Data Aceh. Air Terjun Blang Kolam Berlokasi di hutan yang teduh dan terdapat di Kabupaten Aceh Utara dengan ketinggian sekitar 75 Meter. Tempatnya yang sejuk dengan alam yang masih asri sekali. Bagi yang ingin merasakan dinginnya air terjun, bisa berendam disini atau sekedar bersantai diakhir pekan. Tempat ini sangat cocok sebagai rekreasi keluarga. Terletak di Desa Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Propinsi Nanggro Aceh Darussalam.

Air Terjun Blang Kolam sangat sejuk dengan alam yang masih asri sekali. Setelah anda tiba di lokasi, anda harus memarkirkan kendaraan anda bagi yang menggunakkan kendaraan pribadi. Untuk motor diberi harga Rp 5.000,- dan untuk mobil atau kendaraan roda empat diberi harga Rp 10.000,-. Memang cukup mahal, tetapi keamanannya tetap terjaga. Dari tempat parkir ini, anda bisa melihat sebuah gerbang yang akan membawa anda menuju Air Terjun Blang Kolam. Tapi tunggu dulu, anda harus menuruni 660 buah anak tangga yang di buat pada tahun 70an untuk mencapai air terjun. Memang terkesan melelahkan, tetapi, pemandangan alam selama perjalanan bisa membuat anda bersemangat dan sampai di air terjun.

Dinamai Blang Kolam mungkin karena bentuknya yang menyerupai bentuk kolam layaknya cawan raksasa berisikan air yang bercucuran dari tebing. Disekitar lokasi Air Terjun ini masih terdapat pepohonan tinggi dan bersuhu lembab karena daerah tersebut termasuk ke dalam jenis hutan hujan tropis, dan bisa dibilang masih sedikit belantara.

Jika anda menggunakkan kendaraan pribadi, anda bisa menuju daerah Cunda. Dari sini, anda bisa melihat penunjuk jalan yang menunjukkan arah ke Blang Kolam. Anda juga bisa menempuh perjalanan melalui Krueng Geukuh ataupun dari wilayah Kandang. Penunjuk jalan ke lokasi sudah cukup jelas, sehingga memungkinkan anda tak harus terus bertanya pada penduduk. Untuk kendaraan umum, anda memang bisa menggunakan labi-labi. Untuk mencari pangkalannya bisa anda temukan di terminal labi-labi di Jalan Pase. Tetapi, untuk saat ini, sudah jarang bisa ada temukan angkutan berupa labi-labi. Hal ini dikarenakan kebanyakkan dari masyarakat menggunakkan angkutan berupa becak motor. Untuk becak motor sendiri anda bisa menemukkannya di persimpangan jalan ataupun di jalan-jalan ketika mereka lewat. Ongkosnya pun beragam, tergantung dari mana anda menggunakkan angkutan ini. Tarif jika dari pusat kota biasanya adalah sekitar Rp 15.000,- – Rp 20.000,- untuk menuju Desa Sido Mulyo yang memiliki Air Terjun Blang Kolam ini.

Di sekitar air terjun ini, ada banyak pepohonan rindang dan tinggi, membuat suasana sekitar tidak panas dan tertutup panas matahari. Sangat nyaman berendam di kolam tampungan air terjun atau sekedar bersantai di tepiannya diatas bebatuan besar. Jika ingin merasakan pengalaman yang berbeda, coba datang dengan membawa perlengakapan berkemah seperti tikar, tenda dan alat-alat lainnya. Di Air Terjun Blang Kolam ini, Anda bisa berkemah dan menikmati alam bebas dengan suasana gemuruh air terjun.




Data Aceh. Kesultanan Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.

Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik as-Saleh, sekitar tahun 1267. Keberadaan kerajaan ini juga tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri ini pada tahun 1345. Kesultanan Pasai akhirnya runtuh setelah serangan Portugal pada tahun 1521.

Berdasarkan Hikayat Raja-raja Pasai, menceritakan tentang pendirian Pasai oleh Marah Silu, setelah sebelumnya ia menggantikan seorang raja yang bernama Sultan Malik al-Nasser.  Marah Silu ini sebelumnya berada pada satu kawasan yang disebut dengan Semerlanga kemudian setelah naik tahta bergelar Sultan Malik as-Saleh, ia wafat pada tahun 696 H atau 1267 M.

Dalam Hikayat Raja-raja Pasai maupun Sulalatus Salatin nama Pasai dan Samudera telah dipisahkan merujuk pada dua kawasan yang berbeda, namun dalam catatan Tiongkok nama-nama tersebut tidak dibedakan sama sekali. Sementara Marco Polo dalam lawatannya mencatat beberapa daftar kerajaan yang ada di pantai timur Pulau Sumatera waktu itu, dari selatan ke utara terdapat nama Ferlec (Perlak), Basma dan Samara (Samudera).

Pemerintahan Sultan Malik as-Saleh kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Malik az-Zahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, koin emas sebagai mata uang telah diperkenalkan di Pasai, seiring dengan berkembangnya Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam. Kemudian sekitar tahun 1326 ia meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Sultan Mahmud Malik az-Zahir dan memerintah sampai tahun 1345. Pada masa pemerintahannya, ia dikunjungi oleh Ibn Batuthah, kemudian menceritakan bahwa sultan di negeri Samatrah (Samudera) menyambutnya dengan penuh keramahan, dan penduduknya menganut Mazhab Syafi'i.

Kesultanan Pasai kembali bangkit di bawah pimpinan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir tahun 1383, dan memerintah sampai tahun 1405. Dalam kronik Cina ia juga dikenal dengan nama Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki, dan disebutkan ia tewas oleh Raja Nakur. Selanjutnya pemerintahan Kesultanan Pasai dilanjutkan oleh istrinya Sultanah Nahrasiyah.

Armada Cheng Ho yang memimpin sekitar 208 kapal mengunjungi Pasai berturut turut dalam tahun 1405, 1408 dan 1412. Berdasarkan laporan perjalanan Cheng Ho yang dicatat oleh para pembantunya seperti Ma Huan dan Fei Xin. Secara geografis Kesultanan Pasai dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi disebelah selatan dan timur, serta jika terus ke arah timur berbatasan dengan Kerajaan Aru, sebelah utara dengan laut, sebelah barat berbatasan dengan dua kerajaan, Nakur dan Lide. Sedangkan jika terus ke arah barat berjumpa dengan kerajaan Lambri (Lamuri) yang disebutkan waktu itu berjarak 3 hari 3 malam dari Pasai. Dalam kunjungan tersebut Cheng Ho juga menyampaikan hadiah dari Kaisar Cina, Lonceng Cakra Donya.

Sekitar tahun 1434 Sultan Pasai mengirim saudaranya yang dikenal dengan Ha-li-zhi-han namun wafat di Beijing. Kaisar Xuande dari Dinasti Ming mengutus Wang Jinhong ke Pasai untuk menyampaikan berita tersebut.

Islam merupakan agama yang dianut oleh masyarakat Pasai, walau pengaruh Hindu dan Buddha juga turut mewarnai masyarakat ini. Dari catatan Ma Huan dan Tomé Pires, telah membandingkan dan menyebutkan bahwa sosial budaya masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti bahasa, maupun tradisi pada upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Kemungkinan kesamaan ini memudahkan penerimaan Islam di Malaka dan hubungan yang akrab ini dipererat oleh adanya pernikahan antara putri Pasai dengan raja Malaka sebagaimana diceritakan dalam Sulalatus Salatin.

Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi beberapa pertikaian di Pasai yang mengakibatkan perang saudara. Sulalatus Salatin menceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal tahun 1521 yang sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, dan kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.


Data Aceh. Masyarakat Kabupaten Aceh Utara, Bireueun, Bener Meriah, Lhokseumawe, dan Kabupaten Aceh Tengah memadati kawasan obyek wisata Gunung Salak yang berlokasi di Kilometer 31, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara.

Berada di kawasan perbukitan antara Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bener Meriah, panorama alam nan indah menjadikan obyek wisata baru ini menjadi pusat perhatian masyarakat. Apalagi sejumlah warga di sana memasang payung aneka warna di bagian atas pepohonan.

Gunung Salak Aceh yang terletak di Jalan KKA Aceh Utara-Bener Meriah atau tepatnya di Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara menjadi destinasi wisata baru di kabupaten tersebut.

Menuju ke lokasi Puncak Gunung Salak bisa lewat Jalan Eks KKA-Bener Meriah. Bila dari arah Krueng Geukuh, Kabupaten Aceh Utara, pengunjung hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai puncak Gunung Salak.

Pembukaan kembali jalan yang menghubungkan dua kabupaten itu selain dapat memudahkan masyarakat di sana dalam melakukan aktivitasnya, juga memudahkan para wisatawan saat berkunjung ke Takengon, Aceh Tengah. Karena, jarak tempuh untuk menuju kota dingin itu lebih singkat dibandingkan melalui lintasan Juli, Bireuen.

Puncak Gunung Salak kini mendadak jadi primadona. Panoramanya yang indah serta udara yang sejuk, membuat banyak pengunjung betah berlama-lama di sana. Keindahan panorama alamnya sedang hits dibicarakan oleh masyarakat Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Kita akan disuguhi keindahan alam yang asri. Hamparan pegunungan yang hijau, beberapa jenis tanaman juga berjejer rapi di kebun-kebun milik warga.

Hampir saban hari, destinasi ini ramai dikunjungi. Mereka melakukan swafoto, kemudian meng-upload ke berbagai media sosial.

Suasana semakin nyaman, karena saat ini sudah terdapat cafe-cafe yang menyediakan makanan dan minuman. Sayangnya, fasilitas umum lainnya, belum memadai di lokasi ini. Jaringan listrik juga belum tersambung. Begitu juga dengan sinyal ponsel yang relatif sulit.

Data Aceh. Hymne atau gita puja adalah sejenis nyanyian pujaan, biasanya pujaan ditujukan untuk Tuhan atau sesuatu yang dimuliakan. Selain sebagai pujaan hymne juga sebagai bentuk lagu untuk mendoakan, memberi kesan agung, atau pun rasa syukur yang disampaikan dalam bentuk lagu. Hymne juga diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan. Contoh lagu perjuangan yang berbentuk hymne antara lain, Syukur, Gugur Bunga, Mengheningkan Cipta dan lain sebagainya.

Hymne : Himne ialah sajak yang berisi pujian kepada Allah, tanah air sesorang atau sesuatu yang dimuliakan.biasanya hymne memiliki irama yang lambat


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Himne adalah suatu Nyanyian Pujian (yang ditujukan kepada Tuhan atau orang suci yang kita hormati), suatu Gita Puja. Sedangkan menurut Wikipedia Ensiklopedia, “A Hymn is a type of song, ussualy religious, specifically written for the purpose of praise, adoration or prayer, and typically addressed to a God or other religiously significan figure.”

Sesuai dengan amanah melalui MoU Helsinki, di Finlandia antara GAM dan Pemerintahan Indonesia tersebut terkait Hymne
1. Penyelenggaraan Pemerintahaan Aceh
1.1. Undang-undang tentang penyelenggaraaan Pemerintah Aceh
1.1.5 Aceh memiliki Hak menggunakan simbol-simbol Wilayah termasuk bendera, Lambang dan Hymne

Hal ini sebagai sarana untuk merepresentasikan keistimewaan dan kekhususan Aceh, sebagaimana dijelaskan secara ekplisit dalam UU tersebut. 

Pemerintah Aceh Melalui DPRA melaksanakan sayembara Lomba Hymne Aceh tersebut, 

Penetapan pemenang utama sayembara himne Aceh diumumkan DPRA melalui pengumuman resmi yang ditandatangani Ketua DPRA, Tgk Muharuddin melalui Harian Serambi Indonesia, Senin (11/12). Dalam pengumuman itu, panitia sayembara juga menyertakan lirik atau syair himne karya Mahrisal Rubi, berikut dengan partitur not baloknya.

Sebagaimana diketahui, total karya yang ikut berkompetisi dalam Sayembara Himne Aceh sebanyak 85 karya. Setelah dilakukan seleksi administrasi, presentasi, dan demonstrasi karya pada 27-28 November, dewan juri kemudian menetapkan tujuh nominasi pemenang, yakni Muslizar SPd, CIOFF Aceh (Aidi Kamal), Dandi Bachtiar, Moritza Thaher, Subur Dani, Mahrisal Rubi, dan Dr Ir Wesli MT.

Berikut syair Lirik Aceh Mulia


sumber Foto Serambi


Data Aceh. Nama aslinya Ahmad Permala, dia merupakan tokoh dari aliran Wujudiyah di Samudra Pasai. Raja Bakoy juga merupakan sahabat karib dengan Syekh Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar).

Ahmad Permala sempat menjadi “Mangkubumi” dengan gelar Maharaja Bakoy Ahmad Permala setelah Sultanah Nahrisyah Malikul Zahir mangkat pada hari senin tanggal 17 Dzulhijjah 831 H (1428 M) dan dikebumikan di dekat makam suaminya.

Aliran yang dibawa oleh Raja Bakoy berlawanan dengan aliran ahlusunnah wal jama’ah, bahkan ia pernah diperingatkan oleh ulama agar tidak mengawini puterinya sendiri, namun malah menentang dan membunuh 40 ulama. Ahmad Permala akhirnya mati dibunuh oleh Malik Musthafa yang bergelar Pocut Cindan Simpul Alam, suami dari Ratu Nahrisyah dengan bantuan dari Sultan Mahmud Alaiddin Johan Syah dari Kerajaan Aceh (1409-1465 M). “Silsilah Raja-Raja Islam di Aceh dan Hubungannya Dengan Raja-Raja Islam di Nusantara”

Menurut suatu riwayat yang diceritakan secara turun temurun bahwa raja Bakoy adalah orang biasa dari kalangan rakyat jelata. Dia berasal dari Gampong Bakoy di Kutaraja. Ihwal dia menjadi raja semuanya adalalah setelah Sultan Zainal Abidin mangkat, Nahrisyah yang kala itu sudah diangkat menjadi Sultanah membuat sayembara.

Dia menuliskan pada sebuah pamflet yang dipasang di tepi pantai Pase. Di dalam pengumumannya itu, Sultanah berkehendak siapapun yang bisa mengalahkan raja Nagor dari Polisigli akan dijadikan sebagai Maharaja dan dijadikan sebagai suami Sultanah. Melihat pengumuman itu, Ahmad Permandala-Permandala beserta abangnya yang bernama Ibrahim Papa menjadi tertarik. Kemudian kakak-beradik ini menuju negeri Polisigli untuk membunuh raja Nagor.

Usaha mereka berhasil. Kemudian diangkatlah Ahmad Permandala menjadi maharaja mendampingi Sultanah Nahrisyah. Dalam perjalanan sejarah, Nahrisyah kemudian bertahta sampai tahun 1427 M. Menjelang dia mangkat, saat-saat terakhir Nahrisyah sempat menitipkan sebuah cincin kepada Bakoy sambil berpesan, "Kanda, bila kelak aku kembali kepangkuan Ilahi, berikanlah cincin ini kepada siapapun yang bisa memakainya dengan pas. Bila orang itu engkau temukan maka jadikanlah dia sebagai istrimu."

Raja Bakoy menyanggupi pesan terakhir dari sang Sultanah. Maka setelah Nahrisyah mangkat dan semua bentuk peringatan kematian usai digelar, maka Raja Bakoy langsung membuat sayembara itu. Tahap pertama adalah semua janda yang ada dinegeri Pase diundang untuk mengikuti sayembara itu. Siapapun yang bisa memakai cincin peninggalan Nahrisyah dengan pas sekali, maka akan dijadikan istri raja. Namun tak satupun janda yang punya jari manis yang sesuai dengan cincin itu.

Sayembara kedua pun digelar. Kali ini diperuntukkan buat gadis-gadis diseluruh penjuru negeri. Hal yang sama juga kembali terjadi. Tak ada satupun jari manis mereka yang sesuai dengan lubang cincin. Terakhir kali yang mencobanya adalah putri raja sendiri yang bernama Ganggang Sari. Raja terhenyak. Tak pernah disangkanya akan seperti itu. Akhirnya diam-diam dia mencari hukum kepada ulama agar diperbolehkan dirinya menikahi putrinya sendiri.

Untuk memenuhi keinginannya itu, Raja Bakoy mengumpulkan sebanyak 44 orang ulama di sebuah mesjid. kemudian dia mengutarakan semua permasalahan yang sedang dihadapi, termasuk wasiat dari sang Sultanah. Namun tak satupun ulama yang membenarkan sang raja menikahi putrinya sendiri. Raja marah. Lalu dia mengatakan tamsilan kepada para ulama seperti ini," Jikalau ada seseorang yang menanam sebatang pisang, kemudian berbuah dan matang, siapakah yang pertama sekali akan memakannya?

Para ulama menjawab, "Pemiliknya yang terlebih dahulu memakannya."
"Lalu bagaimana dengan Ganggang Sari?" tanya raja. Semua ulama diam. Terakhir mereka tetap tidak membenarkan raja mengawini anaknya sendiri. Akhirnya dengan sangat murka dia membunuh semua ulama yang hadir pada waktu itu.

Kemudian dia kembali menemui salah seorang ulama yang tinggal di Paya Terbang yang bernama Tgk. Razali. Ditempat ini juga dia tidak menemukan jawaban. Tgk. Razali meminta raja untuk kembali keesokan harinya. Sepeninggal raja, Tgk. Razali berzikir kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk menerbangkan tanah tempat dia mendirikan rumah. Keesokan harinya setibanya raja ditempat itu Tgk. razali dan pertapakan tempat dia tinggal sudah tidak ada lagi, yang ditemukan hanya bekas tanah yang seperti kolam.

Info tentang keinginan raja untuk mengawini putrinya sendiri pun merebak ditengah-tengah masyarakat. Ganggang Sari malu luar biasa. Ibrahim Papa kemudian membawa lari sang putri untuk menghindari keinginan gila ayahnya. Dipelarian itulah Ganggang Sari bunuh diri dengan cara minum racun akibat tak sanggup menanggung malu yang teramat sangat.

Menurut riwayat pula bahwa Pusara Raja Bakoy berada satu kompleks dengan Kompleks Makam Sultanah Nahrisyah yaitu di komplek makam Raja-Raja Pasai. Makam Raja Bakoi terus memendek sejak dikuburkan dan menyisakan panjang sekitar 70 cm.

Lokasi makam berada setengah kilometer dari Makam Sultan Malikussaleh yang berada di mulut pintu masuk ke cagar budaya Samudera Pasai. Di sekitar makam itu juga dulunya adalah lokasi yang dulunya istana Kerajaan Pasai. Sayang sekali, wujud fisik bangunan yang berada persis di bibir pantai Lhok Seumawe itu tak lagi bisa dinikmati.

Kawasan itu sudah beralih fungsi menjadi lahan pertambakan. Menurut Yakub, bangunan istana kesultanan sebagian besar terdiri atas kayu. Bekas-bekas fondasi dari batu bata merah masih terlihat di atas tanah tempat berdirinya kerajaan.

Di atas tanah seluas lebih dari lima hektar itu, aura kebesaran kerajaan masih sangat terasa.

Di lokasi itu juga terdapat makam Peut Ploh Peut (44), ulama yang meninggal karena dieksekusi Raja Bakoi, salah satu raja di Pasai. Akibat tindakannya yang sewenang-wenang, rakyat menjuluki dia Raja Bakoi, yang menurut masyarakat setempat berarti pelit.

Harga Emas Terkini