondong memeluk Islam.
Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa salah seorang anak buah dari Nakhoda Khalifah, Ali bin Muhammad bin Ja‘far Shadiq dikawinkan dengan Makhdum Tansyuri, yang merupakan adik dari Syahir Nuwi, Raja Negeri Perlak yang berketurunan Parsi. Dari buah perkawinan mereka lahirlah Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Shah, yang menjadi sultan pertama di Kesultanan Perlak sejak tahun 840. Ibu kotanya Perlak yang semula bernama Bandar Perlak kemudian diubah menjadi Bandar Khalifah sebagai bentuk perhargaan terhadap jasa Nakhoda Khalifah.
Silsilah Kerajaan
Sebelum berdirinya Kesultanan Perlak, di wilayah Negeri Perlak sudah ada rajanya, yaitu Meurah Perlak Syahir Nuwi. Namun, data tentang raja-raja Negeri Perlak secara lengkap belum ditemukan. Sedangkan daftar nama sultan yang pernah berkuasa di Kesultanan Pelak adalah sebagai berikut:
1. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Azis Shah (840-864)
2. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Rahim Shah (864-888)
3. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah (888-913)
4. Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah (915-918)
5. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Shah Johan Berdaulat (928-932)
6. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah Johan Berdaulat (932-956)
7. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat (956-983)
8. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986-1023)
9. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1023-1059)
10. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Shah Johan Berdaulat (1059-1078)
11. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Shah Johan Berdaulat (1078-1109)
12. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Shah Johan Berdaulat (1109-1135)
13. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1135-1160)
14. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Shah Johan Berdaulat (1160-1173)
15. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Shah Johan Berdaulat (1173-1200)
16. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Shah Johan Berdaulat (1200-1230)
17. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (1230-1267
18. 18. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267-1292)
Sultan-sultan di atas dibagi menurut dua dinasti, yaitu dinasti Syed Maulana Abdul Azis Shah dan dinasti Johan Berdaulat, yang merupakan keturunan dari Meurah Perlak asli (Syahir Nuwi).
Periode Pemerintahan
Sultan Perlak ke-17, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat, melakukan politik persahabatan dengan negeri-negeri tetangga. Ia menikahkan dua orang puterinya, yaitu: Putri Ratna Kamala dinikahkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara) dan Putri Ganggang dinikahkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, al-Malik al-Saleh.
Kesultanan Perlak berakhir setelah Sultan yang ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat meninggal pada tahun 1292. Kesultanan Perlak kemudian menyatu dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah kekuasaan sultan Samudera Pasai yang memerintah pada saat itu, Sultan Muhammad Malik Al Zahir yang juga merupakan putera dari al-Malik al-Saleh.
Wilayah Kekuasaan
Sebelum bersatu dengan Kerajaan Samudera Pasai, wilayah kekuasaan Kesultanan Perlak hanya mencakup kawasan sekitar Perlak saja. Saat ini, kesultanan ini terletak di pesisir timur daerah aceh yang tepatnya berada di wilayah Perlak, Aceh Timur, Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia.
Kehidupan Sosial-Budaya
Perlak dikenal dengan kekayaan hasil alamnya yang didukung dengan letaknya yang sangat strategis. Apalagi, Perlak sangat dikenal sebagai penghasil kayu perlak, yaitu jenis kayu yang sangat bagus untuk membuat kapal. Kondisi semacam inilah yang membuat para pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia tertarik untuk datang ke daerah ini. Masuknya para pedagang tersebut juga sekaligus menyebarkan ajaran Islam di kawasan ini. Kedatangan mereka berpengaruh terhadap kehidupan sosio-budaya masyarakat Perlak pada saat itu. Sebab, ketika itu masyarakat Perlak mulai diperkenalkan tentang bagaimana caranya berdagang. Pada awal abad ke-8, Perlak dikenal sebagai pelabuhan niaga yang sangat maju.
Model pernikahan percampuran mulai terjadi di daerah ini sebagai konsekuensi dari membaurnya antara masyarakat pribumi dengan masyarakat pendatang. Kelompok pendatang bermaksud menyebarluaskan misi Islamisasi dengan cara menikahi wanita-wanita setempat. Sebenarnya tidak hanya itu saja, pernikahan campuran juga dimaksudkan untuk mengembangkan sayap perdagangan dari pihak pendatang di daerah ini.
Islam telah masuk ke Indonesia sejak abad 7 atau 8 M. Pada abad ke-13, Islam sudah berkembang pesat. Menurut catatan A. Hasymi, Kesultanan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia yang berdiri pada tanggal 1 Muharam 225 H atau 804 M. Kesultanan ini terletak di wilayah Perlak, Aceh Timur, Negeri Aceh.
Nama Kesultanan Perlak sebagai sejarah permulaan masuknya Islam di Indonesia kurang begitu dikenal dibandingkan dengan Kesultanan Samudera Pasai. Namun demikian, nama Kesultanan Perlak justru terkenal di Eropa karena kunjungan Marco Polo pada tahun 1293.
Sejarah Masuknya Islam
Kesultanan Perlak berdiri pada tahun 840 dan berakhir pada tahun 1292. Proses berdirinya tidak terlepas dari pengaruh Islam di wilayah Sumatera. Sebelum Kesultanan Perlak berdiri, di wilayah Perlak sebenarnya sudah berdiri Negeri Perlak yang raja dan rakyatnya merupakan keturunan dari Maharaja Pho He La (Meurah Perlak Syahir Nuwi) serta keturunan dari pasukan-pasukan pengikutnya.
Pada tahun 840 ini, rombongan berjumlah 100 orang dari Timur Tengah menuju pantai Sumatera yang dipimpin oleh Nakhoda Khilafah. Rombongan ini bertujuan untuk berdagang sekaligus membawa sejumlah da‘i yang bertugas untuk membawa dan menyebarkan Islam ke Perlak. Dalam waktu kurang dari setengah abad, raja dan rakyat Perlak meninggalkan agama lama mereka (Hindu dan Buddha), yang kemudian secara sukarela berbondong-bondong memeluk Islam.
Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa salah seorang anak buah dari Nakhoda Khalifah, Ali bin Muhammad bin Ja‘far Shadiq dikawinkan dengan Makhdum Tansyuri, yang merupakan adik dari Syahir Nuwi, Raja Negeri Perlak yang berketurunan Parsi. Dari buah perkawinan mereka lahirlah Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Shah, yang menjadi sultan pertama di Kesultanan Perlak sejak tahun 840. Ibu kotanya Perlak yang semula bernama Bandar Perlak kemudian diubah menjadi Bandar Khalifah sebagai bentuk perhargaan terhadap jasa Nakhoda Khalifah.
Silsilah Kerajaan
Sebelum berdirinya Kesultanan Perlak, di wilayah Negeri Perlak sudah ada rajanya, yaitu Meurah Perlak Syahir Nuwi. Namun, data tentang raja-raja Negeri Perlak secara lengkap belum ditemukan. Sedangkan daftar nama sultan yang pernah berkuasa di Kesultanan Pelak adalah sebagai berikut:
1. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Azis Shah (840-864)
2. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Rahim Shah (864-888)
3. Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah (888-913)
4. Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah (915-918)
5. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Shah Johan Berdaulat (928-932)
6. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah Johan Berdaulat (932-956)
7. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat (956-983)
8. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986-1023)
9. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1023-1059)
10. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Shah Johan Berdaulat (1059-1078)
11. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Shah Johan Berdaulat (1078-1109)
12. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Shah Johan Berdaulat (1109-1135)
13. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1135-1160)
14. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Shah Johan Berdaulat (1160-1173)
15. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Shah Johan Berdaulat (1173-1200)
16. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Shah Johan Berdaulat (1200-1230)
17. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (1230-1267
18. 18. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267-1292)
Sultan-sultan di atas dibagi menurut dua dinasti, yaitu dinasti Syed Maulana Abdul Azis Shah dan dinasti Johan Berdaulat, yang merupakan keturunan dari Meurah Perlak asli (Syahir Nuwi).
Periode Pemerintahan
Sultan Perlak ke-17, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat, melakukan politik persahabatan dengan negeri-negeri tetangga. Ia menikahkan dua orang puterinya, yaitu: Putri Ratna Kamala dinikahkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara) dan Putri Ganggang dinikahkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, al-Malik al-Saleh.
Kesultanan Perlak berakhir setelah Sultan yang ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat meninggal pada tahun 1292. Kesultanan Perlak kemudian menyatu dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah kekuasaan sultan Samudera Pasai yang memerintah pada saat itu, Sultan Muhammad Malik Al Zahir yang juga merupakan putera dari al-Malik al-Saleh.
Wilayah Kekuasaan
Sebelum bersatu dengan Kerajaan Samudera Pasai, wilayah kekuasaan Kesultanan Perlak hanya mencakup kawasan sekitar Perlak saja. Saat ini, kesultanan ini terletak di pesisir timur daerah aceh yang tepatnya berada di wilayah Perlak, Aceh Timur, Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia.
Kehidupan Sosial-Budaya
Perlak dikenal dengan kekayaan hasil alamnya yang didukung dengan letaknya yang sangat strategis. Apalagi, Perlak sangat dikenal sebagai penghasil kayu perlak, yaitu jenis kayu yang sangat bagus untuk membuat kapal. Kondisi semacam inilah yang membuat para pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia tertarik untuk datang ke daerah ini. Masuknya para pedagang tersebut juga sekaligus menyebarkan ajaran Islam di kawasan ini. Kedatangan mereka berpengaruh terhadap kehidupan sosio-budaya masyarakat Perlak pada saat itu. Sebab, ketika itu masyarakat Perlak mulai diperkenalkan tentang bagaimana caranya berdagang. Pada awal abad ke-8, Perlak dikenal sebagai pelabuhan niaga yang sangat maju.
Model pernikahan percampuran mulai terjadi di daerah ini sebagai konsekuensi dari membaurnya antara masyarakat pribumi dengan masyarakat pendatang. Kelompok pendatang bermaksud menyebarluaskan misi Islamisasi dengan cara menikahi wanita-wanita setempat. Sebenarnya tidak hanya itu saja, pernikahan campuran juga dimaksudkan untuk mengembangkan sayap perdagangan dari pihak pendatang di daerah ini.
![]() |
| Rumoh Beuso |
Seiring kemajuan kerajaan islam peureulak pada tahun 840 masehi, dengan ibukotanya bandar khalifah, yang pada awal berdirinya dipimpin seorang raja sultan alauddin abdul azis syah tahun 840-864 masehi. kota idi rayeuk yang kini menjadi pusat ibukota kabupaten aceh timur, sebuah dareah pesisir kerajaan peureulak juga menyimpan sejarah panjang .
Kemajuan perdagangan dan pelayaran sepanjang selat malaka tempo doeloe, telah mencatutkan nama idi sebagai sebuah pelabuhan perdagangan komoditi lada dan cengkeh bagi saudagar-saudagar dikawasan asia, eropa dan persia. Kedatangan imigran tionghoa mendiami kawasan idi dan sekitarnya dan berdirinya sebuah vihara murni sakti ditengah kota idi pada tahun 1886 masehi, merupakan sebuah bukti paradaban kota idi dimasa silam.
Dalam silsilah raja-raja aceh yang diterbitkan yayasan monisa, dan dalam buku tarikh aceh nusantara yang ditulis haji muhammad zainuddin. Panglima nyaksin seorang yang gagah berani dan kononnya mempunyai ilmu kebal merupakan orang pertama yang membuka hutan disekitaran kota idi sebagai lahan pertanian lada.
Seiring dengan kemajuan di bidang pertanian lada di sekitaran kota idi, kemudian warga dari kerajaan pasai, peusangan, pidie dan aceh besar terus berdatangan dan bermukim di kota idi dan sekitarnya. setelah penghuni seunubok yang dibuka semakin ramai maka bermuafakatlah semua rombongan untuk membuka lahan pertanian lada yang hasilnya kemudian dipasarkan ke pulau pineng melalui pelabuhan kuala idi rayeuk, karena letak pelabuhan idi setentang dengan pulau pineng.
Kala itu kapal-kapal dagang dan kapal raja antar bangsa mulai singgah di idi guna membeli hasil komoditi lada, adapun kapal yang singgah di idi kala itu yaitu kapal dari pegu, hock kwaton dan kapal –kapal imigran dari china. Bahkan sekiatar tahun 1841, peradaban idi mulai berubah dengan masuknya warga imigran dari rrc mulai berdatangan ke idi dan mendiami sejumlah wilayah sekitaran kota idi. Kedatangan para pedagang dari pineng yang kebanyakan warga thionghoa juga disambut baik kala itu oleh masyarakat idi.
Dimasa kepimpinan ulee balang T.Ben guci memerintah idi dan sekitarnya, pada tahun 1888 sebuah tepekong. Vihara murni sakti tempat ibadah warga thionghoa juga berdiri ditengah bandar idi, yaitu di gampong jawa sekarang. Vihara murni sakti, dibangun pada tahun 1888 setelah vihara yang sama. dibangun di pineng malaysia pada tahun 1886, kabarnya kala itu semua bahan bangunan vihara tersebut didatangkan dari pineng melalui palabuhan kuala idi. Bahkan disebuah batu tembok di vihara tersebut dengan tulisan bahasa china disana tercatat nama-nama warga thionghoa yang pertama sekali singgah di idi dan yang membangun tepekong tersebut.
Kota idi kala itu terus berkembang pesat dengan datangnya para pedagang dari pineng (malaysia sekarang), bermacam barang dagangan hasil komoditi kawasan idi dan sekitarnya, seperti lada, ikan, dan rempah lainya diangkut ke pineng sementara barang dari pineng juga masuk ke idi kala itu.
Selain itu, dimasa idi jaya dengan hasil lada, damar, kopra dan hasil komoditi perkebunan dan pertanian lainya di idi tempoe doeloe juga pernah mempunyai rel kereta api yang menghubungkan blang siguci arah selatan kota idi yang kini menjadi kecamatan idi tunong dengan palabuhan idi
Rumoeh beuso ( rumah besi ) yang dibangun pada tahun 1880 an yaitu istana kerajaan di Idi Rayeuk yang dipimpin oleh Tuanku Chik bin Guci , rumah terlihat seperti istana panggung. Atapnya dari bahan sirap dengan kerangka yang diukir. Bangunan ini disangga oleh pilar-pilar besi yang setiap ujungnya di ukir. Rumah ini dibangun ketika etnis TIONGHOA datang singgah ke idi karena perdagangan di kawasan pantai timur Aceh dari berbagai belahan dunia untuk memburu hasil bumi.
Sejarah dibangunnya Rumoeh beuso yaitu permintaan dari orang Tionghoa yang berkelana ke idi dengan tujuan bisnis mereka yaitu meminta kepada sang Raja Tuanku Chik bin Guci untuk membangun sebuah tempat beribadah untuk mereka yaitu sebuah Vihara, kemudian sang Raja menyetujui dengan syarat , mereka mesti membangun sebuah istana yaitu dikenal dengan Rumoeh beuso untuk sang Raja kemudian sepakatlah mereka untuk membangun rumoeh beuso dan sebuah vihara di idi rayeuk.
Data Aceh. Pisang salee adalah makanan olahan dari pisang yang di sisir tipis kemudian dijemur dimatahari, tujuan penjemuran adalah untuk mengurangi kadar air yang ada didalam pisang tersebut, sehingga pisang salee tersebut tahan lama, pisang salee ini langsung bisa dimakan atau bisa juga digoreng dengan tepung agar memiliki rasa yang berbeda, selain itu pisang salee ini juga mempunyai berbagai macam rasa yaitu rasa keju, rasa nanas dan lain-lain.Pisang salee merupakan produk pisang yang dibuat dengan proses pengeringan dan pengasapan. Sale dikenal mempunyai rasa dan aroma yang khas. asal usul peoduk pisang salee ini masih kurang jelas karena pisang salee ini terdapat diberbagai daerah di indonesia pisang salee banyak dijual di nanggroe aceh darussalam, terutama di lhoknibong aceh timur pisang salee sangat mendominasi di pasar buah (Karona) tersebut.
Sifat-sifat penting yang sangat menentukan mutu sale pisang adalah warna, rasa, bau, kekenyalan, dan ketahanan simpannya. Sifat tersebut banyak dipengaruhi oleh cara pengolahan, pengepakan, serta penyimpanan produknya. Sale yang dibuat selama ini sering kali mutunya kurang baik terutama bila dibuat pada waktu musim hujan. Bila dibuat pada musim hujan perlu dikeringkan dengan pengeringan buatan (dengan sistem tungju).
Ada 3 cara proses pengolahan Pisang salee di aceh Timur yaitu :
1. Cara Tradisional dengan cara menggunakan Asap kayu bakar
2. Cara pengasapan dengan menggunakan asap belerang
3. Cara basah dengan menggunakan Natrium Bisulfit
Proses pengasapan menggunakan belerang berguna untuk :
Memucatkan pisang agar memperoleh warna yang dikehendaki
Mematikan Microba Jamur dan bakteri yang menjadi penyakit
Mencegah perubahan warna sehingga warnanya tetap berkwalitas tinggi
Data Aceh. Hymne atau gita puja adalah sejenis nyanyian pujaan, biasanya pujaan ditujukan untuk Tuhan atau sesuatu yang dimuliakan. Selain sebagai pujaan hymne juga sebagai bentuk lagu untuk mendoakan, memberi kesan agung, atau pun rasa syukur yang disampaikan dalam bentuk lagu. Hymne juga diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan. Contoh lagu perjuangan yang berbentuk hymne antara lain, Syukur, Gugur Bunga, Mengheningkan Cipta dan lain sebagainya.
Hymne : Himne ialah sajak yang berisi pujian kepada Allah, tanah air sesorang atau sesuatu yang dimuliakan.biasanya hymne memiliki irama yang lambat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Himne adalah suatu Nyanyian Pujian (yang ditujukan kepada Tuhan atau orang suci yang kita hormati), suatu Gita Puja. Sedangkan menurut Wikipedia Ensiklopedia, “A Hymn is a type of song, ussualy religious, specifically written for the purpose of praise, adoration or prayer, and typically addressed to a God or other religiously significan figure.”
Sesuai dengan amanah melalui MoU Helsinki, di Finlandia antara GAM dan Pemerintahan Indonesia tersebut terkait Hymne
1. Penyelenggaraan Pemerintahaan Aceh
1.1. Undang-undang tentang penyelenggaraaan Pemerintah Aceh
1.1.5 Aceh memiliki Hak menggunakan simbol-simbol Wilayah termasuk bendera, Lambang dan Hymne
Hal ini sebagai sarana untuk merepresentasikan keistimewaan dan kekhususan Aceh, sebagaimana dijelaskan secara ekplisit dalam UU tersebut.
Pemerintah Aceh Melalui DPRA melaksanakan sayembara Lomba Hymne Aceh tersebut,
Penetapan pemenang utama sayembara himne Aceh diumumkan DPRA melalui pengumuman resmi yang ditandatangani Ketua DPRA, Tgk Muharuddin melalui Harian Serambi Indonesia, Senin (11/12). Dalam pengumuman itu, panitia sayembara juga menyertakan lirik atau syair himne karya Mahrisal Rubi, berikut dengan partitur not baloknya.
Sebagaimana diketahui, total karya yang ikut berkompetisi dalam Sayembara Himne Aceh sebanyak 85 karya. Setelah dilakukan seleksi administrasi, presentasi, dan demonstrasi karya pada 27-28 November, dewan juri kemudian menetapkan tujuh nominasi pemenang, yakni Muslizar SPd, CIOFF Aceh (Aidi Kamal), Dandi Bachtiar, Moritza Thaher, Subur Dani, Mahrisal Rubi, dan Dr Ir Wesli MT.
Berikut syair Lirik Aceh Mulia
![]() |
| sumber Foto Serambi |
Data Aceh. Laju pertumbuhan ekonomi di Aceh Timur mengalami pertumbuhan yang melimpah dari berbagai sektor, mulai dari tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, pertenakan, dan perikanan serta industri yang memiliki kekayaan alam begitu melimpah mulai dari potensi Kelautan, minyak dan gas dan pertambangan lainnya yang didukung dengan ditemukan batu bara di Aceh Timur semakin lengkap dalam bidang kekayaan alam.Data yang diperoleh dari Dinas Pertanian Aceh Timur, luas lahan baku sawah mencapai 35.065 Ha, luas panen sebesar 258.996 Ton/Tahun dengan Surplus bentuk gabah sebesar 22.667,1 Ton/Tahun dengan setara beras sebesar 13.600,2 Ton/Tahun.
Tidak hanya padi Kabupaten Aceh Timur juga mengembangkan Komoditi lainnya seperti kedelai yang luasnya sebesar 15.000 Ha, dengan hasil panennya mencapai. 22.800 Ton/Tahun, sementara untuk jagung luas lahannya mencapai 15.000 Ha dengan jumlah panennya mencapai 65.125 Ton/Tahun, tidak hanya itu Aceh Timur juga mengembangkan tanaman kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar.
Sektor Perkebunan Aceh timur juga menjadi sektor primadona yang secara keseluruhannya dengan luas 151.298.49 Ha, dengan hasil produksi 230.811,86 Ton/Tahun sedangkan yang di kelola oleh Perusahaan Nasional dan BUMN seluas 80. 715,91 Ha.
Hasil perkebunan di Kabupaten Aceh Timur dalam skala besar yaitu Kelapa Sawit, karet, kakao, kelapa, dan pinang, untuk perkebunan kelapa sawit yang di kelola masyarakat 24.297,50 Ha, dengan hasil 199.790,19 Ton/Tahun. Untuk perkebunan karet dengan luas 22.019,50 Ha yang menghasilkan 14.973,89 Ton/Tahun sedangkan perkebunan Kakao atau Coklat luas lahan 12. 725,50 Ha yang menghasilkan 6.714,60 Ton/Tahun.
Selain perkebunan skala besar atau prioritas, Kabupaten Aceh Timur juga memiliki komunitas andalan lainnya seperti pinang dengan luas lahan mencapai 2.697,00 Ha dengan hasilnya 1.605,80 Ton/Tahun. Untuk kelapa Kabupaten Aceh Timur memiliki luas lahan 6.851,50 dengan hasil panen 6.086,96 Ton/Tahun.
Selain Dua jenis tanaman tersebut Aceh Timur juga memiliki tanaman dalam skala kecil seperti Kopi, Kemiri, dan lain-lain yang saat ini masih di kelola oleh masyarakat dan hingga saat ini belum ada satupun perusahan Swasta atau BUMN yang mengembangkan tanaman tersebut.
![]() |
| Air Terjun Weh Hilang |
Data Aceh. Alam Aceh memang tempat yang memliki pesona keindahan, panorama alam yang tak dapat Anda lupakan. kemanapun anda menginjakan kaki di bumi serambi mekah ini anda tetap akan menemukan pesona indah yang membuat kamu terpesona. Seperti yang terdapat di Aceh Timur.
Air Terjun Weh Hilang, begitu nama lokasi objek wisata ini disebut. Objek wisata yang saat ini belum banyak diketahui masyarakat Aceh Timur Kususnya dan Masyarakat Aceh pada umumnya. Lokasi air terjun ini lumayan jauh dari perkotaan. Terletak di kawasan pedalaman, tepatnya di Gampong Terujak, Kecamatan Serba Jadi, Aceh Timur.
Air Terjun Wih Hilang Ini sebuah destinasi wisata di Aceh Timur yang layak disebut sebagai surga nyata yang ada di di Aceh Timur. bagaimana tidak dengan kejernihan air yang jatuh suhu yang dingin membuat air terjun wih ilang ini layak untuk di kunjungi.
Untuk menuju ke lokasi Air Terjun Weh Hilang butuh waktu tiga jam dari ibu kota Aceh Timur jika menggunakan sepeda motor. Medan jalan sulit dilintasi lantaran kondisi infrastruktur belum begitu mendukung.
Jika ingin ke sana, Anda harus melewati beberapa Gampong. Di antaranya, melewati Jalur Simpang Gampong Beusa, Kecamatan Peureulak Barat dari jalan lintas Medan- Banda Aceh menuju kawasan Lokop.
Tiba di Gampong Lokop, butuh waktu sekitar 30 menit lagi dengan berjalan kaki menyusuri bibir sungai dengan air yang sangat jernih. sepanjang kawasan menuju Air Terjun Weh Hilang juga tampak panorama alam yang sangat indah dengan pepohonan yang hijau akan menemani perjalanan anda.
Rasa lelah akan hilang dan terbayarkan ketika sampai kelokasi air terjun weh hilang, air terjun dengan ketinggian lebih kurang 15 meter ini memiliki keindahan alam yang sangat hijau yang indah dipandang mata, udara yang snagat segar, airnya pun sangat sejuk dan sangat jernih. Tempatnya masih sangat asri dengan alam yang masih alami. Belum lengkap rasanya jika tidak berenang atau mandi di lokasi ini.
Untuk menuju kelokasi ini anda perlu melakukan persiapan yang matang, mulai dari persiapan fisik hingga persiapan bekal selama perjalan.
Pada tahun 1980 M di Kuala Simpang dimana para ahli sejarah berkumpul dalam
sebuah forum ilmiah untuk membedah sejarah Islam. Peristiwa bersejarah itu
diberi tema: Seminar Sejarah Masuk Dan Berkembangnya Islam Di Aceh Dan
Nusantara, yang dihadiri oleh sejarahwan dan budayawan dari dalam dan luar
negeri. Berdasarkan data yang tersedia sebanyak 199 orang turut serta dalam
acara yang diprakarsai oleh Ali Hasjmi tersebut, termasuk Prof. DR. HAMKA.Untuk memugar kembali situs sejarah Peureulak yang telah lama terbengkalai, seminar merekomendasikan untuk dibangun sebuah monumen sejarah, untuk itu perlu dibentuk sebuah badan yang bekerja khusus untuk program tersebut yang diberi nama Yayasan Monumen Islam Asia Tenggara disingkat dengan MONISA.
Maka pada tahun 1981 yayasan monisa didirikan, dari susunan strukturnya terpancar optimisme bahwa lembaga tersebut akan sanggup melaksanakan amanah yang dibebankan kepadanya, karena sangat banyak tokoh intelektual dan pejabat publik pada masa itu terlibat dalam struktur, bahkan siapa saja yang menjadi Bupati Aceh Timur secara otomatis menjadi ketua yayasan.
Optimisme pun berbinar-binar dimata masyarakat Aceh khususnya penduduk peureulak sehingga satu persatu masyarakat yang tanahnya masuk dalam site plan monisa bersedia melepaskan tanah mereka dengan ganti rugi alakadarnya, sehingga dalam waktu singkat tanah seluas 122.292m2 yang terletak di desa Paya Meuligoe yang diyakini sebagai bekas kerajaan Peureulak berhasil dibebaskan oleh pengurus monisa.
Dukungan pemerintah pun terlihat sangat serius, setiap tahun Pemda Aceh Timur ikut menganggarkan dana untuk pembangunan situs bersejarah tersebut, dukungan masyarakat secara pribadi juga sangat antusias, pada tahun 1983 sebuah gedung serba guna yang menurut rencana akan dijadikan sekretariat monisa berhasil dibangun atas sumbangan H. Abu bakar Abdy.
Dalam bidang perencanaan, monisa membentuk tim khusus yang dikenal dengan tim 4 dipimpin oleh Ir. Abdul Hadi, cs. Dalam hal ini monisa telah menyiapkan denah yang sangat detail di lokasi monisa mulai dari bangunan induk yang merupakan gedung yang sangat apik dan indah, dilengkapi dengan komplek pendidikan mulai dari TK hingga perguruan tinggi, juga ada dayah tradisional untuk melestarikan ciri khas budaya Aceh, maket rumah yang berciri khas budaya dari berbagai negara ASEAN, maket rumah adat dari berbagai suku di Indonesia, ada kolam Nurul A’la, pemandian air panas, danau Banta Amat, taman bunga dan lain-lain, bahkan mereka sudah membuat sebuah maket monumen yang sangat indah, maket tersebut sering dipajang pada acara-acara pameran dan sering menimbulkan decak kagum pengunjung atas keindahannya.
Secara historis Aceh sangat layak untuk memiliki monumen tersebut, kalau saja hal itu betul-betul dapat diwujudkan maka Aceh akan kaya dengan berbagai monumen berkelas internasional seperti Monumen Tsunami, Monumen Perdamaian, dan tentu saja Monumen Islam Asia Tenggara.
![]() |
| Sumber Foto Beritadaerah |
Pada Tahun 1974 awalnya di Desa Gampong Jawa didirikan sebuah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan seiring perkembangannya TPI tersebut dipindahkan ke Desa Blang Geuleumpang. Kemudian statusnya ditingkatkan menjadi Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) pada Tahun 1983.
Akibat semakin pesat dan ramainya aktivitas di pelabuhan tersebut, bedasarkan Surat Keputusan Gubernur Provinsi Aceh Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 34 tahun 2003, PPI Idi Akhirnya ditingkatkan status menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Idi.
Pelabuhan Idi memiliki potensi lokasi yang sangat menguntungkan. Secara geografis letak Pelabuhan Pantai Idi cukup strategis karena berada di pertengahan antara dua kota besar, yakni Banda Aceh dan Medan, Sumatera Utara. Kondisi ini memberikan kemudahan pemasaran hasil tangkapan para nelayan khususnya Kuala Idi dan umumnya Kabupaten Aceh Timur.
Pelabuhan Idi juga memiliki potensi perikanan yang cukup baik. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya jumlah boat yang beroperasi di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Idi yang hampir mencapai 400 unit boat berbagai jenis dan ukuran.
Dengan kapasitas boat nelayan mencapai ratusan tersebut, ikan hasil tangkapan nelayan saat ini mencapai 40 ton per hari atau 72.000 ton per tahun.
Berbagai aktivitas di Pelabuhan Perikanan Pantai Idi dilakukan di dermaga bongkar muat dengan panjang 464 meter yang meliputi 300 meter dermaga sisi timur dan 164 meter dermaga sisi barat. Selain aktivitas bongkar muat, PPP Idi juga memiliki usaha pengolahan ikan asin tradisional.
UPTD Pelabuhan Perikanan Pantai Idi memiliki program pembangunan dan pengembangan. Adapun tujuan pengembangan yakni ingin menata kawasan perikanan dan menyediakan fasilitas yang diperlukan, mengkaji berbagai potensi kawasan untuk meningkatkan usaha perikanan Kuala Idi, meningkatkan produksi perikanan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan pendapatan para nelayan, serta agar tersusunnya suatu rencana teknis pembangunan kawasan di Kuala Idi dan meningkatkan profesionalisme pengusaha perikanan dan memotivasi nelayan untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Jika mengacu pada Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan nomor 10 tahun 2004 tentang Pengklasifikasian Pelabuhan Perikanan sudah selayaknya Pelabuhan Perikanan Pantai Idi ditingkatkan statusnya menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) agar pengelolaan perikanan di wilayah timur Aceh dapat dilakukan secara maksimal.
Tentunya memiliki alasan, alasannya kritiria untuk menjadi PPN bagi Pelabuhan Perikanan Pantai Idi sudah dapat terpenuhi yaitu meliputi, jumlah kapal/boat yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai Idi sebanyak lebi kurang 400 unit armada kapal tangkap dengan ukuran antara 5 sampai dengan 50 GT dan pada tahun 2009 FAO bekerjasama dengan dinas terkait telah meregistrasi kapal sebanyak 102 unit armada tangkap yang klasifikasinya 10 sampai dengan 50 GT.
Bukan hanya itu, bahkan jangkauan operasional kapal-kapal tersebut mencapai ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia). Ditambah lagi panjang dermaga disisi timur mencapai 300 meter dan sisi barat mencapai 160 meter, serta hasil tangkapa nelayan dapat mencapai 40 ton atau lebih perhari.
Kendati masih ada saja kekurangan, saat ini upaya pengembagan dan pembangunan kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai Idi menjadi sebuah pelabuhan perikanan terpadu juga sedang dilakukan melalui berbagai koordinasi dan kerjasama dengan berbagai dinas dan intansi terkait lainnya di lingkungan Pemerintah Aceh.
Tak hanya itu, guna untuk mendukung terwujudnya pelabuhan perikanan yang berkelas nusantara, Pelabuhan Perikanan Pantai Idi juga telah dtetapkan sebagai salah satu kawasan Mina Politan oleh Kementrian Kelautan Dan Perikanan RI. Selain itu, PPP Idi juga merupakan salah satu pelabuhan yang telah mendapatkan Sertifikat ekspor ikan ke luar negeri (Uni Eropa) bedasarkan MoU antara Indonesia dengan Uni Eropa.
Pelabuhan ini ditetapkan menjadi lokasi Minapolitan (Kota Ikan_red), lokasinya di dusun Calok Geulima, Gampong Jawa, Kecamatan Idi rayeuk, dengan luas areal 10 hektar. Dilokasi tersebut akan dipersiapkan berbagai alat kebutuhan, seperti unit pengelola ikan (UPI), tempat pelatihan nelayan, pasar grosir, alat kebutuhan nelayan, warung kuliner serba ikan dan kawasan pemukiman nelayan.ang Menjanjikan di Aceh Timur.






