![]() |
| Teuku Umar |
Data Aceh. Gelar Strata Sosial di Aceh telah digunakan sejak zaman Kerajaan Aceh hingga Kini, Gelar-Gelar social tersebut tidak digunakan sembarangan oleh seluruh lapisan masyarakat Aceh. Terdapat banyak gelar-gelar suku / bangsawan Aceh di antaranya:
1. Cut
Cut adalah salah satu gelar kebangsawanan di Aceh yang diperuntukkan untuk kaum perempuan. Gelar ini diturunkan sampai ke anak cucunya jika perempuan bangsawan tersebut menikah dengan laki-laki dari kalangan bangsawan juga, yang lazim disebut dengan “Teuku”.
2. Haria Peukan
Haria Peukan adalah pejabat adat yang mengatur ketertiban, kebersihan pasar dan pengutip retribusi dalam masyarakat adat Aceh.
3. Imum Mukim
Imum Mukim adalah orang yang dipercayakan untuk mengurusi masalah keagamaan pada tingkat pemerintahan mukim (pemerintahan mukim terdiri dari beberapa gampoeng), yang bertindak sebagai imam sembahyang pada setiap hari Jumat di sebuah mesjid pada wilayah mukim yang bersangkutan.
4. Laksamana
Laksamana adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Melayu, yaitu panglima tertinggi di laut. Seperti halnya digunakan pada masa Sultan Iskandar Muda (1593-1636), di Kesultanan Samudera Pasai (Aceh) yang memiliki seorang panglima angkatan laut perempuan bernama Laksamana Malahayati. Hang Tuah, yang diduga berasal dari Kepulauan Riau, dihikayatkan dalam Sastra Melayu menjadi seorang laksamana di Kerajaan Malaka pada abad ke-14.
5. Meurah
Meurah adalah gelar raja-raja di Aceh sebelum datangnya agama Islam. Dalam bahasa Gayo disebut Marah, seperti Marah Silu yang merupakan pendiri kerajaan Samudera Pasai. Contoh lainnya adalah putra Sultan Iskandar Muda digelari dengan Meurah Pupok. Setelah datangnya agama Islam, setiap raja Aceh berganti gelar menjadi Sultan.
6. Panglima Laôt
Panglima Laôt (atau Panglima Laut) merupakan suatu struktur adat di kalangan masyarakat nelayan di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang bertugas memimpin persekutuan adat pengelola Hukôm Adat Laôt. Hukôm Adat Laôt dikembangkan berbasis syariah Islam dan mengatur tata cara penangkapan ikan di laut (meupayang), menetapkan waktu penangkapan ikan di laut, melaksanakan ketentuan-ketentuan adat dan mengelola upacara-upacara adat kenelayanan, menyelesaikan perselisihan antar nelayan serta menjadi penghubung antara nelayan dengan penguasa (dulu uleebalang, sekarang pemerintah daerah).
7. Panglima Uteun
Tradisi pengelolaan hutan yang arif bijaksana telah dipraktekkan secara turun temurun dalam masyarakat Aceh. Hal ini diselenggarakan melalui lembaga adat uteun yang dipimpin oleh Panglima Uteun. Panglima Uteun merupakan unsur pemerintahan mukim yang bertanggungjawab kepada Imum Mukim. Khazanah adat budaya ini masih melekat dalam kehidupan sebagian masyarakat Aceh sebagai sebuah kearifan lokal yang masih ada terutama pada kemukiman yang wilayahnya berdekatan dengan kawasan hutan.
8. Peutua Seuneubok
Peutua Seuneubok adalah ketua adat yang mengatur tentang pembukaan hutan, perladangan, perkebunan pada wilayah gunung, lembah-lembah dan menyelesaikan sengketa perebutan lahan dalam masyarakat adat Aceh.
9. Qadli
Qadli (kadli) adalah orang yang dipercayakan untuk memimpin pengadilan agama atau yang dipandang mengerti mengenai hukum agama pada tingkat kerajaan dan juga pada tingkat Nanggroe (negeri) yang disebut Kadli Uleebalang.
10. Syahbandar
Syahbandar adalah pejabat adat yang mengatur urusan kepelabuhanan, tambatan kapal/perahu, lalu lintas angkutan laut, sungai dan danau dalam masyarakat adat Aceh.
11. Syarifah
Syarifah merupakan salah satu gelar kehormatan yang diberikan kepada orang-orang yang merupakan bagian dari keturunan Nabi Muhammad SAW melalui cucu beliau, Hasan bin Ali dan Husain bin Ali, yang merupakan anak dari anak perempuan Nabi Muhammad SAW, Fatimah az-Zahra dan menantunya Ali bin Abi Thalib.
Untuk keturunan wanita mendapatkan gelar berupa Syarifah atau ada juga yang menyebutnya Sayyidah, Alawiyah atau Sharifah. Gelar Syarifah juga banyak kita temui di Aceh dan hampir di setiap kabupaten kota di Aceh.
12. Teuku
Teuku adalah gelar ningrat atau bangsawan untuk kaum pria suku Aceh yang memimpin wilayah nanggroe atau kenegerian. Teuku adalah seorang hulubalang atau ulee balang dalam bahasa Acehnya. Sama seperti tradisi budaya patrilineal lainnya, gelar Teuku dapat diperoleh seorang anak laki-laki, bilamana ayahnya juga bergelar Teuku. Seorang Teungku dapat pula berubah menjadi Teuku, apabila ia dialihkan dari jabatan keagamaan ke jabatan pemerintahan atau sebaliknya. Ada juga yang memakai 2 gelar sekaligus, misalnya Teungku Chik atau Teuku Pakeh. Chik dan Pakeh berarti Teuku. Istilah Ampon diberikan kepada mereka yang peranan atau jabatannya lebih menonjol dari Teuku-Teuku lainnya, gelar ini juga diturunkan. Banyak kekeliruan serta kesalah pahaman rakyat Indonesia dalam melafalkan atau menulis nama-nama tokoh Aceh, contohnya kesalahan dalam membedakan siapa yang Teuku dan Teungku, contoh:
Teuku Umar, bukan Teungku Umar
Teungku Chik Di Tiro, bukan Teuku Chik Di Tiro
13. Teungku
Teungku di Aceh, menurut Snouck Hurgrunje (1985), dipergunakan untuk beberapa orang:
Pertama, sebutan untuk para leube atau leubei (lebai atau santri). Sebutan untuk kategori ini, juga termasuk untuk golongan yang bukan ulama, namun ia tekun melakukan ibadah maupun seorang haji yang telah menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekkah.
Kedua, panggilan untuk orang malem. Malem berasal dari bahasa Arab, asal kata mualim, yang artinya guru. Orang yang disebut malem, memiliki pengetahuan mengenai kitab-kitab keagamaan, kalau di gampong-gampong umumnya kitab kuning. Teungku juga diperuntukkan bagi seorang alem (asal kata alim, bahasa Arab, berarti orang yang berilmu) yang telah melengkapi pendidikan agamanya.
Ketiga, panggilan teungku juga diperuntukkan untuk pria dan wanita yang memberi pengajaran dasar mengaji Al-Qur’an, baik di meunasah maupun di dayah. Biasanya, pengajaran dasar mengaji Al-Qur’an di gampong-gampong dilaksanakan sejak habis dzuhur sampai ashar, dan habis ashar sampai magrib.
Keempat, teungku juga dimaksudkan sebagai panggilan untuk kadhi (kali) yang bertindak sebagai hakim agama dalam wilayah uleebalang. Sebutan terakhir ini sudah jarang ditemui, kecuali beberapa orang yang sudah cukup tua, yang memang pernah menjadi hakim agama masa dahulu.
14. Teungku Meunasah
Teungku Meunasah adalah orang yang dipercayakan untuk memimpin masalah-masalah yang berhubungan dengan keagamaan pada satu unit pemerintah Gampong (kampung).
1. Cut
Cut adalah salah satu gelar kebangsawanan di Aceh yang diperuntukkan untuk kaum perempuan. Gelar ini diturunkan sampai ke anak cucunya jika perempuan bangsawan tersebut menikah dengan laki-laki dari kalangan bangsawan juga, yang lazim disebut dengan “Teuku”.
2. Haria Peukan
Haria Peukan adalah pejabat adat yang mengatur ketertiban, kebersihan pasar dan pengutip retribusi dalam masyarakat adat Aceh.
3. Imum Mukim
Imum Mukim adalah orang yang dipercayakan untuk mengurusi masalah keagamaan pada tingkat pemerintahan mukim (pemerintahan mukim terdiri dari beberapa gampoeng), yang bertindak sebagai imam sembahyang pada setiap hari Jumat di sebuah mesjid pada wilayah mukim yang bersangkutan.
4. Laksamana
Laksamana adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Melayu, yaitu panglima tertinggi di laut. Seperti halnya digunakan pada masa Sultan Iskandar Muda (1593-1636), di Kesultanan Samudera Pasai (Aceh) yang memiliki seorang panglima angkatan laut perempuan bernama Laksamana Malahayati. Hang Tuah, yang diduga berasal dari Kepulauan Riau, dihikayatkan dalam Sastra Melayu menjadi seorang laksamana di Kerajaan Malaka pada abad ke-14.
5. Meurah
Meurah adalah gelar raja-raja di Aceh sebelum datangnya agama Islam. Dalam bahasa Gayo disebut Marah, seperti Marah Silu yang merupakan pendiri kerajaan Samudera Pasai. Contoh lainnya adalah putra Sultan Iskandar Muda digelari dengan Meurah Pupok. Setelah datangnya agama Islam, setiap raja Aceh berganti gelar menjadi Sultan.
6. Panglima Laôt
Panglima Laôt (atau Panglima Laut) merupakan suatu struktur adat di kalangan masyarakat nelayan di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yang bertugas memimpin persekutuan adat pengelola Hukôm Adat Laôt. Hukôm Adat Laôt dikembangkan berbasis syariah Islam dan mengatur tata cara penangkapan ikan di laut (meupayang), menetapkan waktu penangkapan ikan di laut, melaksanakan ketentuan-ketentuan adat dan mengelola upacara-upacara adat kenelayanan, menyelesaikan perselisihan antar nelayan serta menjadi penghubung antara nelayan dengan penguasa (dulu uleebalang, sekarang pemerintah daerah).
7. Panglima Uteun
Tradisi pengelolaan hutan yang arif bijaksana telah dipraktekkan secara turun temurun dalam masyarakat Aceh. Hal ini diselenggarakan melalui lembaga adat uteun yang dipimpin oleh Panglima Uteun. Panglima Uteun merupakan unsur pemerintahan mukim yang bertanggungjawab kepada Imum Mukim. Khazanah adat budaya ini masih melekat dalam kehidupan sebagian masyarakat Aceh sebagai sebuah kearifan lokal yang masih ada terutama pada kemukiman yang wilayahnya berdekatan dengan kawasan hutan.
8. Peutua Seuneubok
Peutua Seuneubok adalah ketua adat yang mengatur tentang pembukaan hutan, perladangan, perkebunan pada wilayah gunung, lembah-lembah dan menyelesaikan sengketa perebutan lahan dalam masyarakat adat Aceh.
9. Qadli
Qadli (kadli) adalah orang yang dipercayakan untuk memimpin pengadilan agama atau yang dipandang mengerti mengenai hukum agama pada tingkat kerajaan dan juga pada tingkat Nanggroe (negeri) yang disebut Kadli Uleebalang.
10. Syahbandar
Syahbandar adalah pejabat adat yang mengatur urusan kepelabuhanan, tambatan kapal/perahu, lalu lintas angkutan laut, sungai dan danau dalam masyarakat adat Aceh.
11. Syarifah
Syarifah merupakan salah satu gelar kehormatan yang diberikan kepada orang-orang yang merupakan bagian dari keturunan Nabi Muhammad SAW melalui cucu beliau, Hasan bin Ali dan Husain bin Ali, yang merupakan anak dari anak perempuan Nabi Muhammad SAW, Fatimah az-Zahra dan menantunya Ali bin Abi Thalib.
Untuk keturunan wanita mendapatkan gelar berupa Syarifah atau ada juga yang menyebutnya Sayyidah, Alawiyah atau Sharifah. Gelar Syarifah juga banyak kita temui di Aceh dan hampir di setiap kabupaten kota di Aceh.
12. Teuku
Teuku adalah gelar ningrat atau bangsawan untuk kaum pria suku Aceh yang memimpin wilayah nanggroe atau kenegerian. Teuku adalah seorang hulubalang atau ulee balang dalam bahasa Acehnya. Sama seperti tradisi budaya patrilineal lainnya, gelar Teuku dapat diperoleh seorang anak laki-laki, bilamana ayahnya juga bergelar Teuku. Seorang Teungku dapat pula berubah menjadi Teuku, apabila ia dialihkan dari jabatan keagamaan ke jabatan pemerintahan atau sebaliknya. Ada juga yang memakai 2 gelar sekaligus, misalnya Teungku Chik atau Teuku Pakeh. Chik dan Pakeh berarti Teuku. Istilah Ampon diberikan kepada mereka yang peranan atau jabatannya lebih menonjol dari Teuku-Teuku lainnya, gelar ini juga diturunkan. Banyak kekeliruan serta kesalah pahaman rakyat Indonesia dalam melafalkan atau menulis nama-nama tokoh Aceh, contohnya kesalahan dalam membedakan siapa yang Teuku dan Teungku, contoh:
Teuku Umar, bukan Teungku Umar
Teungku Chik Di Tiro, bukan Teuku Chik Di Tiro
13. Teungku
Teungku di Aceh, menurut Snouck Hurgrunje (1985), dipergunakan untuk beberapa orang:
Pertama, sebutan untuk para leube atau leubei (lebai atau santri). Sebutan untuk kategori ini, juga termasuk untuk golongan yang bukan ulama, namun ia tekun melakukan ibadah maupun seorang haji yang telah menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekkah.
Kedua, panggilan untuk orang malem. Malem berasal dari bahasa Arab, asal kata mualim, yang artinya guru. Orang yang disebut malem, memiliki pengetahuan mengenai kitab-kitab keagamaan, kalau di gampong-gampong umumnya kitab kuning. Teungku juga diperuntukkan bagi seorang alem (asal kata alim, bahasa Arab, berarti orang yang berilmu) yang telah melengkapi pendidikan agamanya.
Ketiga, panggilan teungku juga diperuntukkan untuk pria dan wanita yang memberi pengajaran dasar mengaji Al-Qur’an, baik di meunasah maupun di dayah. Biasanya, pengajaran dasar mengaji Al-Qur’an di gampong-gampong dilaksanakan sejak habis dzuhur sampai ashar, dan habis ashar sampai magrib.
Keempat, teungku juga dimaksudkan sebagai panggilan untuk kadhi (kali) yang bertindak sebagai hakim agama dalam wilayah uleebalang. Sebutan terakhir ini sudah jarang ditemui, kecuali beberapa orang yang sudah cukup tua, yang memang pernah menjadi hakim agama masa dahulu.
14. Teungku Meunasah
Teungku Meunasah adalah orang yang dipercayakan untuk memimpin masalah-masalah yang berhubungan dengan keagamaan pada satu unit pemerintah Gampong (kampung).
mohon koreksi dan saran bila ada informasi/data yang salah!
![]() |
Data Aceh. Mi Caluk adalah makanan khas Aceh yang sering dijumpai pada pasar tradisional dan kawasan penjualan kuliner di wilayah Pidie Pidie dan Pidie Jaya. Sebagaimana namanya Mi Caluk merupakan makanan berbahan dasar utama Mi yang disajikan dengan siraman kuah kental saus cabai berbumbu kacang serta sedikit potongan sayur, irisan mentimun dan kerupuk. Penyajian mi caluk sedikit mirip dengan makanan Spageti (makanan Italia).
Setiap porsi mi caluk tidak terlalu banyak isinya, sehingga lebih tepat dijadikan makanan selingan. Demikian sederhananya makanan ini sehingga para penjual mi caluk seringkali kita temui menjajakan dagangannya dengan tempat seadanya tidak menempati bangunan khusus sebagaimana kebiasaan warung makanan dan minuman di Aceh.
Salah satu bukti mi caluk masih digemari oleh masyarakat Aceh bisa dilihat ada banyak tempat menjajakan kuliner khas Aceh ini yang mirip spageti ini. Terutama bulan ramadan, hampir di sepanjang ruas jalan di kota Banda Aceh menjual mie caluk untuk berbuka puasa.
Untuk anda yang gemar makan mi, silahkan mencoba mi caluk Aceh. Sajian mi ini bisa dibilang sebagai salah satu kuliner favorit masyarakat Aceh. Bahkan, begitu populernya mi ini, sampai-sampai disebut spaghetti Aceh. Uniknya, mi ini menggunakan bumbu kacang layaknya pecel. Bisa dibayangkan sensasi rasanya dalam tiap suapan. Kelembutan mi caluk berpadu dengan renyahnya kacang yang dicincang halus.
Sedapnya lagi, tak hanya bumbu kacang yang membuat ketagihan. Sentuhan bumbu rempah yang kuat memperkaya rasa mi caluk. Selain bumbu dengan campuran kacang seperti bumbu pecel, mi caluk juga menggunakan saus merah yang halus. Saus merah ini terbuat dari bawang merah, bawang putih, cabai dan merica.
Mi dalam mi caluk adalah jenis mi lidi. Disebut mi lidi karena bentuknya tidak membulat seperti helai mi pada umumnya, melainkan berbentuk persegi. Mi caluk juga ditaburi dengan sayuran seperti daun ubi dan cincangan daun kol. Pembuatannya, mi lidi direbus terlebih dahulu. Barulah kemudian kecap manis, kecap asin, dan sayuran dimasak. Terakhir mi lidi dicampurkan bersama bahan lain kemudian masak hingga matang.
Jika diperhatikan, makanan khas Aceh memang tidak terhitung, sebutlah kekarah, timpahan dan adee. Namun, mi caluk memang berbeda. Mi khas aceh yang kinikian mudah ditemukan di berbagai kota di Indonesia sama rasanya dengan mi caluk. Mi yang terkenal dari daerah Pidie ini memiliki citarasa yang tiada duanya. Mungkin di kota-kota lain di Aceh, mi Aceh tak susah dicari. Akan tetapi, tetap saja Mi caluk Pidie punya ciri khas tersendiri.
Setiap porsi mi caluk tidak terlalu banyak isinya, sehingga lebih tepat dijadikan makanan selingan. Demikian sederhananya makanan ini sehingga para penjual mi caluk seringkali kita temui menjajakan dagangannya dengan tempat seadanya tidak menempati bangunan khusus sebagaimana kebiasaan warung makanan dan minuman di Aceh.
Mi caluk ini menjadi makanan primadona di Aceh. Terutama yang lebih dikenal saat ini dengan mi caluk grong-grong, Kabupaten Pidie. Karena memang kuliner tradisional Aceh ini banyak dijajakan di pasar grong-grong lintasan Banda Aceh-Medan.
Salah satu bukti mi caluk masih digemari oleh masyarakat Aceh bisa dilihat ada banyak tempat menjajakan kuliner khas Aceh ini yang mirip spageti ini. Terutama bulan ramadan, hampir di sepanjang ruas jalan di kota Banda Aceh menjual mie caluk untuk berbuka puasa.
Untuk anda yang gemar makan mi, silahkan mencoba mi caluk Aceh. Sajian mi ini bisa dibilang sebagai salah satu kuliner favorit masyarakat Aceh. Bahkan, begitu populernya mi ini, sampai-sampai disebut spaghetti Aceh. Uniknya, mi ini menggunakan bumbu kacang layaknya pecel. Bisa dibayangkan sensasi rasanya dalam tiap suapan. Kelembutan mi caluk berpadu dengan renyahnya kacang yang dicincang halus.
Sedapnya lagi, tak hanya bumbu kacang yang membuat ketagihan. Sentuhan bumbu rempah yang kuat memperkaya rasa mi caluk. Selain bumbu dengan campuran kacang seperti bumbu pecel, mi caluk juga menggunakan saus merah yang halus. Saus merah ini terbuat dari bawang merah, bawang putih, cabai dan merica.
Mi dalam mi caluk adalah jenis mi lidi. Disebut mi lidi karena bentuknya tidak membulat seperti helai mi pada umumnya, melainkan berbentuk persegi. Mi caluk juga ditaburi dengan sayuran seperti daun ubi dan cincangan daun kol. Pembuatannya, mi lidi direbus terlebih dahulu. Barulah kemudian kecap manis, kecap asin, dan sayuran dimasak. Terakhir mi lidi dicampurkan bersama bahan lain kemudian masak hingga matang.
Jika diperhatikan, makanan khas Aceh memang tidak terhitung, sebutlah kekarah, timpahan dan adee. Namun, mi caluk memang berbeda. Mi khas aceh yang kinikian mudah ditemukan di berbagai kota di Indonesia sama rasanya dengan mi caluk. Mi yang terkenal dari daerah Pidie ini memiliki citarasa yang tiada duanya. Mungkin di kota-kota lain di Aceh, mi Aceh tak susah dicari. Akan tetapi, tetap saja Mi caluk Pidie punya ciri khas tersendiri.
![]() |
Data Aceh. Sudah menjadi tradisi menjelang berbuka puasa, masyarakat Aceh berbondong-bondong ke pasar takjil dadakan. Sejak pukul 16.00 WIB, semua pedagang makanan berbuka puasa mulai gelar lapak, sesuai dengan instruksi pemerintah Kota Banda Aceh.
Lokasi penjualan takjil berbuka puasa terdapat hampir di setiap sudut Kota Banda Aceh. Sepanjang jalan banyak dipadati pedagang. Namun ada satu lokasi yang terbilang sangat ramai dan lengkap menu makanan yang dijual.
Lokasi itu tak seberapa jauh dari dua kampus ternama di Banda Aceh, yaitu sekitar Kampus Unsyiah dan UIN Ar-Raniry. Tempat itu berada di Kompelma Darussalam, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, menjadi titik utama lokasi penjualan takjil.
Lokasinya pun berada di sekita yang disebut kota kota mahasiswa, mudah dijangkau dan sudah menjadi tradisi lokasi ini menjadi pusat penjualan menu berbuka puasa setiap Ramadan tiba.
Beragam makanan tersedia, kue kering, basah, minuman hingga makanan berat pun ada. Tentunya air kepala muda, dan es tebu turut tersedia di lokasi tersebut. Bisa dikatakan, warga banyak berbelanja ke Jalan Pulo Dibaroh ini karena semua tersedia.
Untuk harga pun terbilang relatif terjangkau. Makanan yang tersedia pun rata-rata makanan khas Aceh, seperti mi caluk, nasi goreng, mi goreng, sambal daun selada dan sejumlah makanan khas Aceh lainnya.
Untuk berbelanja di sini, warga tidak perlu harus berjalan kaki untuk membeli takjil, karena bisa langsung bawa kendaraan roda dua di samping pedagang.
Untuk jadwal penjualan takjil. Pemerintah Kota Banda Aceh telah mengeluarkan aturan bersama yang ditandatangani Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), bagi pedagang baru boleh berjualan selama bulan Ramadan dari pukul 16.00 WIB.
Selain itu, bagi pengelola rumah makan, hotel dilarang menyediakan makanan pada siang hari. Termasuk pengusaha biliar, play stasion, karaoke dan hiburan lainnya dilarang buka.
Demikian juga pengusaha salon dibolehkan membuka usaha dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Sedangkan warung kopi, saat pelaksanaan salat tarawih juga dilarang buka. Baru bisa beroperasi kembali setelah salat terawih dilaksanakan.
Dalam seruan bersama itu juga nonmuslim diminta dapat menghormati pelaksanaan ibadah puasa dalam rangka pembinaan toleransi dan kerukunan umat beragama, demi terwujudnya kesatuan dan persatuan bangsa.
Lokasi penjualan takjil berbuka puasa terdapat hampir di setiap sudut Kota Banda Aceh. Sepanjang jalan banyak dipadati pedagang. Namun ada satu lokasi yang terbilang sangat ramai dan lengkap menu makanan yang dijual.
Lokasi itu tak seberapa jauh dari dua kampus ternama di Banda Aceh, yaitu sekitar Kampus Unsyiah dan UIN Ar-Raniry. Tempat itu berada di Kompelma Darussalam, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, menjadi titik utama lokasi penjualan takjil.
Lokasinya pun berada di sekita yang disebut kota kota mahasiswa, mudah dijangkau dan sudah menjadi tradisi lokasi ini menjadi pusat penjualan menu berbuka puasa setiap Ramadan tiba.
Beragam makanan tersedia, kue kering, basah, minuman hingga makanan berat pun ada. Tentunya air kepala muda, dan es tebu turut tersedia di lokasi tersebut. Bisa dikatakan, warga banyak berbelanja ke Jalan Pulo Dibaroh ini karena semua tersedia.
Untuk harga pun terbilang relatif terjangkau. Makanan yang tersedia pun rata-rata makanan khas Aceh, seperti mi caluk, nasi goreng, mi goreng, sambal daun selada dan sejumlah makanan khas Aceh lainnya.
Untuk berbelanja di sini, warga tidak perlu harus berjalan kaki untuk membeli takjil, karena bisa langsung bawa kendaraan roda dua di samping pedagang.
Untuk jadwal penjualan takjil. Pemerintah Kota Banda Aceh telah mengeluarkan aturan bersama yang ditandatangani Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), bagi pedagang baru boleh berjualan selama bulan Ramadan dari pukul 16.00 WIB.
Selain itu, bagi pengelola rumah makan, hotel dilarang menyediakan makanan pada siang hari. Termasuk pengusaha biliar, play stasion, karaoke dan hiburan lainnya dilarang buka.
Demikian juga pengusaha salon dibolehkan membuka usaha dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Sedangkan warung kopi, saat pelaksanaan salat tarawih juga dilarang buka. Baru bisa beroperasi kembali setelah salat terawih dilaksanakan.
Dalam seruan bersama itu juga nonmuslim diminta dapat menghormati pelaksanaan ibadah puasa dalam rangka pembinaan toleransi dan kerukunan umat beragama, demi terwujudnya kesatuan dan persatuan bangsa.
![]() |
Data Aceh. Aceh terkenal dengan kekayaan dedauanannya. Berbagai daun selalu bisa diolah menjadi masakan yang lezat. Salah satunya yakni lalapan khas kota Serambi Mekkah itu, Sambai Oen Peugaga, yang sudah sangat jarang ditemui. Uniknya, sambal lalap ini dibuat dari 44 jenis daun-daunan.
Daun pegaga memiliki nama latin Centella Asiatica. Pegagan adalah tanaman liar yang sering tumbuh di perkebunan, ladang, pematang sawah, bahkan tepian jalan. Tumbuhan ini berasal dari kawasan Asia tropis seperti Indonesia, India, Tiongkok, dan Jepang. Di Indonesia, daun pegaga terdapat di beberapa daerah dengan nama khas masing-masing.
Daun pegaga memiliki nama latin Centella Asiatica. Pegagan adalah tanaman liar yang sering tumbuh di perkebunan, ladang, pematang sawah, bahkan tepian jalan. Tumbuhan ini berasal dari kawasan Asia tropis seperti Indonesia, India, Tiongkok, dan Jepang. Di Indonesia, daun pegaga terdapat di beberapa daerah dengan nama khas masing-masing.
Bukan sekedar daun, pegaga memiliki sejuta khasiat karena mengandung fitokimia dari golongan triterpenoid dan tanin. Gunanya, untuk anti inflamasi, penyembuh luka yang baik, peluruh kencing, penurun panas. dan melancarkan peredaran darah. Rasa daun pegagan manis dan bersifat mendinginkan.
Sambai Oen Peugaga kini mennjadi makanan langka di Indonesia, bahkan di Aceh sendiri. Padahal, dulunya lalapan itu selalu dicari saat Ramadan untuk menu buka puasa dan sahur. Selain rasanya yang nikmat dengan campuran pedasnya, Sambai Oen juga memiliki sejuta manfaat yang dihasilkan dari berbagai jenis daunnya. Saat ini, Sambai Oen pegaga masih bisa ditemukan di sekitaran Masjid Raya Baiturrahman, Aceh.
Proses memasaknya tak sembarangan. Salah langkah sedikit saja bisa menimbulkan bau kurang sedap yang menyengat, yang dihasilkan dari dedaunan. Sebelum dipotong-potong, semua dedaunan itu diuapkan terlebih dahulu minimal 5 menit. Lalu diremas kembali hingga kering sebelum dicampurkan dengan bumbu. Adapun bumbu yang digunakan adalah cabai, kelapa parut yang sudah disangrai, bawang merah, asam sunti, dan sedikit potongan udang.
Penggemar Sambai Oen Peugaga kebanyakan adalah orang-orang tua atau lansia. Dulu saat sambal lalap ini masih populer di Aceh, jarang ada masyarakat yang menderita penyakit-penyakit kronis. Sebanyak 44 jenis daun memiliki manfaatnya sendiri-sendiri yang baik bagi tubuh. Namun, kini Sambai Oen Peugaga tak lagi berbahan lengkap 44 daun. Sebab, beberapa bahan bakunya sulit ditemukan.
![]() |
| Add caption |
Data Aeh. Warga Kota Banda Aceh dan Aceh Besar menjadikan kue lemang bambu sebagai salah satu penganan favorit untuk berbuka pada bulan suci Ramadhan "Banyak warga menjadikan lemang bambu sebagai penganan favorit yang dihidangkan di meja makan saat berbuka puasa sehingga permintaannya meningkat selama bulan suci Ramadhan.
Permintaan kue yang terbuat dari beras ketan tersebut meningkat sekitar 30 persen di banding hari biasanya yang hanya mampu terjual 10-20 batang bambu/hari. Lemang bambu merupakan salah satu kue yang terbuat dari beras ketan yang dimasukkan ke bambu yang dijual dengan harga Rp15 ribu/batang sampai Rp60 ribu/perbatang. Harganya sesuai dengan ukuran batang bambu, jika bambunya panjang maka harganya lebih mahal.
Cara membuat leumang cukup mudah
Pertama Alasi bilah bambu dengan daun pisang yang telah tersedia, caranya gulung daun pisang, masukkan kedalam bilah bambu dengan penjepit dari bambu. Atur supaya seluruh permukaan bambu tertutup daun dan lebihkan sekitar 5 cm dari lubang permukaan bamboo, Masukan, ke dalam santan, garam, bawang putih. Masukkan ketan kedalam bambu sampai 3/4 penuh seperti membuat lontong, tuangkan santan kedalamnya, sampai 2 ruas jari diatas ketan. Tutup dan rapatkan kelebihan daun pada bagian atas yang terbuka, ikat kuat-kuat tepat diujung bambu. Kemudian bakar diatas bara api yang cukup besarnya, dengan meletakkan bambu kearah atas agak miring. |Putar sekali-kali agar matangnya merata. Pembakaran lemang selama kira-kira 6 jam. Setelah lemang matang, angkat dari api, biarkan sampai agak dingin. Belah bambunya dan keluarkan lemangnya, leumang siap disajikan.
Permintaan kue yang terbuat dari beras ketan tersebut meningkat sekitar 30 persen di banding hari biasanya yang hanya mampu terjual 10-20 batang bambu/hari. Lemang bambu merupakan salah satu kue yang terbuat dari beras ketan yang dimasukkan ke bambu yang dijual dengan harga Rp15 ribu/batang sampai Rp60 ribu/perbatang. Harganya sesuai dengan ukuran batang bambu, jika bambunya panjang maka harganya lebih mahal.
Kue lemang bambu tersebut dapat dijumpai ditempat pedagang penjual penganan berbuka di hampir setiap sudut Kota Banda Aceh.
Cara membuat leumang cukup mudah
Pertama Alasi bilah bambu dengan daun pisang yang telah tersedia, caranya gulung daun pisang, masukkan kedalam bilah bambu dengan penjepit dari bambu. Atur supaya seluruh permukaan bambu tertutup daun dan lebihkan sekitar 5 cm dari lubang permukaan bamboo, Masukan, ke dalam santan, garam, bawang putih. Masukkan ketan kedalam bambu sampai 3/4 penuh seperti membuat lontong, tuangkan santan kedalamnya, sampai 2 ruas jari diatas ketan. Tutup dan rapatkan kelebihan daun pada bagian atas yang terbuka, ikat kuat-kuat tepat diujung bambu. Kemudian bakar diatas bara api yang cukup besarnya, dengan meletakkan bambu kearah atas agak miring. |Putar sekali-kali agar matangnya merata. Pembakaran lemang selama kira-kira 6 jam. Setelah lemang matang, angkat dari api, biarkan sampai agak dingin. Belah bambunya dan keluarkan lemangnya, leumang siap disajikan.
![]() |
Data Aceh. Bagi masyarakat Aceh, kanji rumbi merupakan menu berbuka khusus di bulan Ramadhan. Hampir setiap desa di Aceh memasak kanji rumbi di meunasah, mesjid sebagai penganan berbuka puasa. Resep warisan leluhur ini abadi sampai sekarang.
Di kampung-kampung biasanya, anak-anak saban sore di bulan ramadhan membawa rantangan atau wadah dari plastik untuk menerima pembagian kanji rumbi yang di masak di meunasah atau mesjid mesjid. Mereka akan beramai-ramai membawa pulang ke rumah untuk disantap bersama keluarga kala waktu berbuka puasa tiba.
Kanji Rumbi merupakan makanan sejenis bubur yang di campur rempah-rempah khas Aceh seperti merica, adas manis, jahe, pala, kayu manis, cengkeh, bunga lawang (pekak) ketumbar, kapulaga, sere, daun pandan, daun teumeuruy, daun sop (seledri), santan kelapa, bawang merah, bawang putih, garam, minyak goreng, udang, ayam, daging daging kalau diperlukan. Karena banyak bumbu kanji dikenal dengan menu 40 macam bumbu yang mempunyai citarasa yang eksostic, gurih dan terasa pedas.
Di kampung-kampung biasanya, anak-anak saban sore di bulan ramadhan membawa rantangan atau wadah dari plastik untuk menerima pembagian kanji rumbi yang di masak di meunasah atau mesjid mesjid. Mereka akan beramai-ramai membawa pulang ke rumah untuk disantap bersama keluarga kala waktu berbuka puasa tiba.
Kanji Rumbi merupakan makanan sejenis bubur yang di campur rempah-rempah khas Aceh seperti merica, adas manis, jahe, pala, kayu manis, cengkeh, bunga lawang (pekak) ketumbar, kapulaga, sere, daun pandan, daun teumeuruy, daun sop (seledri), santan kelapa, bawang merah, bawang putih, garam, minyak goreng, udang, ayam, daging daging kalau diperlukan. Karena banyak bumbu kanji dikenal dengan menu 40 macam bumbu yang mempunyai citarasa yang eksostic, gurih dan terasa pedas.
Selain lezat, Kanji rumbi juga memiliki khasiat bagi kesehatan. Rempah-rempah yang dicampur sebagai bagian dari bumbunya, dapat menjadi obat untuk manghangatkan badan, menghilangkan rasa masuk angin dalam tubuh. Maka tak salah, jika masyarakat Aceh senang menyantapnya sehabis berpuasa seharian.
Biaya untuk memasak kanji rumbi selama sebulan penuh dalam bulan Ramadhan ditanggung bersama bahu-membahu oleh warga. Jauh-jauh hari sebelum Ramdhan, para tetua kampung seperti teungku imum, tuha peut, tuha lapan dan tgk keuchik akan membuat rapat bersama warga untuk membentuk panitia kecil alias koki yang akan memasak kanji di dapur umum meunasah atau mesjid.
Di bulan puasa, selain memasak kanji di meunasah atau mesjid, warga juga setiap hari dijatahi membawa kue, untuk menambah menu berbuka puasa. Setiap hari bberapa rumah dijatahi menyediakan kue untuk di bawa ke meunasah. Penjatahan itu dilakukan bergilir dari beberapa kepala keluaraga di ujung kampung sampai ke ujung kampung satunya lagi. Sampai di akhir bulan puasa semua rumah berkesempatan beramal menyediakan makanan berbuka puasa di meunasah.
Data Aceh. Dikè adalah tradisi Aceh yang merupakan sya’ir. Dikè bisa diartikan berzikir. Ini adalah seba’it mukaddimah dike:
Astagfirullah ya Allah rabbal baraya
Wanastaqfirullah ya Allah minal khataya
Minkulli kulli sambin
Aqfir aqfir ya karim
Setiap bulan maulid, dikè selalu digelar di kampung-kampung di Aceh. Dikè berasal dari kata zikir dalam bahasa Arab. Dikè merupakan sejenis seni suara yang dilantunkan oleh anak-anak.
Satu kelompok diké biasanya berjumlah 30 sampai 50 anak laki-laki. Mereka dipimpin oleh empat sampai enam orang dewasa sebagai syeh. Syeh dikè harus mampu membangkitkan berbagai radat (irama) dalam melantunkan syair-syair dikè.
Syair dalam dikè berisikan pujian kepada Allah, serta doa-doa agar peringatan mauled nabi mendapat berkah. Selain itu juga berisikan sejarah perjuangan nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama islam. Sebagai variasi, dalam syair dikè juga dimasukkan kisah-kisah yang bertemakan tentang pendidikan dan tamsilan-tamsilan yang bermanfaat bagi kehidupan.
Awalnya syair-syair dalam dikè disampaikan dalam bahasa Arab dengan berbagai irama yang bervariasi. Belakangan, syair berbahasa Aceh juga dimasukkan, biasanya pada syair pengantar dan penutup dikè.
Para pemain dikè-selain syeh-menggunakan prék sebagai alat untuk membangkitkan irama dengan cara memukulnya ke lantai secara serentak. Pukulan disesuaikan dengan irama syair yang dibawakan oleh syeh. Prék terbuat dari lundang (pembungkus putik kelapa yang sudah kering) atau situéuk (pelepah pinang) yang dipotong sepanjang satu jengkal lebih dengan lebar dua jari. Karena itu pula dikè sering juga disebut meuprék.
Dikè dibagi dalam tiga babak. Pada babak pertama, pemain dikè duduk bersila di lantai meunasah (surau) tempat maulid diadakan. Mereka membentuk lingkaran bundar.
Setelah syeh membawa syair pengantar, langsung disambut oleh para pemain sambil mengayun bahu dan kepala secara serentak ke keiri dan kanan. Ayunan bahu dan kepala juga selaras dengan irama syair yang semakin lama semakin cepat.
Syair yang dilantunkan dengan suara melengking berpadu sengan irama prék di lantai merupakan sebuah keunikan tersendiri. Masyarakat biasanya datang ke meunasah untuk menyaksikan acara meudikè. Sementara para pemuda dan tetua kampung, sibuk menjamu para undangan dari berbagai desa yang hadir untuk menikmati suguhan kenduri maulid.
Pada babak kedua, para pemain yang duduk bersila tadi akan berdiri dan saling berpagang tangan kiri dan kanan. Posisi masih membentuk lingkaran bundar. Selanjutnya syeh akan melantunkan syair pembuka babak kedua, seperti:
Marhaban ya marhaban
Marhaban jattal husaini
Marhaban ya marhaban
Marhaban ya nurulaini
Huedlallah-huedlallah
Marhaban ya nurulaini
Masih seperti pada babak pertama, syair-syair itu akan diikuti oleh para pemain dikè. Sambil mengayunkan tangan yang berpagangan tadi ke depan dan belakang, dengan irama yang semakin lama semakin cepat. Hentakan tersebut membangkitkan irama lantai yang keras. Begitu seterusnya sampai berpuluh syair dilantunkan.
Babak kedua ini disebut dengan grup, yakni menghentakkan kaki ke lantai secara serentak dengan irama bervariasi. Akurasi derap telapak kaki yang serentak dan bervariasi tersebut merupakan sebuah keindahan tersendiri. Pada babak inilah puncak dari dikè. Setelah grup usai, para pemain akan kembali duduk seperti pada babak pertama. Gerakan pada babak ke tiga sama dengan babak pertama tapi lebih lembut. Biasanya satu pergelaran dikè menghabiskan waktu tiga sampai empat jam.
Untuk menghindari lelah para pemainnya, pada babak pertama diselingi dengan minum bersama dengan berbagai peganan yang dihidangkan. Setelah dikè berakhir baru dihidangkan nasi.
Dikè tidak pernah dimainkan di tempat terbuka. Ini erat kaitannya dengan makna dikè itu sendiri yang bermakna zikir. Dikè juga merupakan pergelaran musiman yang hanya dimainkan pada bulan maulid.
Astagfirullah ya Allah rabbal baraya
Wanastaqfirullah ya Allah minal khataya
Minkulli kulli sambin
Aqfir aqfir ya karim
Setiap bulan maulid, dikè selalu digelar di kampung-kampung di Aceh. Dikè berasal dari kata zikir dalam bahasa Arab. Dikè merupakan sejenis seni suara yang dilantunkan oleh anak-anak.
Satu kelompok diké biasanya berjumlah 30 sampai 50 anak laki-laki. Mereka dipimpin oleh empat sampai enam orang dewasa sebagai syeh. Syeh dikè harus mampu membangkitkan berbagai radat (irama) dalam melantunkan syair-syair dikè.
Syair dalam dikè berisikan pujian kepada Allah, serta doa-doa agar peringatan mauled nabi mendapat berkah. Selain itu juga berisikan sejarah perjuangan nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama islam. Sebagai variasi, dalam syair dikè juga dimasukkan kisah-kisah yang bertemakan tentang pendidikan dan tamsilan-tamsilan yang bermanfaat bagi kehidupan.
Awalnya syair-syair dalam dikè disampaikan dalam bahasa Arab dengan berbagai irama yang bervariasi. Belakangan, syair berbahasa Aceh juga dimasukkan, biasanya pada syair pengantar dan penutup dikè.
Para pemain dikè-selain syeh-menggunakan prék sebagai alat untuk membangkitkan irama dengan cara memukulnya ke lantai secara serentak. Pukulan disesuaikan dengan irama syair yang dibawakan oleh syeh. Prék terbuat dari lundang (pembungkus putik kelapa yang sudah kering) atau situéuk (pelepah pinang) yang dipotong sepanjang satu jengkal lebih dengan lebar dua jari. Karena itu pula dikè sering juga disebut meuprék.
Dikè dibagi dalam tiga babak. Pada babak pertama, pemain dikè duduk bersila di lantai meunasah (surau) tempat maulid diadakan. Mereka membentuk lingkaran bundar.
Setelah syeh membawa syair pengantar, langsung disambut oleh para pemain sambil mengayun bahu dan kepala secara serentak ke keiri dan kanan. Ayunan bahu dan kepala juga selaras dengan irama syair yang semakin lama semakin cepat.
Syair yang dilantunkan dengan suara melengking berpadu sengan irama prék di lantai merupakan sebuah keunikan tersendiri. Masyarakat biasanya datang ke meunasah untuk menyaksikan acara meudikè. Sementara para pemuda dan tetua kampung, sibuk menjamu para undangan dari berbagai desa yang hadir untuk menikmati suguhan kenduri maulid.
Pada babak kedua, para pemain yang duduk bersila tadi akan berdiri dan saling berpagang tangan kiri dan kanan. Posisi masih membentuk lingkaran bundar. Selanjutnya syeh akan melantunkan syair pembuka babak kedua, seperti:
Marhaban ya marhaban
Marhaban jattal husaini
Marhaban ya marhaban
Marhaban ya nurulaini
Huedlallah-huedlallah
Marhaban ya nurulaini
Masih seperti pada babak pertama, syair-syair itu akan diikuti oleh para pemain dikè. Sambil mengayunkan tangan yang berpagangan tadi ke depan dan belakang, dengan irama yang semakin lama semakin cepat. Hentakan tersebut membangkitkan irama lantai yang keras. Begitu seterusnya sampai berpuluh syair dilantunkan.
Babak kedua ini disebut dengan grup, yakni menghentakkan kaki ke lantai secara serentak dengan irama bervariasi. Akurasi derap telapak kaki yang serentak dan bervariasi tersebut merupakan sebuah keindahan tersendiri. Pada babak inilah puncak dari dikè. Setelah grup usai, para pemain akan kembali duduk seperti pada babak pertama. Gerakan pada babak ke tiga sama dengan babak pertama tapi lebih lembut. Biasanya satu pergelaran dikè menghabiskan waktu tiga sampai empat jam.
Untuk menghindari lelah para pemainnya, pada babak pertama diselingi dengan minum bersama dengan berbagai peganan yang dihidangkan. Setelah dikè berakhir baru dihidangkan nasi.
Dikè tidak pernah dimainkan di tempat terbuka. Ini erat kaitannya dengan makna dikè itu sendiri yang bermakna zikir. Dikè juga merupakan pergelaran musiman yang hanya dimainkan pada bulan maulid.
![]() |
Data Aceh. Tari Bines merupakan salah satu seni tari di Gayo Lues yang ditarikan hanya oleh sekelompok perempuan atau gadis. Tidak ada yang bisa mengartikan kata Bines itu sendiri. Bines sendiri disebut tari dikarenakan memiliki gerak ritmis yang mengikuti ekspresi jiwa para penarinya.
Berikut beberapa cerita rakyat mengenai asal usul tari Bines :
1. Cerita Rakyat “Ni Malelang Ode”
Alkisah ada seorang ibu yang mempunyai putri yang sangat disayangi, bernama Ni Malelang Ode.Namun karena telah berbuat zina dengan seorang pemuda di desanya, masyarakat yang merasa malu dan terkena aib, memutuskan untuk menghukum mati gadis tersebut.Sang Ibu melihat kenyataan itu, sangat sedih hatinya.Sebelum dimakamkan, setiap kali terlihat ibu menangis meratapi jenasah anaknya sambil meratap memilukan hati bagi siapapun yang mendengarnya.Berkali kali tangannya menggoyangkan jenasah itu seolah – olah ingin membangunkannya dan sesekali menghentakkan kakinya.Keadaan itu menimbulkan simpati para tetangganya dan mereka berkumpul di dekat jenasah serayamenghibur hati sang ibu. Dari adegan tersebut, dalam tari Bines terdapat syair yang berisi ratapan yang bernuansa sedih serta gerak menghentakkan kaki yang diadopsi dari kejadian itu.
2. Cerita rakyat “Ibu yang kehilangan putra satu-satunya”
Versi asal mula tari Bines lainnya, adalah kisah tentang seorang ibu yang mempunyai 7 anak, 6 anak perempuan dan 1 laki-laki.Mereka bertujuh saudara sangat akrab dan saling menyayangi. Pada suatu hari oleh karena salah satu sebab, maka putra semata wayangnya itu meninggal dunia. Begitu cintanya kepada saudara laki2 nya itu, 6 gadis itu setiap malam secara bersama sama mengelilingi jenasah sambil menangis meratapi kepergiannya.Ratapannya itu terdengar indah meskipun memilukan. Formasi duduk mereka ketika meratap, persis dengan formasi dasar tariBines, yaitu dua di atas kepala, 2 di samping kanan dan 2 di samping kiri.Situasi itu terlihat oleh seorang ulama penyebar agama Islam di daerah itu, yakni Syekh Abdul Karim.Dengan penuh kearifan dan kelembutan beliau mengingatkan bahwa meratapi orang yang sudah meninggal itu bertentangan dengan ajaran Islam, dan sebaiknya syair ratapan itu akan lebih baik jika diperdengarkan bagi yang hidup. Maka sejak saat itu dalam tari Bines terdapat syair ratapan, dan gerak menelungkup. Namun dalam perkembangannya syair ratapan tersebut mulai ditinggalkan.
3. Cerita Rakyat Tentang ” Gajah Putih ”
Cerita rakyat ke 3 yang beredar di tengah masyarakat Gayo sebagai cikal bakal adanya Tari Bines , adalah tentang kisah Gajah Putih. Alkisah pada suatu hari di alun-alun kerajaan yang diperintah oleh Raja Lingge terlihat ada seekor gajah putih mengamuk mengobrak -abrik bangunan disekitarnya.Tidak ada seorangpun yang mampu menundukkannya.Maka salah seorang putra Raja Linnge yang bernama Sengeda memberanikan diri mohon kepada ayahnda agar diijinkan menaklukkan amukan gajah itu. Atas ijin sang raja, mulailah dijalankan siasatnya.Sebenarnya Sengeda sudah tahu bahwa Gajah Putih itu adalah jelmaaan Bener Meriah kakak kandungnya yang sudah lama diasingkan karena fitnah teman-temannya.
Semua orang yang semula mengeroyok gajah putih tersebut diminta untuk mundur dan menghentikan serangannya.Sebagai gantinya dibunyikanlah alat-alat musik seperti rebana, canang, dan gong. Sedangkan para ibu membunyikan musik lesung secara serentak. Demi mendengar bunyi tetabuhan itu sang gajah yang semula bersikap garang berangsur-angsur tenang. Selanjutnya Sengeda memerintahkan tigapuluh pemuda membentuk formasi setengah lingkaran mengelilingi gajah sembari bertepuk tangan dengan irama yang beraturan dan melantunkan puji-pujian atas sifat baik Bener Meriah.Dengan gerak perlahan, Sengeda menari dihadapan gajah, sehingga merangsang gajah ikut bergerak maju mundur berirama. Menurut cerita tutur, gerak itulah yang melahirkan tari Bines.
Berikut beberapa cerita rakyat mengenai asal usul tari Bines :
1. Cerita Rakyat “Ni Malelang Ode”
Alkisah ada seorang ibu yang mempunyai putri yang sangat disayangi, bernama Ni Malelang Ode.Namun karena telah berbuat zina dengan seorang pemuda di desanya, masyarakat yang merasa malu dan terkena aib, memutuskan untuk menghukum mati gadis tersebut.Sang Ibu melihat kenyataan itu, sangat sedih hatinya.Sebelum dimakamkan, setiap kali terlihat ibu menangis meratapi jenasah anaknya sambil meratap memilukan hati bagi siapapun yang mendengarnya.Berkali kali tangannya menggoyangkan jenasah itu seolah – olah ingin membangunkannya dan sesekali menghentakkan kakinya.Keadaan itu menimbulkan simpati para tetangganya dan mereka berkumpul di dekat jenasah serayamenghibur hati sang ibu. Dari adegan tersebut, dalam tari Bines terdapat syair yang berisi ratapan yang bernuansa sedih serta gerak menghentakkan kaki yang diadopsi dari kejadian itu.
2. Cerita rakyat “Ibu yang kehilangan putra satu-satunya”
Versi asal mula tari Bines lainnya, adalah kisah tentang seorang ibu yang mempunyai 7 anak, 6 anak perempuan dan 1 laki-laki.Mereka bertujuh saudara sangat akrab dan saling menyayangi. Pada suatu hari oleh karena salah satu sebab, maka putra semata wayangnya itu meninggal dunia. Begitu cintanya kepada saudara laki2 nya itu, 6 gadis itu setiap malam secara bersama sama mengelilingi jenasah sambil menangis meratapi kepergiannya.Ratapannya itu terdengar indah meskipun memilukan. Formasi duduk mereka ketika meratap, persis dengan formasi dasar tariBines, yaitu dua di atas kepala, 2 di samping kanan dan 2 di samping kiri.Situasi itu terlihat oleh seorang ulama penyebar agama Islam di daerah itu, yakni Syekh Abdul Karim.Dengan penuh kearifan dan kelembutan beliau mengingatkan bahwa meratapi orang yang sudah meninggal itu bertentangan dengan ajaran Islam, dan sebaiknya syair ratapan itu akan lebih baik jika diperdengarkan bagi yang hidup. Maka sejak saat itu dalam tari Bines terdapat syair ratapan, dan gerak menelungkup. Namun dalam perkembangannya syair ratapan tersebut mulai ditinggalkan.
3. Cerita Rakyat Tentang ” Gajah Putih ”
Cerita rakyat ke 3 yang beredar di tengah masyarakat Gayo sebagai cikal bakal adanya Tari Bines , adalah tentang kisah Gajah Putih. Alkisah pada suatu hari di alun-alun kerajaan yang diperintah oleh Raja Lingge terlihat ada seekor gajah putih mengamuk mengobrak -abrik bangunan disekitarnya.Tidak ada seorangpun yang mampu menundukkannya.Maka salah seorang putra Raja Linnge yang bernama Sengeda memberanikan diri mohon kepada ayahnda agar diijinkan menaklukkan amukan gajah itu. Atas ijin sang raja, mulailah dijalankan siasatnya.Sebenarnya Sengeda sudah tahu bahwa Gajah Putih itu adalah jelmaaan Bener Meriah kakak kandungnya yang sudah lama diasingkan karena fitnah teman-temannya.
Semua orang yang semula mengeroyok gajah putih tersebut diminta untuk mundur dan menghentikan serangannya.Sebagai gantinya dibunyikanlah alat-alat musik seperti rebana, canang, dan gong. Sedangkan para ibu membunyikan musik lesung secara serentak. Demi mendengar bunyi tetabuhan itu sang gajah yang semula bersikap garang berangsur-angsur tenang. Selanjutnya Sengeda memerintahkan tigapuluh pemuda membentuk formasi setengah lingkaran mengelilingi gajah sembari bertepuk tangan dengan irama yang beraturan dan melantunkan puji-pujian atas sifat baik Bener Meriah.Dengan gerak perlahan, Sengeda menari dihadapan gajah, sehingga merangsang gajah ikut bergerak maju mundur berirama. Menurut cerita tutur, gerak itulah yang melahirkan tari Bines.
![]() |
Data Aceh. Tari Bines merupakan tarian tradisional yang berasal dari kabupaten Gayo Lues. Tarian ini muncul dan berkembang di Aceh Tengah namun kemudian dibawa ke Aceh Timur. Menurut sejarah tarian ini diperkenalkan oleh seorang ulama bernama Syech Saman dalam rangka berdakwah.Tari ini ditarikan oleh para wanita dengan cara duduk berjajar sambil menyanyikan syair yang berisikan dakwah atau informasi pembangunan. Para penari melakukan gerakan dengan perlahan kemudian berangsur-angsur menjadi cepat dan akhirnya berhenti seketika secara serentak.
Tari ini juga merupakan bagian dari Tari Saman saat penampilannya. Hal yang menarik dari tari Bines adalah beberapa saat mereka diberi uang oleh pemuda dari desa undangan dengan menaruhnya di atas kepala perempuan yang menari.
Tari ini juga merupakan bagian dari Tari Saman saat penampilannya. Hal yang menarik dari tari Bines adalah beberapa saat mereka diberi uang oleh pemuda dari desa undangan dengan menaruhnya di atas kepala perempuan yang menari.
Tari Bines biasanya di akhir acara akan di adakan pengambilan bunga dari kepala yang di sebut orang gayo adalah Nuet Tajuk waktu pengambilan bunga para penari bines biasanya diberikan uang sebagai ganti bunganya, ini merupakan sebagai harga untuk bunga tersebut.
Tari Bines merupakan tradisi berkesenian para perempuan Gayo Lues yang memang tidak diperbolehkan menari Saman yang keras dan dinamis. sebagai gantinya diciptakan tari yang cocok dengan jiwa dan karakter perempuan yang lebih lembut dan anggun. Beberapa unsur yang melekat pada tari Bines dan tidak bisa dipisahkan, yaitu penari, gerak tari, syair, penangkat, dan busana tari. Jumlah penari pada umumnya berjumlah genap bisa 6, 8,10, 12 hingga 16 orang. Mereka membawakan ragam gerak yang sama dan dilakukan secara serempak dari awal hingga akhir. Adapun ragam gerak yang biasa ditampilkan secara garis besar dapat disebutkan di sini, antara lain : Surang saring: dimaksudkan bahwa dari awal hingga akhir tarian ini dibawakan secara serempak dengan ragam gerak yang tidak berbeda antara penari satu dengan yang lain; Alih: gerak tangan yang berubah dari tepuk tangan ke gerak tangan yang lain; Langkah: gerak langkah untuk membentuk pola lantai huruf U dan berbanjar; Tepok: bertepuk tangan ; Kertek: gerakan petik jari.
Busana tari Bines sejak dahulu sampai sekarang tidak banyak berubah karena terikat dengan pakem.Seperti halnya dengan tarian tradisi pada umumnya busana tari menjadi salah satu bagian yang sangat dipegang teguh agar terjaga “keasliannya”. Dari busana tari yang dikenakan oleh para penari menunjukkan ciri dan identitas daerah yang memudahkan penonton bisa dengan mudah dapat mengenalinya. Untuk itulah biasanya busana tari tradisi yang ada tetap dipertahankan. Adapun busana tari Bines terdiri atas :
Baju Lukup bermotif tabur, atau disebut Baju Tabur; Kain Sarung; Kain Panjang atau Upuh Kerawang dengan dihias Renggiep di pinggirnya; Sanggul yang dihiasi daun kepies.Bisa juga diganti dengan daun bambu , daun pandan. Bahkan tidak jarang dengan hiasan kepala berwarna-warni; Hiasan leher berupa Belgong; Ikat Pinggang berupa Genit Rante yang dihiasi dengan Renggiep; Toping Gelang dan Sensim Metep.
![]() |
Data Aceh. Tari Likok Pulo adalah sebuah tarian tradisional yang berasal dari Aceh, Indonesia. "Likok" berarti gerak tari, sementara "Pulo" berarti pulau. Pulo di sini merujuk pada sebuah pulau kecil di ujung utara Pulau Sumatera yang juga disebut Pulau Breuh, atau Pulau Beras.
Tarian ini lahir sekitar tahun 1849, diciptakan oleh seorang ulama tua berasal dari Arab yang hanyut di laut dan terdampar di Pulo Aceh. Tari ini diadakan sesudah menanam padi atau sesudah panen padi, biasanya pertunjukan dilangsungkan pada malam hari bahkan jika tarian dipertandingkan dapat berjalan semalam suntuk sampai pagi. Tarian dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar, atau bahu membahu.
Seorang pemain utama yang disebut cèh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh rapa'i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan, tangan, dan kepala. Gerakan tari pada prinsipnya ialah gerakan oleh tubuh, keterampilan, keseragaman atau kesetaraan dengan memfungsikan tangan sama-sama ke depan, ke samping kiri atau kanan, ke atas, dan melingkar dari depan ke belakang, dengan tempo mula lambat hingga cepat.
Dalam tari ini biasanya diiringi dua penabuh rapa’i yang berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain, serta diiringi oleh syair tari Likok yang dilagukan. Syair-syairnya cenderung ke kisah Nabi Muhammad SAW maupun keluarganya.
Tarian ini lahir sekitar tahun 1849, diciptakan oleh seorang ulama tua berasal dari Arab yang hanyut di laut dan terdampar di Pulo Aceh. Tari ini diadakan sesudah menanam padi atau sesudah panen padi, biasanya pertunjukan dilangsungkan pada malam hari bahkan jika tarian dipertandingkan dapat berjalan semalam suntuk sampai pagi. Tarian dimainkan dengan posisi duduk bersimpuh, berbanjar, atau bahu membahu.
Seorang pemain utama yang disebut cèh berada di tengah-tengah pemain. Dua orang penabuh rapa'i berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain. Sedangkan gerak tari hanya memfungsikan anggota tubuh bagian atas, badan, tangan, dan kepala. Gerakan tari pada prinsipnya ialah gerakan oleh tubuh, keterampilan, keseragaman atau kesetaraan dengan memfungsikan tangan sama-sama ke depan, ke samping kiri atau kanan, ke atas, dan melingkar dari depan ke belakang, dengan tempo mula lambat hingga cepat.
Dalam tari ini biasanya diiringi dua penabuh rapa’i yang berada di belakang atau sisi kiri dan kanan pemain, serta diiringi oleh syair tari Likok yang dilagukan. Syair-syairnya cenderung ke kisah Nabi Muhammad SAW maupun keluarganya.
Salah satu syair lagu yang kerap didendangkan dalam tari Likok Pulo, yaitu:
Hai aneuk nyoe
Lahem hai adoe e………. Salamu’alaikum (Allah)
Lahem hai adoe e………. Jame baro trok (Allah)
Lahem hai adoe e………. Tamong jak piyoh (Allah)
Lahem hai adoe e………. Duek ateuh tika (Allah
Sen hai bak kusen
‘Oh lheuh nyoe han le loen tem
Lahee lah kusen lah
Bak gura si hem hai bak kusen
Bukon le sayang loen kalon-kalon pade
Jipot angen glee rubah meutimpa
Badan loen pijuet meutamah-tamah kuneng
Lawet loen meu’en bak peh-peh dada
Hem mala-mala
Deungo-deungo loen kisah saboh habaran
Hem mala-mala
Bayeun-bayeun teureubang jidong cong jeumpa
Salu’ala Muhammadin
Salu’ala mufarsalin
Sahar nabi sahar nabi
Sahar nabi wamursalin
Allah ya Allah
Jinoe loen kisah Hasan ngoen Husen
Yang puteh licen asoe syuruga
Hasan ngoen Husen cuco di Nabi
Aneuh Tuan Siti Fatimah Zuhra
Hai jut majuet jikurok-kurok gunong
Jikeumeutamong u dalam donya
Uroe jikurok malam-malam di sebe
Malaikat the geu yue dho teuma
Jinoe loen kisah Hasan ngoen Husen
Yang puteh licen asoe syuruga
Hasan ngoen Husen cuco di Nabi
Aneuh Tuan Siti Fatimah Zuhra
I laot sah ila-la ombak meh
Ahlon kapai jih ek tron meulumba
Lumba hai bacut teuk
Salah lah bukon sah lah phon
Salah meh lah phon awai bak gata
hai peraho, sabang ka patah
Tiang tamong kuala hai cut dek
Kaseh di ulon leukang bak cut dek
Gaseh geu tanyoe dua
Mile mile laha
Walaha eola
Mile mile lahe
Walaha oele
Lahem hai adoe e….. lagu ka habeh
Kamoe meuriwang uroe ja jula
Menyoe na umu geu bri le Tuhan
Bak laen uroe meurumpok teuma
![]() |
Data Aceh. Alkisah, kedua naga berenang ke laut mencari makan, mereka pergi ke barat. Mereka meluncur menyusuri kawasan pinggir pantai menuju ke daerah barat. Mereka membelah ombak lautan yang bergulung-gulung.Setelah kedua naga berenang beberapa saat, mereka melihat sekelompok udang besar yang sedang berenang menuju ke muara sungai.Kedua naga itu berenang semakin cepat. Setelah dekat dengan kelompok udang, dihirupnya air laut kuat-kuat sehingga seluruh udang masuk ke dalam perut mereka. Hingga sekarang, tempat itu disebut Desa Air Berudang dan termasuk salah satu desa di Kecamatan tapaktuan.
Suatu ketika sepasang naga sedang berjalan-jalan menyusuri lautan yang bergelombang. Si Naga jantan tiba-tiba berhenti, tertegun memperhatikan sebuah titik hitam di tengah laut. Titik hitam itu menarik perhatiannya. Lamat-lamat titik hitam itu mendekat ke arah sang naga. Gelombang laut yang membawanya mendekat. Si Naga Jantan dan Betina terus memperhatikan titik hitam itu.Dari tengah lautan, mereka mendengar suara tangis bayi. Suara tangis itu semakin lama semakin keras dan jelas. Sepasang Naga itu pun berenang mendekati titik hitam tersebut di tengah lautan.
Sang Naga terjun alang kepalang. Titik hitam itu adalah benar sesosok bayi manusia yang menangis keras, diombang-ambingkan gelombang di dalam sebuah ayunan yang terbuat dari anyaman rotan. Anehnya, ayunan rotan itu tidak kemasukan air.
Demikianlah, waktu terus berganti. Dari hari ke hari, bayi itu terus tumbuh normal dan sehat sebagaimana bayi manusia lainnya. Putri kecil tersebut diberi nama Putri Bungsu. Mereka sangat mengasihi putri ini. Bahkan Naga Jantan menciptakan tempat bermain nan indah di gunung itu. Semua buah-buahan dan minuman tersedia disana. Semua itu dilakukan agar Putri Bungsu betah tinggal bersama mereka. Putri inilah yang kemudian disebut sebagai Putri Naga.
Pada suatu hari, kedua naga itu membawa putri kesayangan mereka pergi berjalan-jalan menikmati pemandangan daerah Teluk yang indah mempesona.
Sang Putri dinaikkan ke punggung Naga Jantan yang telah siap mengarungi kawasan pantai Teluk. Naga Betina berenang mengiringi dari belakang. Sang Naga betina itu sangat cemas jika putri cantik rupawan itu terjatuh dari punggung naga dan tenggelam. Diam-diam sang Putri melontarkan rasa kekagumannya. Ia senang melihat keindahan alam pantai Teluk yang masih asri. Demikianlah keadaan sang Putri, ia terhibur selalu dengan sikap kedua naga itu.
Waktu terus bergulir, Putri Bungsu pun merangkak remaja. Dia menetap bersama naga disebuah gua yang dalam. Suatu hari, sang Putri Bungsu secara tak sengaja mendengar obrolan sepasang Naga. Dari luar gua dia terus menyimak percakapan itu. Dia tersentak. Sadar, bahwa dirinya bukan keturunan naga. Dia memiliki orang tua yang juga berasal dari bangsa manusia.Niat untuk melarikan diripun muncul dalam benaknya. Putri Bungsu tidak gegabah. Dia bersabar untuk menemukan waktu yang tepat melarikan diri dari gunung itu. Dia takut akan kesaktian kedua naga tersebut.
Waktu yang dinantikanpun tiba. Dari atas gunung, Putri Bungsu melihat sebuah kapal berlayar dibawah kaki gunung itu. Gunung ini memang tepat berada di depan laut. Naga Jantan kala itu sedang tertidur dipinggir laut. Perlahan dia mengangkat kaki, sedikit menjinjing agar langkahnya tidak didengar Naga Jantan.
Perahu layar semakin dekat. Dia bimbang. Teringat akan kesaktian naga tersebut. Jarak Naga Jantan beristirahat dengan laut sangat dekat. Khawatir ketahuan, diapun mengurungkan niat untuk kabur dari gunung itu.
Siang-malam Putri nan cantik jelita itu mencari akal. Ide cemerlang pun muncul dikepalanya. Satu dia mengajak pasangan Naga berjalan-jalan menyusuri pantai di pulau itu. Naga kelelahan dan tertidur pulas. Putri Bungsu tak menyianyiakan kesempatan emas itu. Kakinya diseret ke atas sebuah bukit kecil yang dekat dengan laut. Agar dia bisa melihat perahu yang melintas.
Jarang sekali perahu yang mahu mendekat ke pulau itu. Namun hari itu keberuntungan Putri Naga. Sebuah perahu kecil merapat. Dia melambaikan tangan. Awak perahu ada yang menyapanya.
Perahu itulah yang membawa putri bungsu pergi, Putri bungsu naik ke atas kapal dan ikut bersama awak kapal itu. Naga yang baru terbangun dari tidur, terkejut setengah mati. Putri kesanyangannya telah pergi. Dalam benaknya, Naga berujar, pasti perahu itu yang melarikan putriku. Dia mengejar perahu yang berjalan sangat pelan itu.
Sepasang Naga itu mengejar perahu tersebut. Sementara itu, di Gua Kalam, tidak jauh dari bukit itu, seorang manusia sedang bertapa. Dia tersentak dari pertapaanya. Seakan dia sadar akan ada bencana besar dibumi. Inilah Tuan Tapa.
Dia keluar dari gua tersebut. Lalu menatap ke laut lepas. Terlihat sepasang Naga dengan kemarahan puncak sedang mengejar sebuah perahu nelayan. Tuan Tapa terkenal dengan tongkat saktinya.
Hal itu menyebabkan terjadinya pertarungan sengit antara kedua naga dengan Tuan Tapa. Mereka bertarung untuk memperebutkan bayi yang kini telah menjadi seorang putri yang cantik yang diberi nama Putri Bungsu.
Ketika Naga Jantan melancarkan serangan berikutnya, Tuan Tapa menyambut dengan libasan tongkatnya. Tubuh naga pun terpelanting ke udara dan jatuh berkeping-keping di pantai. Darah dari tubuh naga jantan yang hancur itu tumpah kemana-mana dan memerahkan tanah, bebatuan dan lautan.
Naga Betina pun mulai menyerang Tuan Tapa, Namun serangan itu dapat dipatahkan oleh Tuan Tapa, meskipun tongkat dan topi Tuan Tapa sempat tercampak ke laut, dan hingga sekarang tongkat dan topi itu masih ada dan telah menjadi batu yang terdapat di kawasan pantai Tapaktuan. Sementara Naga Betina yang hendak melarikan Putri Bungsu gagal. Malah hewan itu mengamuk sambil melarikan diri ke negeri Cina.
Dalam pelariannya itulah Naga Betina membelah sebuah pulau di kawasan Bakongan hinga menjadi dua bagian, dan hingga sekarang pulau itu bernama Pulau Dua. Bahkan hewan itu mengamuk sambil memporak porandakan sebuah pulau. Pulau itu terpecah-pecah hingga 99 buah. Itulah hingga kini disebut Pulau banyak yang terdapat di Kabupaten Aceh Singkil.
Akhirnya Tuan Tapa berhasil mengalahkan kedua naga tersebut. Sang Putri pun dapat kembali bersama orang tuanya, tetapi keluarga itu tidak kembali ke Kerajaan Asralanoka. Mereka memilih menetap di Aceh. Keberadaan mereka di Tanah Aceh diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Tapaktuan.
Setelah kejadian itu, Tuan Tapa sakit. Seminggu kemudian Tuan Tapa meninggal dunia pada Bulan Ramadhan Tahun 4 Hijriyah . Jasadnya dikuburkan di dekat Gunung Lampu, tepatnya di depan Mesjid Tuo Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan, dan hingga sekarang makam manusia keramat itu masih bisa kita saksikan hingga saat ini.
Hingga sekarang bekas tubuh naga yang berupa gumpalan darah itu masih dapat kita lihat di pantai berupa tanah dan batu yang memerah. Kini disebut dengan Tanah Merah. Batu Merah, sekitar tiga kilometer dari kota Tapaktuan. Kini gumpalan darah dan hati tersebut telah mengeras menjadi batu.
Sedangkan hati sang Naga, yang pecah dan terlempar menjadi beberapa bagian akibat pukulan tongkat sakti Tuan Tapa, peninggalannya hingga sekarang masih terlihat berupa batu-batu berwarna hitam berbentuk hati. Daerah ini kemudian diberi nama Desa Batu Hitam, masih dikecamatan yang sama.
Pada waktu Tuan Tapa hendak membunuh sang naga, terjadi kejar-kejaran antara Tuanku Tapa dan sang naga. Maka pada suatu ketika, berbekaslah tapak kaki Tuan Tapa ini. Sekarang yang masih terlihat hanya sepasang telapak kaki sangat berjauhan, di batasi oleh gunung tempat naga tinggal sebelumnya. Jejak tapak kaki tersebut, seperti jejak seseorang yang melangkahi gunung, karena tak dapat ditemukan jejak yang sama di antara kedua jejak tersebut.
Ukuran jejak kaki tersebut adalah 3 x 1,5 meter. Jejak kaki yang sebelah kanan, berada di pinggir laut diatas sebuah batu. Sedangkan jejak kaki sebelah kiri berada di dalam kota di atas tanah. Antara jejak satu dan yang satunya lagi lebih kurang berjarak 500 meter. Diberilah nama daerah yang terdapat jejak “Tapak Tuan Tapa” itu dengan nama kota “Tapak Tuan”, atau juga sering disebut “Kota Naga Tapak Tuan”.
Di tempat pertempuran Naga dan Tuan Tapa, masih meninggalkan jejak berupa tongkat. Tongkat mirip baru itu, dipercayai sebagai tongkat Tuan Tapa. Lalu, bagaimana nasib sang Putri? Beberapa tokoh masyarakat di daerah itu menceritakan, dalam legenda tersebut dikisahkan sang Putri akhirnya kembali hidup normal layaknya manusia dan hidup bahagia bersama kedua orangtuanya. Putri Bungsu kemudian mendapat julukan sebagai ‘Putri Naga’.
Suatu ketika sepasang naga sedang berjalan-jalan menyusuri lautan yang bergelombang. Si Naga jantan tiba-tiba berhenti, tertegun memperhatikan sebuah titik hitam di tengah laut. Titik hitam itu menarik perhatiannya. Lamat-lamat titik hitam itu mendekat ke arah sang naga. Gelombang laut yang membawanya mendekat. Si Naga Jantan dan Betina terus memperhatikan titik hitam itu.Dari tengah lautan, mereka mendengar suara tangis bayi. Suara tangis itu semakin lama semakin keras dan jelas. Sepasang Naga itu pun berenang mendekati titik hitam tersebut di tengah lautan.
Sang Naga terjun alang kepalang. Titik hitam itu adalah benar sesosok bayi manusia yang menangis keras, diombang-ambingkan gelombang di dalam sebuah ayunan yang terbuat dari anyaman rotan. Anehnya, ayunan rotan itu tidak kemasukan air.
Pasangan Naga ini sangat senang mendapatkan putri berbentuk manusia. Konon naga itu memang sudah lama mengidam-idamkan seorang putri. Kedua Naga itu sangat menyanyangi putri pungut mereka. Bahkan, Naga betina selalu memeluk putri kecil dalam cengkeramnya agar tidak hilang.
Demikianlah, waktu terus berganti. Dari hari ke hari, bayi itu terus tumbuh normal dan sehat sebagaimana bayi manusia lainnya. Putri kecil tersebut diberi nama Putri Bungsu. Mereka sangat mengasihi putri ini. Bahkan Naga Jantan menciptakan tempat bermain nan indah di gunung itu. Semua buah-buahan dan minuman tersedia disana. Semua itu dilakukan agar Putri Bungsu betah tinggal bersama mereka. Putri inilah yang kemudian disebut sebagai Putri Naga.
Pada suatu hari, kedua naga itu membawa putri kesayangan mereka pergi berjalan-jalan menikmati pemandangan daerah Teluk yang indah mempesona.
Sang Putri dinaikkan ke punggung Naga Jantan yang telah siap mengarungi kawasan pantai Teluk. Naga Betina berenang mengiringi dari belakang. Sang Naga betina itu sangat cemas jika putri cantik rupawan itu terjatuh dari punggung naga dan tenggelam. Diam-diam sang Putri melontarkan rasa kekagumannya. Ia senang melihat keindahan alam pantai Teluk yang masih asri. Demikianlah keadaan sang Putri, ia terhibur selalu dengan sikap kedua naga itu.
Waktu terus bergulir, Putri Bungsu pun merangkak remaja. Dia menetap bersama naga disebuah gua yang dalam. Suatu hari, sang Putri Bungsu secara tak sengaja mendengar obrolan sepasang Naga. Dari luar gua dia terus menyimak percakapan itu. Dia tersentak. Sadar, bahwa dirinya bukan keturunan naga. Dia memiliki orang tua yang juga berasal dari bangsa manusia.Niat untuk melarikan diripun muncul dalam benaknya. Putri Bungsu tidak gegabah. Dia bersabar untuk menemukan waktu yang tepat melarikan diri dari gunung itu. Dia takut akan kesaktian kedua naga tersebut.
Waktu yang dinantikanpun tiba. Dari atas gunung, Putri Bungsu melihat sebuah kapal berlayar dibawah kaki gunung itu. Gunung ini memang tepat berada di depan laut. Naga Jantan kala itu sedang tertidur dipinggir laut. Perlahan dia mengangkat kaki, sedikit menjinjing agar langkahnya tidak didengar Naga Jantan.
Perahu layar semakin dekat. Dia bimbang. Teringat akan kesaktian naga tersebut. Jarak Naga Jantan beristirahat dengan laut sangat dekat. Khawatir ketahuan, diapun mengurungkan niat untuk kabur dari gunung itu.
Siang-malam Putri nan cantik jelita itu mencari akal. Ide cemerlang pun muncul dikepalanya. Satu dia mengajak pasangan Naga berjalan-jalan menyusuri pantai di pulau itu. Naga kelelahan dan tertidur pulas. Putri Bungsu tak menyianyiakan kesempatan emas itu. Kakinya diseret ke atas sebuah bukit kecil yang dekat dengan laut. Agar dia bisa melihat perahu yang melintas.
Jarang sekali perahu yang mahu mendekat ke pulau itu. Namun hari itu keberuntungan Putri Naga. Sebuah perahu kecil merapat. Dia melambaikan tangan. Awak perahu ada yang menyapanya.
Perahu itulah yang membawa putri bungsu pergi, Putri bungsu naik ke atas kapal dan ikut bersama awak kapal itu. Naga yang baru terbangun dari tidur, terkejut setengah mati. Putri kesanyangannya telah pergi. Dalam benaknya, Naga berujar, pasti perahu itu yang melarikan putriku. Dia mengejar perahu yang berjalan sangat pelan itu.
Sepasang Naga itu mengejar perahu tersebut. Sementara itu, di Gua Kalam, tidak jauh dari bukit itu, seorang manusia sedang bertapa. Dia tersentak dari pertapaanya. Seakan dia sadar akan ada bencana besar dibumi. Inilah Tuan Tapa.
Dia keluar dari gua tersebut. Lalu menatap ke laut lepas. Terlihat sepasang Naga dengan kemarahan puncak sedang mengejar sebuah perahu nelayan. Tuan Tapa terkenal dengan tongkat saktinya.
Hal itu menyebabkan terjadinya pertarungan sengit antara kedua naga dengan Tuan Tapa. Mereka bertarung untuk memperebutkan bayi yang kini telah menjadi seorang putri yang cantik yang diberi nama Putri Bungsu.
Ketika Naga Jantan melancarkan serangan berikutnya, Tuan Tapa menyambut dengan libasan tongkatnya. Tubuh naga pun terpelanting ke udara dan jatuh berkeping-keping di pantai. Darah dari tubuh naga jantan yang hancur itu tumpah kemana-mana dan memerahkan tanah, bebatuan dan lautan.
Naga Betina pun mulai menyerang Tuan Tapa, Namun serangan itu dapat dipatahkan oleh Tuan Tapa, meskipun tongkat dan topi Tuan Tapa sempat tercampak ke laut, dan hingga sekarang tongkat dan topi itu masih ada dan telah menjadi batu yang terdapat di kawasan pantai Tapaktuan. Sementara Naga Betina yang hendak melarikan Putri Bungsu gagal. Malah hewan itu mengamuk sambil melarikan diri ke negeri Cina.
Dalam pelariannya itulah Naga Betina membelah sebuah pulau di kawasan Bakongan hinga menjadi dua bagian, dan hingga sekarang pulau itu bernama Pulau Dua. Bahkan hewan itu mengamuk sambil memporak porandakan sebuah pulau. Pulau itu terpecah-pecah hingga 99 buah. Itulah hingga kini disebut Pulau banyak yang terdapat di Kabupaten Aceh Singkil.
Akhirnya Tuan Tapa berhasil mengalahkan kedua naga tersebut. Sang Putri pun dapat kembali bersama orang tuanya, tetapi keluarga itu tidak kembali ke Kerajaan Asralanoka. Mereka memilih menetap di Aceh. Keberadaan mereka di Tanah Aceh diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Tapaktuan.
Setelah kejadian itu, Tuan Tapa sakit. Seminggu kemudian Tuan Tapa meninggal dunia pada Bulan Ramadhan Tahun 4 Hijriyah . Jasadnya dikuburkan di dekat Gunung Lampu, tepatnya di depan Mesjid Tuo Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan, dan hingga sekarang makam manusia keramat itu masih bisa kita saksikan hingga saat ini.
Hingga sekarang bekas tubuh naga yang berupa gumpalan darah itu masih dapat kita lihat di pantai berupa tanah dan batu yang memerah. Kini disebut dengan Tanah Merah. Batu Merah, sekitar tiga kilometer dari kota Tapaktuan. Kini gumpalan darah dan hati tersebut telah mengeras menjadi batu.
Sedangkan hati sang Naga, yang pecah dan terlempar menjadi beberapa bagian akibat pukulan tongkat sakti Tuan Tapa, peninggalannya hingga sekarang masih terlihat berupa batu-batu berwarna hitam berbentuk hati. Daerah ini kemudian diberi nama Desa Batu Hitam, masih dikecamatan yang sama.
Pada waktu Tuan Tapa hendak membunuh sang naga, terjadi kejar-kejaran antara Tuanku Tapa dan sang naga. Maka pada suatu ketika, berbekaslah tapak kaki Tuan Tapa ini. Sekarang yang masih terlihat hanya sepasang telapak kaki sangat berjauhan, di batasi oleh gunung tempat naga tinggal sebelumnya. Jejak tapak kaki tersebut, seperti jejak seseorang yang melangkahi gunung, karena tak dapat ditemukan jejak yang sama di antara kedua jejak tersebut.
Ukuran jejak kaki tersebut adalah 3 x 1,5 meter. Jejak kaki yang sebelah kanan, berada di pinggir laut diatas sebuah batu. Sedangkan jejak kaki sebelah kiri berada di dalam kota di atas tanah. Antara jejak satu dan yang satunya lagi lebih kurang berjarak 500 meter. Diberilah nama daerah yang terdapat jejak “Tapak Tuan Tapa” itu dengan nama kota “Tapak Tuan”, atau juga sering disebut “Kota Naga Tapak Tuan”.
Di tempat pertempuran Naga dan Tuan Tapa, masih meninggalkan jejak berupa tongkat. Tongkat mirip baru itu, dipercayai sebagai tongkat Tuan Tapa. Lalu, bagaimana nasib sang Putri? Beberapa tokoh masyarakat di daerah itu menceritakan, dalam legenda tersebut dikisahkan sang Putri akhirnya kembali hidup normal layaknya manusia dan hidup bahagia bersama kedua orangtuanya. Putri Bungsu kemudian mendapat julukan sebagai ‘Putri Naga’.
Karena kisah ini pula, orang menyebutkan Aceh Selatan sebagai Kota Naga. Bahkan, jika memasuki kota Tapaktuan pemerintah Daerah Aceh Selatan mengukir gambar naga tepat di dinding pinggir jalan. Sekitar seratus meter dari arah timur kantor Bupati Aceh Selatan.
![]() |
| Lambang Kabupaten Aceh Barat Daya |
Data Aceh. Kabupaten Aceh Barat Daya adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Kabupaten ini resmi berdiri setelah disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2002.
Kabupaten yang sering disingkat dengan singkatan "ABDYA" ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan.
Aceh Barat Daya sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan bukanlah merupakan ekses dari reformasi pada tahun 1998 semata. Meskipun perubahan pemerintahan nasional saat itu mempercepat pemekaran tersebut, namun wacana untuk pemekaran itu sendiri sudah berkembang sejak sekitar tahun 1960-an.
Kabupaten ini memiliki banyak sebutan di antaranya: Tanoh Breuh Sigupai, Bumoe Teungku Peukan, Bumi Persada, Tanoh Mano Pucok, Bumi Cerana, Alue Malem Dewa dan sebagainya.
Tari Rateb Meuseukat merupakan salah satu tarian Aceh yang berasal dari Aceh. Nama Ratéb Meuseukat berasal dari bahasa Arab yaitu rateb asal kata ratib artinya ibadat dan meuseukat asal kata sakat yang berarti diam.
Isi dan kandungan syairnya terdiri dari sanjungan dan puji-pujian kepada Allah dan sanjungan kepada Nabi, dimainkan oleh sejumlah perempuan dengan pakaian adat Aceh. Tari ini banyak berkembang di Meudang Ara Rumoh Baro di kabupaten Aceh Barat Daya.Pada mulanya Ratéb Meuseukat dimainkan sesudah selesai mengaji pelajaran agama malam hari, dan juga hal ini tidak terlepas sebagai media dakwah. Permainannya dilakukan dalam posisi duduk dan berdiri. Pada akhirnya juga permainan Ratéb Meuseukat itu dipertunjukkan juga pada upacara agama dan hari-hari besar, upacara perkawinan dan lain-lainnya yang tidak bertentangan dengan agama.
Saat ini, tari ini merupakan tari yang paling terkenal di Indonesia. Hal ini dikarenakan keindahan, kedinamisan dan kecepatan gerakannya. Tari ini sangat sering disalahartikan sebagai tari Saman milik suku Gayo. Padahal antara kedua tari ini terdapat perbedaan yang sangat jelas.Perbedaan utama antara tari Ratéb Meuseukat dengan tari Saman ada 3 yaitu, pertama tari Saman menggunakan bahasa Gayo, sedangkan tari Ratéb Meuseukat menggunakan bahasa Aceh. Kedua, tari Saman dibawakan oleh laki-laki, sedangkan tari Ratéb Meuseukat dibawakan oleh perempuan. Ketiga, tari Saman tidak diiringi oleh alat musik, sedangkan tari Ratéb Meuseukat diiringi oleh alat musik, yaitu rapa’i dan geundrang.
Tari Rapa'i Geleng
Rapa'i Geleng adalah sebuah tarian etnis Aceh yang berasal dari wilayah Aceh Bagian Selatan tepatnya Manggeng, yang sekarang masuk kawasan Kabupaten Aceh Barat Daya. Rapa'i Geleng dikembangkan oleh seorang anonim di Aceh Selatan. Permainan Rapa'i Geleng juga disertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat. Tarian ini mengekspresikan dinamisasi masyarakat dalam syair yang dinyanyikan, kostum dan gerak dasar dari unsur Tari Meuseukat.
Kabupaten yang sering disingkat dengan singkatan "ABDYA" ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan.
Aceh Barat Daya sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan bukanlah merupakan ekses dari reformasi pada tahun 1998 semata. Meskipun perubahan pemerintahan nasional saat itu mempercepat pemekaran tersebut, namun wacana untuk pemekaran itu sendiri sudah berkembang sejak sekitar tahun 1960-an.
Kabupaten ini memiliki banyak sebutan di antaranya: Tanoh Breuh Sigupai, Bumoe Teungku Peukan, Bumi Persada, Tanoh Mano Pucok, Bumi Cerana, Alue Malem Dewa dan sebagainya.
Tari Rateb Meuseukat merupakan salah satu tarian Aceh yang berasal dari Aceh. Nama Ratéb Meuseukat berasal dari bahasa Arab yaitu rateb asal kata ratib artinya ibadat dan meuseukat asal kata sakat yang berarti diam.
Diberitakan bahwa tari Ratéb Meuseukat ini diciptakan gerak dan gayanya oleh anak Teungku Abdurrahim alias Habib Seunagan (Nagan Raya), sedangkan syair atau ratéb-nya diciptakan oleh Teungku Chik di Kala, seorang ulama di Seunagan, yang hidup pada abad ke XIX.
Saat ini, tari ini merupakan tari yang paling terkenal di Indonesia. Hal ini dikarenakan keindahan, kedinamisan dan kecepatan gerakannya. Tari ini sangat sering disalahartikan sebagai tari Saman milik suku Gayo. Padahal antara kedua tari ini terdapat perbedaan yang sangat jelas.Perbedaan utama antara tari Ratéb Meuseukat dengan tari Saman ada 3 yaitu, pertama tari Saman menggunakan bahasa Gayo, sedangkan tari Ratéb Meuseukat menggunakan bahasa Aceh. Kedua, tari Saman dibawakan oleh laki-laki, sedangkan tari Ratéb Meuseukat dibawakan oleh perempuan. Ketiga, tari Saman tidak diiringi oleh alat musik, sedangkan tari Ratéb Meuseukat diiringi oleh alat musik, yaitu rapa’i dan geundrang.
Tari Rapa'i Geleng
Rapa'i Geleng adalah sebuah tarian etnis Aceh yang berasal dari wilayah Aceh Bagian Selatan tepatnya Manggeng, yang sekarang masuk kawasan Kabupaten Aceh Barat Daya. Rapa'i Geleng dikembangkan oleh seorang anonim di Aceh Selatan. Permainan Rapa'i Geleng juga disertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat. Tarian ini mengekspresikan dinamisasi masyarakat dalam syair yang dinyanyikan, kostum dan gerak dasar dari unsur Tari Meuseukat.
![]() |
| Tari Guel Gayo |
Data Aceh. Tari guel adalah salah satu khasanah budaya Gayo di Aceh. Guel berarti membunyikan. Khususnya di daerah dataran tinggi gayo, tarian ini memiliki kisah panjang dan unik. Para peneliti dan koreografer tari mengatakan tarian ini bukan hanya sekadar tari. Dia merupakan gabungan dari seni sastra, seni musik dan seni tari itu sendiri.
Dalam perkembangannya, tari guel timbul tenggelam, namun Guel menjadi tari tradisi terutama dalam upacara adat tertentu. Guel sepenuhnya apresiasi terhadap wujud alam, lingkkungan kemudian dirangkai begitu rupa melalui gerak simbolis dan hentakan irama. Tari ini adalah media informatif. Kekompakan dalam padu padan antara seni satra, musik/suara, gerak memungkinkan untuk dikembangkan (kolaborasi) sesuai dengan semangat zaman, dan perubahan pola pikir masyarakat setempat. Guel tentu punya filosofi berdasarkan sejarah kelahirannya. Maka rentang 90-an tarian ini menjadi objek penelitian sejumlah surveyor dalam dan luar negeri.
Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang di tanah Gayo. tari guel berawal dari mimpi seorang pemuda bernama Sengeda anak Raja Linge ke XIII. Sengeda bermimpi bertemu saudara kandungnya Bener Meria yang konon telah meninggal dunia karena pengkhianatan. Mimpi itu menggambarkan Bener Meria memberi petunjuk kepada Sengeda (adiknya), tentang kiat mendapatkan Gajah putih sekaligus cara meenggiring Gajah tersebut untuk dibawa dan dipersembahakan kepada Sultan Aceh Darussalam. Adalah sang putri Sultan sangat berhasrat memiliki Gajah Putih tersebut.
Berbilang tahun kemudian, tersebutlah kisah tentang Cik Serule, perdana menteri Raja Linge ke XIV berangkat ke Ibu Kota Aceh Darussalam (sekarang kota Banda Aceh). Memenuhi hajatan sidang tahunan Kesutanan Kerajaan. Nah, Sengeda yang dikenal dekat dengan Serule ikut dibawa serta. Pada saat-saat sidang sedang berlangsung, Sengeda rupanya bermain-main di Balai Gading sambil menikmati keagungan Istana Sultan.
Pada waktu itulah ia teringat akan mimpinya waktu silam, lalu sesuai petunjuk saudara kandungnya Bener Meria ia lukiskanlah seekor gajah berwarna putih pada sehelai daun Neniyun (Pelepah rebung bambu), setelah usai, lukisan itu dihadapkan pada cahaya matahari. Tak disangka, pantulan cahaya yang begitu indah itu mengundang kekaguman sang Puteri Raja Sultan. Dari lukisan itu, sang Putri menjadi penasaran dan berhasrat ingin memiliki Gajah Putih dalam wujud asli.
Permintaan itu dikatakan pada Sengeda. Sengeda menyanggupi menangkap Gajah Putih yang ada dirimba raya Gayo untuk dihadapkan pada tuan puteri dengan syarat Sultan memberi perintah kepada Cik Serule. Kemudian dalam prosesi pencarian itulah benih-benih dan paduan tari guel berasal: Untuk menjinakkan sang Gajah Putih, diadakanlah kenduri dengan meembakar kemenyan; diadakannya bunyi-bunyian dengan cara memukul-mukul batang kayu serta apa saja yang menghasilkan bunyi-bunyian. Sejumlah kerabat Sengeda pun melakukan gerak tari-tarian untuk memancing sang Gajah.
Setelah itu, sang Gajah yang bertubuh putih tampak keluar dari persembunyiaannya. Ketika berpapasan dengan rombongan Sengeda, sang Gajah tidak mau beranjak dari tempatnya. Bermacam cara ditempuh, sang Gajah masih juga tidak beranjak. Sengeda yang menjadi pawang pada waktu itu menjadi kehilangan ide untuk menggiring sang Gajah.
Lagi-lagi Sengeda teringat akan mimpi waktu silam tentang beberapa petunjuk yang harus dilakukan. Sengeda kemudian memerintahkan rombongan untuk kembali menari dengan niat tulus dan ikhlas sampai menggerakkan tangan seperti gerakan belalai gajah: indah dan santun. Disertai dengan gerakan salam sembahan kepada Gajah ternyata mampu meluluhkan hati sang Gajah. Gajah pun dapat dijinakkan sambil diiringi rombongan. Sepanjang perjalanan pawang dan rombongan, Gajah putih sesekali ditepung tawari dengan mungkur (jeruk purut) dan bedak hingga berhari-hari perjalanan sampailah rombongan ke hadapan Putri Sultan di Pusat Kerajaan Aceh Darussalam.
Begitulah sejarah dari cerita rakyat di Gayo, walaupun kebenaran secara ilmiah tidak bisa dibuktikan, namun kemudian Tari guel dalam perkembangannya tetap mereka ulang cerita unik Sengeda, Gajah Putih dan sang Putri Sultan. Inilah yang kemudian dikenal temali sejarah yang menghubungkan kerajaan Linge dengan Kerajaan Aceh Darussalam begitu dekat dan bersahaja.
Begitu juga dalam pertunjukan atraksi Tari guel, yang sering kita temui pada saat upacara perkawinan, khususnya di Tanah Gayo, tetap mengambil spirit pertalian sejarah dengan bahasa dan tari yang indah: dalam Tari guel. Reinngkarnasi kisah tersebut, dalam tari guel, Sengeda kemudian diperankan oleh Guru Didong yakni penari yang mengajak Beyi (Aman Manya ) atau Linto Baroe untuk bangun dari tempat persandingan (Pelaminan). Sedangkan Gajah Putih diperankan oleh Linto Baroe (Pengantin Laki-laki). Pengulu Mungkur, Pengulu Bedak diperankan oleh kaum ibu yang menaburkan breuh padee (beras padi) atau dikenal dengan bertih.
Dalam perkembangannya, tari guel timbul tenggelam, namun Guel menjadi tari tradisi terutama dalam upacara adat tertentu. Guel sepenuhnya apresiasi terhadap wujud alam, lingkkungan kemudian dirangkai begitu rupa melalui gerak simbolis dan hentakan irama. Tari ini adalah media informatif. Kekompakan dalam padu padan antara seni satra, musik/suara, gerak memungkinkan untuk dikembangkan (kolaborasi) sesuai dengan semangat zaman, dan perubahan pola pikir masyarakat setempat. Guel tentu punya filosofi berdasarkan sejarah kelahirannya. Maka rentang 90-an tarian ini menjadi objek penelitian sejumlah surveyor dalam dan luar negeri.
Berdasarkan cerita rakyat yang berkembang di tanah Gayo. tari guel berawal dari mimpi seorang pemuda bernama Sengeda anak Raja Linge ke XIII. Sengeda bermimpi bertemu saudara kandungnya Bener Meria yang konon telah meninggal dunia karena pengkhianatan. Mimpi itu menggambarkan Bener Meria memberi petunjuk kepada Sengeda (adiknya), tentang kiat mendapatkan Gajah putih sekaligus cara meenggiring Gajah tersebut untuk dibawa dan dipersembahakan kepada Sultan Aceh Darussalam. Adalah sang putri Sultan sangat berhasrat memiliki Gajah Putih tersebut.
Berbilang tahun kemudian, tersebutlah kisah tentang Cik Serule, perdana menteri Raja Linge ke XIV berangkat ke Ibu Kota Aceh Darussalam (sekarang kota Banda Aceh). Memenuhi hajatan sidang tahunan Kesutanan Kerajaan. Nah, Sengeda yang dikenal dekat dengan Serule ikut dibawa serta. Pada saat-saat sidang sedang berlangsung, Sengeda rupanya bermain-main di Balai Gading sambil menikmati keagungan Istana Sultan.
Pada waktu itulah ia teringat akan mimpinya waktu silam, lalu sesuai petunjuk saudara kandungnya Bener Meria ia lukiskanlah seekor gajah berwarna putih pada sehelai daun Neniyun (Pelepah rebung bambu), setelah usai, lukisan itu dihadapkan pada cahaya matahari. Tak disangka, pantulan cahaya yang begitu indah itu mengundang kekaguman sang Puteri Raja Sultan. Dari lukisan itu, sang Putri menjadi penasaran dan berhasrat ingin memiliki Gajah Putih dalam wujud asli.
Permintaan itu dikatakan pada Sengeda. Sengeda menyanggupi menangkap Gajah Putih yang ada dirimba raya Gayo untuk dihadapkan pada tuan puteri dengan syarat Sultan memberi perintah kepada Cik Serule. Kemudian dalam prosesi pencarian itulah benih-benih dan paduan tari guel berasal: Untuk menjinakkan sang Gajah Putih, diadakanlah kenduri dengan meembakar kemenyan; diadakannya bunyi-bunyian dengan cara memukul-mukul batang kayu serta apa saja yang menghasilkan bunyi-bunyian. Sejumlah kerabat Sengeda pun melakukan gerak tari-tarian untuk memancing sang Gajah.
Setelah itu, sang Gajah yang bertubuh putih tampak keluar dari persembunyiaannya. Ketika berpapasan dengan rombongan Sengeda, sang Gajah tidak mau beranjak dari tempatnya. Bermacam cara ditempuh, sang Gajah masih juga tidak beranjak. Sengeda yang menjadi pawang pada waktu itu menjadi kehilangan ide untuk menggiring sang Gajah.
Lagi-lagi Sengeda teringat akan mimpi waktu silam tentang beberapa petunjuk yang harus dilakukan. Sengeda kemudian memerintahkan rombongan untuk kembali menari dengan niat tulus dan ikhlas sampai menggerakkan tangan seperti gerakan belalai gajah: indah dan santun. Disertai dengan gerakan salam sembahan kepada Gajah ternyata mampu meluluhkan hati sang Gajah. Gajah pun dapat dijinakkan sambil diiringi rombongan. Sepanjang perjalanan pawang dan rombongan, Gajah putih sesekali ditepung tawari dengan mungkur (jeruk purut) dan bedak hingga berhari-hari perjalanan sampailah rombongan ke hadapan Putri Sultan di Pusat Kerajaan Aceh Darussalam.
Begitulah sejarah dari cerita rakyat di Gayo, walaupun kebenaran secara ilmiah tidak bisa dibuktikan, namun kemudian Tari guel dalam perkembangannya tetap mereka ulang cerita unik Sengeda, Gajah Putih dan sang Putri Sultan. Inilah yang kemudian dikenal temali sejarah yang menghubungkan kerajaan Linge dengan Kerajaan Aceh Darussalam begitu dekat dan bersahaja.
Begitu juga dalam pertunjukan atraksi Tari guel, yang sering kita temui pada saat upacara perkawinan, khususnya di Tanah Gayo, tetap mengambil spirit pertalian sejarah dengan bahasa dan tari yang indah: dalam Tari guel. Reinngkarnasi kisah tersebut, dalam tari guel, Sengeda kemudian diperankan oleh Guru Didong yakni penari yang mengajak Beyi (Aman Manya ) atau Linto Baroe untuk bangun dari tempat persandingan (Pelaminan). Sedangkan Gajah Putih diperankan oleh Linto Baroe (Pengantin Laki-laki). Pengulu Mungkur, Pengulu Bedak diperankan oleh kaum ibu yang menaburkan breuh padee (beras padi) atau dikenal dengan bertih.
![]() |
Data Aceh. Peudeung atau Pedang digunakan sebagai senjata untuk menyerang. Jika rencong digunakan untuk menikam,maka pedang digunakan beriringan dengan itu, yaitu sebagai senjata untuk mentetak atau mencincang.
Berdasarkan daerah asal pedang, di Aceh dikenal beberapa macam pedang yaitu peudeung Habsyah (dari Negara Abbesinia), Peudeung Poertugis (dari Eropa Barat), Peudeung Turki berasal dari raja-raja Turki.
Berdasarkan bilah atau bentuk mata pedang, masyarakat mengenal nama-nama pedang sebagai berikut peudeung on teubee sejenis pedang yang bilah atau matanya menyerupai daun tebu.
Pedang ini dibuat sedemikian rupa,panjangnya kira-kira 100 cm(sudah termasuk gagangnya). Umumnya terbuat dari besi,bentuknya lebih halus dan lebih kecil dari peudeung on jok.
Peudeng on jok sesuai dengan namanya menyerupai daun enau atau daun nira. Bentuknya lebih kasar dan tebal dari peudeung on teubee dan sedikit agak pendek dari peudeung on teubee.
Berdasarkan bentuk gagangnya, jenis pedang adalah sebagai berikut :
Peudeueng Peusangan (Hulu Tumpang Beunteung)
Pertama, Peudeung Tumpang Jingki, gagangnya seperti mulut yang sedang terbuka dan seakan-akan dapat menahan sandaran benda lain di atasnya. Gagang pedang ini berasal dari tanduk dan matanya dari besi. Panjang keseluruhannya mencapai 70 cm. Bentuknya hampir serupa dengan peudeung tumpang beunteung yang lazim disebut oleh masyarakat Pidie.
Peudeueng Peusangan (Hulu Meu Apet)
Kedua, Peudeung Ulee Meu-apet, pada gagangnya terdapat apet atau penahan untuk tidak mudah terlepas. Jenis pedang ini selalu ditempatkan di dalam sarungnya. Bahkan amat jarang dikeluarkan. Pedang ini dianggap mempunyai kekuatan magis, pantang dikeluarkan di sembarangan tempat dan waktu.
Peudeueng Panjang (Hulu Tumpang Beunteung) Hulu Buaya
Ketiga, Peudeueng Ulee Tapak Guda, gagangnya menyerupai telapak kaki kuda. Gagangnya dibuat dari tanduk, dan bilahnya dari besi. Panjangnya mencapai 72 cm.
Berdasarkan daerah asal pedang, di Aceh dikenal beberapa macam pedang yaitu peudeung Habsyah (dari Negara Abbesinia), Peudeung Poertugis (dari Eropa Barat), Peudeung Turki berasal dari raja-raja Turki.
Berdasarkan bilah atau bentuk mata pedang, masyarakat mengenal nama-nama pedang sebagai berikut peudeung on teubee sejenis pedang yang bilah atau matanya menyerupai daun tebu.
Pedang ini dibuat sedemikian rupa,panjangnya kira-kira 100 cm(sudah termasuk gagangnya). Umumnya terbuat dari besi,bentuknya lebih halus dan lebih kecil dari peudeung on jok.
Peudeng on jok sesuai dengan namanya menyerupai daun enau atau daun nira. Bentuknya lebih kasar dan tebal dari peudeung on teubee dan sedikit agak pendek dari peudeung on teubee.
Berdasarkan bentuk gagangnya, jenis pedang adalah sebagai berikut :
Peudeueng Peusangan (Hulu Tumpang Beunteung)
Pertama, Peudeung Tumpang Jingki, gagangnya seperti mulut yang sedang terbuka dan seakan-akan dapat menahan sandaran benda lain di atasnya. Gagang pedang ini berasal dari tanduk dan matanya dari besi. Panjang keseluruhannya mencapai 70 cm. Bentuknya hampir serupa dengan peudeung tumpang beunteung yang lazim disebut oleh masyarakat Pidie.
Peudeueng Peusangan (Hulu Meu Apet)
Kedua, Peudeung Ulee Meu-apet, pada gagangnya terdapat apet atau penahan untuk tidak mudah terlepas. Jenis pedang ini selalu ditempatkan di dalam sarungnya. Bahkan amat jarang dikeluarkan. Pedang ini dianggap mempunyai kekuatan magis, pantang dikeluarkan di sembarangan tempat dan waktu.
Peudeueng Panjang (Hulu Tumpang Beunteung) Hulu Buaya
Ketiga, Peudeueng Ulee Tapak Guda, gagangnya menyerupai telapak kaki kuda. Gagangnya dibuat dari tanduk, dan bilahnya dari besi. Panjangnya mencapai 72 cm.
Di samping jenis pedang yang telah tersebut di atas, di dapati nama-nama lainnya seperti Peudeung Ulee Iku Mie karena gagangnya menyerupai ekor kucing, Peudeung Ulee Iku Itek, karena gagangnya menyerupai ekor bebek, Peudeung Ulee Babah Buya, karena gagangnya seperti mulut buaya, Peudeung Lapan Sago gagangnya bersegi delapan.
Peudeueng Panjang (Hulu Tumpang Beunteung) Hulu Buaya
Ada satu pedang yang sering di ceritakan dan disebut-sebut orang tua di Aceh yaitu Peudeung Zulpaka yang mengandung kekuatan magis tinggi karena berasal dari Saidina Ali Radhiallahu’anhu.
![]() |
| Nampak Dalam Rumah Aceh |
Data Aceh. Jika Anda termasuk pecinta wisata sejarah, Museum Aceh adalah tempat yang tidak boleh dilewatkan saat singgah di Banda Aceh. Terletak di Jalan Alauddin Mahmud Syah, Banda Aceh, museum ini menyimpan berbagai pernak-pernik peninggalan sejarah masyarakat Aceh sejak era prasejarah. Disini kita dapat menemukan berbagai jenis perkakas, peralatan pertanian, peralatan rumah tangga, senjata tradisional dan pakaian tradisional. Di museum ini kita juga dapat menemukan berbagai koleksi manuskrip kuno, dokumentasi foto sejarah dan maket dari perkembangan Masjid Agung Baiturrahman.
Museum ini didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Peresmian dilakukan pada tanggal 31 Juli 1915, oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A Swart. Museum ini dikepalai oleh FW Stammeshaus yang menjabat sebagai Kepala Museum sekaligus Kurator hingga tahun 1931. Pada saat itu, museum ini hanya berbentuk sebuah rumah tradisional Aceh (Rumoh Aceh) yang keberadaannya masih tetap dipertahankan dalam area halaman museum hingga saat ini. Bangunan berbahan dasar kayu ini berbentuk rumah panggung dengan sistem konstruksi pasak yang dapat dibongkar pasang secara fleksibel.
Rumoh Aceh ini sebelumnya dipertunjukkan dalam Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) yang berlangsung di Semarang pada tahun sebelumnya. Dalam pameran tersebut, kebanyakan koleksi di Paviliun Aceh merupakan koleksi pribadi Stammeshaus ditambah berbagai koleksi benda pusaka peninggalan kesultanan Aceh. Dalam pameran ini, Rumoh Aceh memperoleh anugerah sebagai Paviliun terbaik dengan perolehan 4 medali emas, 11 perak serta 3 perunggu untuk berbagai kategori.
Diantara koleksi yang cukup populer dari museum ini adalah sebuah lonceng yang usianya telah mencapai 1400 tahun. Lonceng ini bernama 'Lonceng Cakra Donya' yang merupakkan hadiah dari Kaisar Cina dari Dinasti Ming kepada Sultan Pasai pada Abad Ke-15, yang dihadiahkan saat perjalanan muhibah Laksamana Muhammad Cheng Ho. Lonceng ini dibawa ke Aceh saat Sultan Ali Mughayat Syah dari Kesultanan Aceh menaklukkan Pasai pada tahun 1524 M.
Museum ini didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Peresmian dilakukan pada tanggal 31 Juli 1915, oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A Swart. Museum ini dikepalai oleh FW Stammeshaus yang menjabat sebagai Kepala Museum sekaligus Kurator hingga tahun 1931. Pada saat itu, museum ini hanya berbentuk sebuah rumah tradisional Aceh (Rumoh Aceh) yang keberadaannya masih tetap dipertahankan dalam area halaman museum hingga saat ini. Bangunan berbahan dasar kayu ini berbentuk rumah panggung dengan sistem konstruksi pasak yang dapat dibongkar pasang secara fleksibel.
Rumoh Aceh ini sebelumnya dipertunjukkan dalam Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) yang berlangsung di Semarang pada tahun sebelumnya. Dalam pameran tersebut, kebanyakan koleksi di Paviliun Aceh merupakan koleksi pribadi Stammeshaus ditambah berbagai koleksi benda pusaka peninggalan kesultanan Aceh. Dalam pameran ini, Rumoh Aceh memperoleh anugerah sebagai Paviliun terbaik dengan perolehan 4 medali emas, 11 perak serta 3 perunggu untuk berbagai kategori.
Diantara koleksi yang cukup populer dari museum ini adalah sebuah lonceng yang usianya telah mencapai 1400 tahun. Lonceng ini bernama 'Lonceng Cakra Donya' yang merupakkan hadiah dari Kaisar Cina dari Dinasti Ming kepada Sultan Pasai pada Abad Ke-15, yang dihadiahkan saat perjalanan muhibah Laksamana Muhammad Cheng Ho. Lonceng ini dibawa ke Aceh saat Sultan Ali Mughayat Syah dari Kesultanan Aceh menaklukkan Pasai pada tahun 1524 M.
![]() |
| Alat Music Arbab |
Data Aceh. Aceh merupakan provinsi yang terletak paling barat dari Negara Indonesia. Kota yang dijuluki juga dengan Serambi Mekah karena merupakan jalur masuk dan menyebarnya agama Islam di Indonesia ini menyimpan kekayaan kebudayaan yang sangat mempesona. Diantara kebudayaan tersebut tentu saja alat musik tradisional aceh salah satunya.
Arbab merupakan alat musik tradisional Aceh yang terbuat dari alam. Alat musik arbab ini dibuat dari tempurung kelapa, kulit kambing, kayu dan dawai, sementara busur penggeseknya terbuat dari kayu, rotan atau serat tumbuhan. Terdiri dari 2 bagian, yaitu instrumen induk yang disebut arbab dan penggeseknya yang disebut dengan Go Arbab.
Alat musik Arbab pada zamannya biasa dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional, bersama Geundrang/Rapai dan sejumlah alat musik trandisional lainnya, di mana Arbab berperan sebagai instrumen utama pembawa lagu.
Dalam tradisinya, musik Arbab biasa dimainkan dalam acara-acara keramaian rakyat, seperti hiburan rakyat dan pasar malam. Musik Arbab disajikan ke tengah penontonnya oleh dua kelompok, yakni pemusik dan penyanyi. Kelompok penyanyi terdiri dari dua orang lelaki, di mana salah seorang di antara mereka memerankan tokoh wanita, lengkap dengan busana dan dandanan seperti wanita.
Penyanyi yang memerankan perempuan tersebut dikenal dengan sebutan Fatimah Abi. Pada umumnya, mereka membawakan lagu-lagu hikayat dan lagu-lagu yang mengandung muatan humor. Di antara lagu-lagu hikayat yang pernah dibawakan dalam pertunjukan musik Arbab, tercatat salah satunya berjudul Hikayat Indra Bangsawan.
Beberapa literature menyebutkan bahwa alat musik Arbab pernah hidup dan berkembang di daerah Pidie, Aceh Besar dan Aceh Barat. Dewasa ini, kesenian Arbab sangat jarang dijumpai, dan diperkirakan mulai kehilangan tempatnya.
Arbab merupakan alat musik tradisional Aceh yang terbuat dari alam. Alat musik arbab ini dibuat dari tempurung kelapa, kulit kambing, kayu dan dawai, sementara busur penggeseknya terbuat dari kayu, rotan atau serat tumbuhan. Terdiri dari 2 bagian, yaitu instrumen induk yang disebut arbab dan penggeseknya yang disebut dengan Go Arbab.
Alat musik tradisional Aceh yang dibunyikan dengan cara digesek ini pernah berkembang di daerah Pidie, Aceh Besar dan Aceh Barat. Diperkirakan alat musik Arbab ada pada jaman Belanda. Akan tetapi sayangnya, saat ini alat musik Arbab sudah jarang dan mungkin hampir punah dari Serambi Mekah. Wah.. bahaya nih kalo beneran sudah punah.
Alat musik Arbab pada zamannya biasa dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional, bersama Geundrang/Rapai dan sejumlah alat musik trandisional lainnya, di mana Arbab berperan sebagai instrumen utama pembawa lagu.
Dalam tradisinya, musik Arbab biasa dimainkan dalam acara-acara keramaian rakyat, seperti hiburan rakyat dan pasar malam. Musik Arbab disajikan ke tengah penontonnya oleh dua kelompok, yakni pemusik dan penyanyi. Kelompok penyanyi terdiri dari dua orang lelaki, di mana salah seorang di antara mereka memerankan tokoh wanita, lengkap dengan busana dan dandanan seperti wanita.
Penyanyi yang memerankan perempuan tersebut dikenal dengan sebutan Fatimah Abi. Pada umumnya, mereka membawakan lagu-lagu hikayat dan lagu-lagu yang mengandung muatan humor. Di antara lagu-lagu hikayat yang pernah dibawakan dalam pertunjukan musik Arbab, tercatat salah satunya berjudul Hikayat Indra Bangsawan.
Beberapa literature menyebutkan bahwa alat musik Arbab pernah hidup dan berkembang di daerah Pidie, Aceh Besar dan Aceh Barat. Dewasa ini, kesenian Arbab sangat jarang dijumpai, dan diperkirakan mulai kehilangan tempatnya.
![]() |
Data Aceh. Tari Ranup Lampuan adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Aceh. Tarian ini termasuk tarian penyambutan yang biasanya dibawakan oleh penari wanita dengan menyuguhkan sirih sebagai tanda terima masyarakat. Tari Ranup Lampuan merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Aceh, dan sering ditampilkan untuk menyambut para tamu terhormat maupun acara penyambutan adat lainnya.
Tari Ranup Lampuan pertama kali diciptakan pada tahun 1959 oleh salah satu seniman terkenal dari Aceh yang bernama Yusrizal. Nama Tari Ranup Lampuan ini diambil dari kata “Ranup” dan “Lampuan”. Kata Ranup sendiri dalam bahasa Aceh berarti “Sirih”, sedangkan Puan adalah tempat/wadah sirih khas Aceh. Konon, tarian ini diangkat dari kebiasaan adat masyarakat Aceh dalam menyambut tamu terhormat dengan menyuguhkan sirih sebagai tanda terima mereka.
Gerakan dalam Tari Ranup Lampuan ini biasanya didominasi oleh gerakan lemah lembut yang melambangkan kesopanan dan ketulusan para penari. Apabila di perhatikan secara seksama, setiap gerakan pada tarian ini memiliki makna khusus di dalamnya. Gerakan gerakan tersebut seperti gerakan salam sembah, memetik sirih, membersihkan sirih, meyapukan kapur, memberi gambir serta pinang dan yang terakhir adalah menyuguhkan sirih kepada para tamu.
Setiap gerakan dan atribut dalam tarian ini mengandung makna simbolik. Sebagai gambaran, seluruh gerakan dalam tari ini dibawakan dengan tertib dan lembut sebagai ungkapan keikhlasan menerima tamu. Terdapat juga gerakan salam-sembah dengan tangan mengayun ke kiri, ke kanan, dan ke depan sebagai perlambang kekhidmatan mempersilakan para tamu untuk duduk. Lantas, sirih dalam puan pun dihidangkan secara nyata oleh para penari kepada tamu yang mereka sambut. Dalam masyarakat Aceh, sirih dan puan merupakan perlambang kehangatan persaudaran. Selain sebagai hidangan penyambut tamu, ranup atau sirih mempunyai peran yang penting dalam ritus-ritus sosial masyarakat Aceh, sehingga ia selalu ada dalam berbagai prosesi, dari mulai pernikahan, sunatan dan Lainnya.
Dalam perkembangannya, Tari Ranup Lampuan masih terus dilestarikan dan dikembangkan hingga sekarang. Berbagai kreasi serta variasi dalam segi gerak, pengiring, dan busana, juga sering ditambahkan di setiap penampilannya. Hal ini tentu hanya dilakukan agar terlihat menarik, namun tidak meninggalkan ciri khas dan keasliannya.
Tari Ranup Lampuan ini juga masih sering ditampilkan di berbagai acara penyambutan, seperti penyambutan tamu terhormat maupun jenis penyambutan adat lainnya. Selain itu tarian ini juga sering ditampilkan di berbagai acara budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya, dan promosi pariwisata. Hal ini dilakukan sebagai usaha pelestarian dan memperkenalkan kepada generasi muda maupun masyarakat luas akan Tari Ranup Lampuan ini.
Tari Ranup Lampuan pertama kali diciptakan pada tahun 1959 oleh salah satu seniman terkenal dari Aceh yang bernama Yusrizal. Nama Tari Ranup Lampuan ini diambil dari kata “Ranup” dan “Lampuan”. Kata Ranup sendiri dalam bahasa Aceh berarti “Sirih”, sedangkan Puan adalah tempat/wadah sirih khas Aceh. Konon, tarian ini diangkat dari kebiasaan adat masyarakat Aceh dalam menyambut tamu terhormat dengan menyuguhkan sirih sebagai tanda terima mereka.
Tari Ranup Lampuan biasanya dibawakan oleh para penari wanita. Jumlah penari tersebut biasanya terdiri dari 5-7 orang penari. Dalam pertunjukannya, para penari dibalut dengan busana tradisional yang cantik serta membawa puan dan sirih yang nantinya akan disuguhkan kepada para tamu. Dengan diiringi oleh alunan musik tradisional, mereka menari dengan gerakannya yang khas di hadapan para tamu dan penonton.
Gerakan dalam Tari Ranup Lampuan ini biasanya didominasi oleh gerakan lemah lembut yang melambangkan kesopanan dan ketulusan para penari. Apabila di perhatikan secara seksama, setiap gerakan pada tarian ini memiliki makna khusus di dalamnya. Gerakan gerakan tersebut seperti gerakan salam sembah, memetik sirih, membersihkan sirih, meyapukan kapur, memberi gambir serta pinang dan yang terakhir adalah menyuguhkan sirih kepada para tamu.
Setiap gerakan dan atribut dalam tarian ini mengandung makna simbolik. Sebagai gambaran, seluruh gerakan dalam tari ini dibawakan dengan tertib dan lembut sebagai ungkapan keikhlasan menerima tamu. Terdapat juga gerakan salam-sembah dengan tangan mengayun ke kiri, ke kanan, dan ke depan sebagai perlambang kekhidmatan mempersilakan para tamu untuk duduk. Lantas, sirih dalam puan pun dihidangkan secara nyata oleh para penari kepada tamu yang mereka sambut. Dalam masyarakat Aceh, sirih dan puan merupakan perlambang kehangatan persaudaran. Selain sebagai hidangan penyambut tamu, ranup atau sirih mempunyai peran yang penting dalam ritus-ritus sosial masyarakat Aceh, sehingga ia selalu ada dalam berbagai prosesi, dari mulai pernikahan, sunatan dan Lainnya.
Dalam perkembangannya, Tari Ranup Lampuan masih terus dilestarikan dan dikembangkan hingga sekarang. Berbagai kreasi serta variasi dalam segi gerak, pengiring, dan busana, juga sering ditambahkan di setiap penampilannya. Hal ini tentu hanya dilakukan agar terlihat menarik, namun tidak meninggalkan ciri khas dan keasliannya.
Tari Ranup Lampuan ini juga masih sering ditampilkan di berbagai acara penyambutan, seperti penyambutan tamu terhormat maupun jenis penyambutan adat lainnya. Selain itu tarian ini juga sering ditampilkan di berbagai acara budaya seperti pertunjukan seni, festival budaya, dan promosi pariwisata. Hal ini dilakukan sebagai usaha pelestarian dan memperkenalkan kepada generasi muda maupun masyarakat luas akan Tari Ranup Lampuan ini.
![]() |
| Alat-alat Peusijuek |
Data Aceh. Peusijuek adalah sebuah prosesi adat dalam budaya masyarakat Aceh yang masih dipraktikan hingga saat ini. Tradisi peusijuek ini dilakukan pada hampir semua kegiatan adat dalam kehidupan masyarakat di Aceh. Misalnya ketika memulai sebuah usaha, menyelesaikan persengketaan, terlepas atau selesai dari musibah, menempati rumah baru, merayakan kelulusan, memberangkatkan dan menyambut kedatangan haji, kembalinya keluarga dari perantauan dan masih banyak lagi.
Peusijuk juga merupakan sebuah tradisi peninggalan sejak zaman dahulu hingga kini masih digunakan. Dalam bahasa Aceh Peusijuk terdiri dari dua kata, yaitu peu dan sijuek. Jika ditilik lebih lanjut, peu dalam kata peusijuk bukanlah kata yang bisa dipisahkan karena peu di sini bermaksa sebagai awalan untuk kata sijuek. Sijuek berarti dingin, jadi jika digabung dengan awalan peu, artinya adalah pendingin atau membuat sesuatu menjadi dingin. Tujuan Peusijuk sebenarnya adalah untuk memberkati sesuatu termasuk di dalamnya mendoakan orang akan dipeusijuk.
Ritual peusijuek ini mirip dengan tradisi tepung tawar dalam budaya Melayu. Di Aceh yang melakukan acara peusijuek adalah tokoh agama maupun adat yang dituakan ditengah masyarakat. Bagi kaum lelaki yang melakukan peusijuek adalah tokoh pemimpin agama Teungku (Ustadz) sedangkan bagi wanitanya adalah Ummi atau seorang wanita yang dituakan ditengah masyarakat. Diutamakan yang melakukan peusijuek ini adalah mereka yang memahami dan menguasai hukum agama sebab prosesi peusijuek ini diisi dengan acara mendoakan keselamatan dan kesejahteraan bersama sesuai dengan agama Islam yang dianut secara umum oleh masyarakat Aceh.
Dalam budaya masyarakat Aceh, tradisi Peusijuek pada dasarnya difungsikan untuk memohon keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan. Namun fungsi peusijeuk ini juga dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya seperti, Peusijuek meulangga (saat perselisihan), Peusijuek pade bijeh (mulai menanam padi), Peusijuek tempat tinggai (menghuni rumah baru), Peusijuek peudong rumoh (membangun rumah), Peusijuek kaurubeuen (saat berkurban), Peusijuek kendaraan, Peusijuek naik haji, Peusijuek khitan, dan Peusijuek pernikahan.
Perlengkapan peusijuek terdiri dari: talam satu buah, breuh padee(beras) satu mangkok, bu leukat kuneng (ketan kuning) satu piring besar bersama tumpoe(penganan berupa kue yang dibuat dari tepung dan pisang) atau kelapa merah yang sering disebut inti u(inti kelapa), teupong taweu (tepung yang dicampur air), on sineujuek (daun cocor bebek), on manek mano (jenis daun-daunan), on naleung samboo (sejenis rerumputan yang memiliki akar yang kuat), glok ie (tempat cuci tangan), dan sangee(tudung saji). Manek mano dan naleungsamboo adalah nama jenis rumput yang diikat menjadi satu dengan daun cocor bebek lalu diletakkan dalam mangkok cuci tangan. Jika tidak ada mangkok cuci tangan, boleh diganti dengan gelas.
Tata cara pelaksanaan peusijuek dilakukan dengan urutan: pertama dengan menaburkan beras padi (breuh padee), kedua, menaburkan air tepung tawar, ketiga menyunting nasi ketan (bu leukat) pada telinga sebelah kanan dan terakhir adalah pemberian uang (teumutuek). Tata cara ini umumnya hampir sama dalam setiap prosesi peusijuek di setiap daerah, tetapi juga kadang-kadang terdapat beberapa perbedaan menurut kegiatan yang diadakanpeusijuek tersebut. Yang terakhir boleh dilakukan, boleh tidak, tergantung daerah masing-masing.
Dalam perkembangannya, tradisi Peusijuek masih terus dilestarikan dan dipertahankan hingga sekarang. Tradisi ini masih sering dilakukan di berbagai acara adat seperti pernikahan, selamatan, perayaan dan acara adat Aceh lainnya. Walaupun ada beberapa orang menganggap tradisi peusijuk ini hampir mirip dengan tradisi agama Hindu, namun dalam segi cara, isi dan tujuannya sangat berbeda berbeda.
Masyarakat Aceh percaya, bahwa tradisi Peusijuek ini merupakan hasil kearifan budaya local yang diajarkan nenek moyang. Dimana budaya dan agama harus dijalankan secara berdampingan dengan segala kebaikan yang ada di dalamnya. Sehingga yang harus hormati dan dijaga keberadaannya.
Peusijuk juga merupakan sebuah tradisi peninggalan sejak zaman dahulu hingga kini masih digunakan. Dalam bahasa Aceh Peusijuk terdiri dari dua kata, yaitu peu dan sijuek. Jika ditilik lebih lanjut, peu dalam kata peusijuk bukanlah kata yang bisa dipisahkan karena peu di sini bermaksa sebagai awalan untuk kata sijuek. Sijuek berarti dingin, jadi jika digabung dengan awalan peu, artinya adalah pendingin atau membuat sesuatu menjadi dingin. Tujuan Peusijuk sebenarnya adalah untuk memberkati sesuatu termasuk di dalamnya mendoakan orang akan dipeusijuk.
Pada kalangan masyarakat pedesaan di Aceh peusijuek merupakan prosesi adat yang cukup biasa dilakukan bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun misalnya ketika membeli kendaraan baru atau ketika hendak menabur benih padi di sawah. Sementara bagi masyarakat perkotaan yang lebih modern tradisi peusijuek ini hanya dilakukan dalam kegiatan-kegiatan adat saja misalnya dalam prosesi adat perkawinan.
Ritual peusijuek ini mirip dengan tradisi tepung tawar dalam budaya Melayu. Di Aceh yang melakukan acara peusijuek adalah tokoh agama maupun adat yang dituakan ditengah masyarakat. Bagi kaum lelaki yang melakukan peusijuek adalah tokoh pemimpin agama Teungku (Ustadz) sedangkan bagi wanitanya adalah Ummi atau seorang wanita yang dituakan ditengah masyarakat. Diutamakan yang melakukan peusijuek ini adalah mereka yang memahami dan menguasai hukum agama sebab prosesi peusijuek ini diisi dengan acara mendoakan keselamatan dan kesejahteraan bersama sesuai dengan agama Islam yang dianut secara umum oleh masyarakat Aceh.
Dalam budaya masyarakat Aceh, tradisi Peusijuek pada dasarnya difungsikan untuk memohon keselamatan, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan. Namun fungsi peusijeuk ini juga dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya seperti, Peusijuek meulangga (saat perselisihan), Peusijuek pade bijeh (mulai menanam padi), Peusijuek tempat tinggai (menghuni rumah baru), Peusijuek peudong rumoh (membangun rumah), Peusijuek kaurubeuen (saat berkurban), Peusijuek kendaraan, Peusijuek naik haji, Peusijuek khitan, dan Peusijuek pernikahan.
Perlengkapan peusijuek terdiri dari: talam satu buah, breuh padee(beras) satu mangkok, bu leukat kuneng (ketan kuning) satu piring besar bersama tumpoe(penganan berupa kue yang dibuat dari tepung dan pisang) atau kelapa merah yang sering disebut inti u(inti kelapa), teupong taweu (tepung yang dicampur air), on sineujuek (daun cocor bebek), on manek mano (jenis daun-daunan), on naleung samboo (sejenis rerumputan yang memiliki akar yang kuat), glok ie (tempat cuci tangan), dan sangee(tudung saji). Manek mano dan naleungsamboo adalah nama jenis rumput yang diikat menjadi satu dengan daun cocor bebek lalu diletakkan dalam mangkok cuci tangan. Jika tidak ada mangkok cuci tangan, boleh diganti dengan gelas.
Tata cara pelaksanaan peusijuek dilakukan dengan urutan: pertama dengan menaburkan beras padi (breuh padee), kedua, menaburkan air tepung tawar, ketiga menyunting nasi ketan (bu leukat) pada telinga sebelah kanan dan terakhir adalah pemberian uang (teumutuek). Tata cara ini umumnya hampir sama dalam setiap prosesi peusijuek di setiap daerah, tetapi juga kadang-kadang terdapat beberapa perbedaan menurut kegiatan yang diadakanpeusijuek tersebut. Yang terakhir boleh dilakukan, boleh tidak, tergantung daerah masing-masing.
Dalam perkembangannya, tradisi Peusijuek masih terus dilestarikan dan dipertahankan hingga sekarang. Tradisi ini masih sering dilakukan di berbagai acara adat seperti pernikahan, selamatan, perayaan dan acara adat Aceh lainnya. Walaupun ada beberapa orang menganggap tradisi peusijuk ini hampir mirip dengan tradisi agama Hindu, namun dalam segi cara, isi dan tujuannya sangat berbeda berbeda.
Masyarakat Aceh percaya, bahwa tradisi Peusijuek ini merupakan hasil kearifan budaya local yang diajarkan nenek moyang. Dimana budaya dan agama harus dijalankan secara berdampingan dengan segala kebaikan yang ada di dalamnya. Sehingga yang harus hormati dan dijaga keberadaannya.
![]() |
Data Aceh. Serune Kalee adalah terompet khas Aceh dengan dengan struktur bentuk mirip klarinet. Serune Kalee biasa dimainkan sebagai instrumen utama dalam sebuah pertunjukan musik tradisi di Aceh, diiringi geundrang, rapai, dan sejumlah instrumen tradisional lainnya. Hingga hari ini, Serune Kalee masih hidup lestari di lingkungan masyarakat Aceh, serta berperan besar dalam ritus-ritus sosial warga Aceh. Instrumen ini diklasifikasikan ke dalam jenis aerofon, atau instrumen yang memiliki sumber bunyi dari hembusan udara pada rongga.
Sejatinya, Serune Kalee berasal dari dua kata, yakni (serune) yang merujuk pada instrumen tradisional Aceh, dan (kalee) yang merupakan nama desa di Laweung, Kabupaten Pidie. Jadi secara sederhana, Serune Kalee bisa diartikan sebagai serunai/seruling dari daerah Kalee. Sangat mungkin penamaan tersebut dikaitkan dengan kemunculan atau tempat pembuatan serunai/seruling tersebut.
Serune Kalee memegang peranan penting dalam berbagai pertunjukan kesenian diberbagai upacara, serta acara lainnya yang merupakan hiburan bagi masyarakat aceh. Alat musuik ini berbentuk bulat lurus yang memanjang yang pada bagian atas berbentuk kecil kemudian membesar hingga ujung pada bagian bawah pada bagian tubuhnya terdapat lubang-lubang kecil untuk jari-jari, dan pada bagian bawah berbentuk seperti kelopak teratai. Serune Kalee merupakan alat jusik yang mirip dengan terompet yang berasal dari Aceh yang dimainkan sebagai instrumen utama dalam sebuah pertunjukan musik tradisi di Aceh, diiringi geundrang, rapai, dan sejumlah instrumen tradisional lainnya.
Untuk menghasilkan suara yang indah pemain harus mempunyai gigi yang utuh serta memiliki pernafasan yang kuat kemudian jari-jari kedua tangan mengatur tinggi dan rendahnya nada.
Alat Musik Tradisional Serune Kalee terbuat dari bahan kayu, yangmana kayu yang dipilih sebagai bahan dasarnya adalah yang memiliki karakter kuat dan keras, sekaligus ringan. Sebelum dibuat, kayu tersebut terlebih dahulu direndam selama tiga bulan. Setelah fase perendaman selesai, selanjutnya kayu dipangkas sehingga yang tersisa hanya bagian yang disebut sebagai ‘hati kayu’. kemudian di bor dan dibubut untuk membentuk lobang dengan diameter sekitar 2 cm. Setelah tercipta rongga, selanjutnya adalah tahap membuat lubang-lubang nada, yakni 6 lubang di bagian muka-atas sebagai interval nada, dan 1 lubang di bawah sebagai syarat terciptanya suara khas dari Serune Kalee.
Sejatinya, Serune Kalee berasal dari dua kata, yakni (serune) yang merujuk pada instrumen tradisional Aceh, dan (kalee) yang merupakan nama desa di Laweung, Kabupaten Pidie. Jadi secara sederhana, Serune Kalee bisa diartikan sebagai serunai/seruling dari daerah Kalee. Sangat mungkin penamaan tersebut dikaitkan dengan kemunculan atau tempat pembuatan serunai/seruling tersebut.
Serune Kalee memegang peranan penting dalam berbagai pertunjukan kesenian diberbagai upacara, serta acara lainnya yang merupakan hiburan bagi masyarakat aceh. Alat musuik ini berbentuk bulat lurus yang memanjang yang pada bagian atas berbentuk kecil kemudian membesar hingga ujung pada bagian bawah pada bagian tubuhnya terdapat lubang-lubang kecil untuk jari-jari, dan pada bagian bawah berbentuk seperti kelopak teratai. Serune Kalee merupakan alat jusik yang mirip dengan terompet yang berasal dari Aceh yang dimainkan sebagai instrumen utama dalam sebuah pertunjukan musik tradisi di Aceh, diiringi geundrang, rapai, dan sejumlah instrumen tradisional lainnya.
Alat ini berperan dalam membawakan lagu yang cenderung insrumentalie, yang dimainkan dengan alunan suara yang terus menerus. Yang dimainkan dengan cara ditiup dengan mengambil nafas dari mulut hidung serta leher. Biasanya dalam memainkan alat musik ini pemain menggunakan pakaian adat dalam pertunjukan maupun acara resmi.
Untuk menghasilkan suara yang indah pemain harus mempunyai gigi yang utuh serta memiliki pernafasan yang kuat kemudian jari-jari kedua tangan mengatur tinggi dan rendahnya nada.
Alat Musik Tradisional Serune Kalee terbuat dari bahan kayu, yangmana kayu yang dipilih sebagai bahan dasarnya adalah yang memiliki karakter kuat dan keras, sekaligus ringan. Sebelum dibuat, kayu tersebut terlebih dahulu direndam selama tiga bulan. Setelah fase perendaman selesai, selanjutnya kayu dipangkas sehingga yang tersisa hanya bagian yang disebut sebagai ‘hati kayu’. kemudian di bor dan dibubut untuk membentuk lobang dengan diameter sekitar 2 cm. Setelah tercipta rongga, selanjutnya adalah tahap membuat lubang-lubang nada, yakni 6 lubang di bagian muka-atas sebagai interval nada, dan 1 lubang di bawah sebagai syarat terciptanya suara khas dari Serune Kalee.
![]() |
Data Aceh. Seudati adalah perpaduan antara seni suara dan seni tari. Seni Seudati adalah jenis kesenian yang diciptakan setelah berdiri masyarakat islam Aceh yang berfungsi sebagai dakwah dan hiburan. Seudati juga bernama Saman yang berasal kata dari bahasa Arab yang berarti delapan. Dinamakan saman karena para pemainnya terdiri dari delapan orang yaitu Syekh dan para pembantunya berpakaian seragam, yaitu celana pantalon hitam atau putih, baju kaos putih berlengan panjang, di kepala para penari memakai tangkulok.
Tari Seudati adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Aceh. Tarian ini biasanya ditarikan oleh sekelompok penari pria dengan gerakannya yang khas dan enerjik serta diiringi oleh lantunan syair dan suara hentakan para penari. Tari Seudati ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di daerah Aceh, dan sering ditampilkan di berbagai acara, baik acara adat, acara pertunjukan, dan acara budaya.
Menurut sejarahnya, tarian ini awalnya tumbuh dan berkembang di Desa Gigieh, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh, yang dipimpin oleh Syeh Tam. Tarian ini kemudian mulai berkembang di daerah lain, salah satunya di Desa Didoh, Kecamatan mutiara, Kabupaten Pidie, yang dipimpin oleh Syeh Ali Didoh. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian ini kemudian mulai menyebar ke daerah Aceh lainnya, hingga kini Tari Seudati sudah menyebar ke semua daerah di Aceh.
Dulunya tarian ini juga digunakan oleh para tokoh agama sebagai media dakwah dalam menyebarkan agama Islam. Namun pada masa penjajahan Belanda tarian ini sempat dilarang. Karena syair yang dibawakan dalam Tari Seudati ini dianggap dapat menumbuhkan semangat bagi para pemuda Aceh untuk bangkit dapat menimbulkan pemberontakan kepada Belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia, tarian ini kembali diperbolehkan, bahkan tidak hanya sebagai media dakwah, tapi juga sering ditampilkan sebagai tarian pertunjukan hingga sekarang.
Salah satu ciri tarian Seudati adalah dapat dipertandingkan anatara dua kelompok yang dimainkan berganti-ganti untuk dinilai pihak mana yang lebih unggul. Ini merupakan faktor pendorong bagi kampung-kampung untuk menghidupkan kesenian ini ditempatnya. Organisasinya sangat sederhana, yaitu diketahui oleh seorang “ABU SAMAN” atau Peutua. Sedangkan pimpinan permainan dipimpin oleh seorang Syeh.
Tari Seudati ini biasanya dimainkan oleh para penari pria. Penari tersebut biasanya berjumlah 8 orang penari utama yang terdiri dari satu orang syeh, satu pembantu syeh, dua apeet wie, satu apeet bak dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu dalam tarian ini juga terdapat dua orang lain yang bertugas sebagai pelantun syair yang disebut aneuk syahi.
Gerakan dalam Tari Seudati ini sangat khas, enerjik, dan lugas. Gerakan dalam tarian ini didominasi oleh gerakan tangan dan kaki serta didukung dengan pola lantai yang bervariasi. Gerakan yang paling menonjol biasanya gerakan tepuk dada, ketipan jari, jerak tangan dan hentakan kaki yang dilakukan dengan lincah, cepat dan harmonis. Sehingga tak jarang membuat penonton terkagum-kagum menyaksikan pertunjukan Tari Seudati ini.
Tari Seudati adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari daerah Aceh. Tarian ini biasanya ditarikan oleh sekelompok penari pria dengan gerakannya yang khas dan enerjik serta diiringi oleh lantunan syair dan suara hentakan para penari. Tari Seudati ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di daerah Aceh, dan sering ditampilkan di berbagai acara, baik acara adat, acara pertunjukan, dan acara budaya.
Menurut sejarahnya, tarian ini awalnya tumbuh dan berkembang di Desa Gigieh, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh, yang dipimpin oleh Syeh Tam. Tarian ini kemudian mulai berkembang di daerah lain, salah satunya di Desa Didoh, Kecamatan mutiara, Kabupaten Pidie, yang dipimpin oleh Syeh Ali Didoh. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian ini kemudian mulai menyebar ke daerah Aceh lainnya, hingga kini Tari Seudati sudah menyebar ke semua daerah di Aceh.
Kata Seudati itu sendiri berasal dari bahasa Arab “Syahadatain” atau “Syahadati” yang bermakna “doa pengakuan”. Orang yang berniat masuk kedalam agama Islam mereka harus mengucapkan kalimat ini. Yaitu mengaku bahwa Tiada Tuhan selain ALLAH dan Nabi MUHAMMAD utusan ALLAH. Bila kita menyelidiki lebih jauh dapat diketahui bahwa tarian ini pada mulanya bukanlah sebuah tarian, akan tetapi suatu retus upacara agama dan dilaksanakan sambil duduk.
Dulunya tarian ini juga digunakan oleh para tokoh agama sebagai media dakwah dalam menyebarkan agama Islam. Namun pada masa penjajahan Belanda tarian ini sempat dilarang. Karena syair yang dibawakan dalam Tari Seudati ini dianggap dapat menumbuhkan semangat bagi para pemuda Aceh untuk bangkit dapat menimbulkan pemberontakan kepada Belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia, tarian ini kembali diperbolehkan, bahkan tidak hanya sebagai media dakwah, tapi juga sering ditampilkan sebagai tarian pertunjukan hingga sekarang.
Salah satu ciri tarian Seudati adalah dapat dipertandingkan anatara dua kelompok yang dimainkan berganti-ganti untuk dinilai pihak mana yang lebih unggul. Ini merupakan faktor pendorong bagi kampung-kampung untuk menghidupkan kesenian ini ditempatnya. Organisasinya sangat sederhana, yaitu diketahui oleh seorang “ABU SAMAN” atau Peutua. Sedangkan pimpinan permainan dipimpin oleh seorang Syeh.
Tari Seudati ini biasanya dimainkan oleh para penari pria. Penari tersebut biasanya berjumlah 8 orang penari utama yang terdiri dari satu orang syeh, satu pembantu syeh, dua apeet wie, satu apeet bak dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu dalam tarian ini juga terdapat dua orang lain yang bertugas sebagai pelantun syair yang disebut aneuk syahi.
Gerakan dalam Tari Seudati ini sangat khas, enerjik, dan lugas. Gerakan dalam tarian ini didominasi oleh gerakan tangan dan kaki serta didukung dengan pola lantai yang bervariasi. Gerakan yang paling menonjol biasanya gerakan tepuk dada, ketipan jari, jerak tangan dan hentakan kaki yang dilakukan dengan lincah, cepat dan harmonis. Sehingga tak jarang membuat penonton terkagum-kagum menyaksikan pertunjukan Tari Seudati ini.




















