Add caption
Data Aeh. Warga Kota Banda Aceh dan Aceh Besar menjadikan kue lemang bambu sebagai salah satu penganan favorit untuk berbuka pada bulan suci Ramadhan "Banyak warga menjadikan lemang bambu sebagai penganan favorit yang dihidangkan di meja makan saat berbuka puasa sehingga permintaannya meningkat selama bulan suci Ramadhan.

Permintaan kue yang terbuat dari beras ketan tersebut meningkat sekitar 30 persen di banding hari biasanya yang hanya mampu terjual 10-20 batang bambu/hari. Lemang bambu merupakan salah satu kue yang terbuat dari beras ketan yang dimasukkan ke bambu yang dijual dengan harga Rp15 ribu/batang sampai Rp60 ribu/perbatang. Harganya sesuai dengan ukuran batang bambu, jika bambunya panjang maka harganya lebih mahal.

Kue lemang bambu tersebut dapat dijumpai ditempat pedagang penjual penganan berbuka di hampir setiap sudut Kota Banda Aceh.

Cara membuat leumang cukup mudah
Pertama Alasi bilah bambu dengan daun pisang yang telah tersedia, caranya gulung daun pisang, masukkan kedalam bilah bambu dengan penjepit dari bambu. Atur supaya seluruh permukaan bambu tertutup daun dan lebihkan sekitar 5 cm dari lubang permukaan bamboo, Masukan, ke dalam santan, garam, bawang putih. Masukkan ketan kedalam bambu sampai 3/4 penuh seperti membuat lontong, tuangkan santan kedalamnya, sampai 2 ruas jari diatas ketan. Tutup dan rapatkan kelebihan daun pada bagian atas yang terbuka, ikat kuat-kuat tepat diujung bambu. Kemudian bakar diatas bara api yang cukup besarnya, dengan meletakkan bambu kearah atas agak miring. |Putar sekali-kali agar matangnya merata. Pembakaran lemang selama kira-kira 6 jam. Setelah lemang matang, angkat dari api, biarkan sampai agak dingin. Belah bambunya dan keluarkan lemangnya, leumang siap disajikan.



Data Aceh. Bagi masyarakat Aceh, kanji rumbi merupakan menu berbuka khusus di bulan Ramadhan. Hampir setiap desa di Aceh memasak kanji rumbi di meunasah, mesjid sebagai penganan berbuka puasa. Resep warisan leluhur ini abadi sampai sekarang.

Di kampung-kampung biasanya, anak-anak saban sore di bulan ramadhan membawa rantangan atau wadah dari plastik untuk menerima pembagian kanji rumbi yang di masak di meunasah atau mesjid mesjid. Mereka akan beramai-ramai membawa pulang ke rumah untuk disantap bersama keluarga kala waktu berbuka puasa tiba.

Kanji Rumbi merupakan makanan sejenis bubur yang di campur rempah-rempah khas Aceh seperti merica, adas manis, jahe, pala, kayu manis, cengkeh, bunga lawang (pekak) ketumbar, kapulaga, sere, daun pandan, daun teumeuruy, daun sop (seledri), santan kelapa, bawang merah, bawang putih, garam, minyak goreng, udang, ayam, daging daging kalau diperlukan. Karena banyak bumbu kanji dikenal dengan menu 40 macam bumbu yang mempunyai citarasa yang eksostic, gurih dan terasa pedas.
Selain lezat, Kanji rumbi juga memiliki khasiat bagi kesehatan. Rempah-rempah yang dicampur sebagai bagian dari bumbunya, dapat menjadi obat untuk manghangatkan badan, menghilangkan rasa masuk angin dalam tubuh. Maka tak salah, jika masyarakat Aceh senang menyantapnya sehabis berpuasa seharian.

Biaya untuk memasak kanji rumbi selama sebulan penuh dalam bulan Ramadhan ditanggung bersama bahu-membahu oleh warga. Jauh-jauh hari sebelum Ramdhan, para tetua kampung seperti teungku imum, tuha peut, tuha lapan dan tgk keuchik akan membuat rapat bersama warga untuk membentuk panitia kecil alias koki yang akan memasak kanji di dapur umum meunasah atau mesjid.

Di bulan puasa, selain memasak kanji di meunasah atau mesjid, warga juga setiap hari dijatahi membawa kue, untuk menambah menu berbuka puasa. Setiap hari bberapa rumah dijatahi menyediakan kue untuk di bawa ke meunasah. Penjatahan itu dilakukan bergilir dari beberapa kepala keluaraga di ujung kampung sampai ke ujung kampung satunya lagi. Sampai di akhir bulan puasa semua rumah berkesempatan beramal menyediakan makanan berbuka puasa di meunasah.

Data Aceh, Setelah gagal memberikan ceramah langsung dan di Deportasi dari Hongkong Ustadz Abdul Somad langsung di undang ke Aceh dengan Agenda Internasional yang bertajuk " Tausiyah Memperingati 13 Tahun Tsunami Aceh" yang juga dihadiri oleh ustadz dari Thailand, Malaysia, Yaman Brunei  Darussalam serta seluruh masyarakat Internasional yang berada di Aceh dalam agenda memperingati 13 Tahun Tsunami Aceh (26 Desember 2004- 26 Desember 2017).

Ustadz Abdul Somad dipastikan hadir di Aceh dan melaksanakan Tausiyah dari Tanggal 26 sampai dengan Tanggal 27 Desember 2017. Agenda Tausiyah yang dibarengi dengan Zikir Akbar yang bertaraf Internasional tersebut InsyaAllah akan dibuka dengan Pembacaan Ayat Suci Al-Quran oleh Tgk.Takdir Feriza Hasan,S.Ag (Juara Qori Internasional) Juga akan diisi oleh Ustad Novel Alaydrus, Syech Zamhuri Ramli, Tgk.H.Nuruzzahri(Waled Nu) dan para ulama dan Ustadz Aceh Lainnya.

Sumber Foto Group WA
Taman Ratu Safiatuddin, Selasa,26 Desember 2017
Mesjid Raya Baiturrahman Rabu, 27 Desember 2017

Agenda Selasa 26 Desember 2017
di Taman Ratu Safiatuddin







Data Aceh. Hymne atau gita puja adalah sejenis nyanyian pujaan, biasanya pujaan ditujukan untuk Tuhan atau sesuatu yang dimuliakan. Selain sebagai pujaan hymne juga sebagai bentuk lagu untuk mendoakan, memberi kesan agung, atau pun rasa syukur yang disampaikan dalam bentuk lagu. Hymne juga diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan. Contoh lagu perjuangan yang berbentuk hymne antara lain, Syukur, Gugur Bunga, Mengheningkan Cipta dan lain sebagainya.

Hymne : Himne ialah sajak yang berisi pujian kepada Allah, tanah air sesorang atau sesuatu yang dimuliakan.biasanya hymne memiliki irama yang lambat


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Himne adalah suatu Nyanyian Pujian (yang ditujukan kepada Tuhan atau orang suci yang kita hormati), suatu Gita Puja. Sedangkan menurut Wikipedia Ensiklopedia, “A Hymn is a type of song, ussualy religious, specifically written for the purpose of praise, adoration or prayer, and typically addressed to a God or other religiously significan figure.”

Sesuai dengan amanah melalui MoU Helsinki, di Finlandia antara GAM dan Pemerintahan Indonesia tersebut terkait Hymne
1. Penyelenggaraan Pemerintahaan Aceh
1.1. Undang-undang tentang penyelenggaraaan Pemerintah Aceh
1.1.5 Aceh memiliki Hak menggunakan simbol-simbol Wilayah termasuk bendera, Lambang dan Hymne

Hal ini sebagai sarana untuk merepresentasikan keistimewaan dan kekhususan Aceh, sebagaimana dijelaskan secara ekplisit dalam UU tersebut. 

Pemerintah Aceh Melalui DPRA melaksanakan sayembara Lomba Hymne Aceh tersebut, 

Penetapan pemenang utama sayembara himne Aceh diumumkan DPRA melalui pengumuman resmi yang ditandatangani Ketua DPRA, Tgk Muharuddin melalui Harian Serambi Indonesia, Senin (11/12). Dalam pengumuman itu, panitia sayembara juga menyertakan lirik atau syair himne karya Mahrisal Rubi, berikut dengan partitur not baloknya.

Sebagaimana diketahui, total karya yang ikut berkompetisi dalam Sayembara Himne Aceh sebanyak 85 karya. Setelah dilakukan seleksi administrasi, presentasi, dan demonstrasi karya pada 27-28 November, dewan juri kemudian menetapkan tujuh nominasi pemenang, yakni Muslizar SPd, CIOFF Aceh (Aidi Kamal), Dandi Bachtiar, Moritza Thaher, Subur Dani, Mahrisal Rubi, dan Dr Ir Wesli MT.

Berikut syair Lirik Aceh Mulia


sumber Foto Serambi

Harga Emas Terkini