Tgk.
H. Muhammad Amin atau lebih akrab disapa dengan sebutan Abu Tumin lahir pada
tanggal 17 Agustus 1932, di desa Kuala Jeumpa, kemukiman Blang Blahdeh Kecamatan
Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Beliau merupakan putra dari pasangan Ayah Tgk. H. Mahmud
Syah dan ibu Khadijah.
KELUARGA
Pada
hari Jum’at 13 Rajab 1384, Abu Tumin menikahi
Ummi Mujahidah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai enam orang anak,
diantaranya, Khairiyah Faridah, Amirullah Syahirman, Haidar Syahminar,
Muhammad, Khadijatul Mutsanna, dan Marhaban Isyatul Mardhiah.
PENDIDIKAN
Terlahir
dengan mewarisi darah ulama dan menjejakkan kaki pertamanya di bumi juga di
tanah Dayah yang dipimpin oleh kakeknya Tgk. H. Hanafiah, seolah menjadi
sugesti bagi Tgk. Muhammad Amin muda untuk terus bergelut dengan ilmu
pendidikan agama. Karenanya semenjak kecil beliau sudah memperlihatkan minat
besar dalam belajar agama. Kala itu beliau belajar agama langsung pada orang
tuanya Tgk. H. Mahmudsyah (Tgk. Muda) dan kakeknya Tgk. H. Hanafiyah (Tgk. Tua)
di samping itu beliau juga belajar pendidikan formal di Vervolkschule.
Setelah
beberapa lama belajar di dayah kakeknya, sampailah Tgk. Muhammad Amin muda pada
kesimpulan untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi, akhirnya ia memilih untuk
menempuh perjalanan religius nya ke kawasan selatan Nanggroe Aceh Darussalam
tepatnya di daerah Labuhan Haji, tempat dimana Al-Mukarram Syekh H.
Muhammad Muda Wali Al-Khalidy (Abuya Muda Wali) mengasuh sebuah Dayah Salafi
yang kelak melahirkan ratusan ulama yang tersebar di seluruh Aceh maupun luar
Aceh.
MENGASUH PESANTREN
Di
antara deburan ombak dan hembusan angin pantai Samudera Hindia, di sanalah Tgk.
Muhammad Amin muda dan ratusan santri lainnya mendapat transferan ilmu dari
Abuya sebelum akhirnya beliau kembali ke Negeri Jeumpa pada tahun 1960 untuk
melanjutkan estafet kepemimpinan dayah dari kakeknya yang sudah
berdiri sejak tahun 1890. Dayah yang berlokasi satu komplek dengan dengan
masjid Jami’ kemukiman Blang Bladeh ini pada awalnya belum mempunyai nama,
hanya dikenal dengan sebutan “Rangkang”. Baru di masa kepemimpinan Abu Tumin
dayah tersebut beliau beri nama dengan Al-Madinatuddiniyah Babussalam.
Semenjak
kepemimpinan beliau, Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam mengalami
perkembangan yang sangat signifikan. Hal ini terlihat pada acara Haul perayaan
57 tahun berdirinya Dayah tersebut yang diselenggarakan pada tanggal 21 Mei
2017 di komplek Dayah Al-Madinatuddiniyah Babussalam Blang Bladeh dari beberapa
waktu yang lalu, di mana ribuan alumni dari berbagai daerah dan kalangan
memadati Komplek Dayah untuk mengikuti acara dengan penuh khidmat. Saat ini
dayah tersebut menampung sekitar 1.300 santri Putra dan 890 santri putri yang
dikarantinakan pada dua lokasi terpisah. Al-Madinatuddiniyah Babussalam Putra
berdiri di atas tanah dengan luas 1 hektar, terletak di desa Kuala Jeumpa.
Sementara Al-Madinatuddiniyah Babussalam Putri terletak di Desa Blang Bladeh
dengan luas area 800 Meter persegi.
Di
sela-sela rutinitas dalam mengasuh Dayah, beliau juga terlibat aktif dalam
berbagai forum dan kegiatan. Sebut saja dalam bidang diskusi keagamaan atau
muzakarah misalnya, beliau dan ulama-ulama Aceh lainnya selalu berada di
panggung utama sebagai pemateri untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi
ummat.
Sebagai
salah satu ulama sepuh di Aceh, beliau terlihat sangat loyal terhadap Mazhab
Syafi’i, di mana beliau tetap bersikukuh untuk berpegang dengan pendapat yang
kuat dalam Mazhab Syafi’i sekalipun harus berbeda dengan sebagian ulama
lainnya, seolah beliau ingin berpesan kepada kita : “beginilah seharusnya
bermazhab”.
KARIER
Di
organisasi, beliau aktif di Dewan Majelis Syuyukh Majelis Permusyawaratan Ulama
(MPU) Provinsi Aceh, Majelis Syura Inshafuddin Provinsi Aceh, Penasehat Ulama
Dayah Aceh (HUDA) dan beliau juga tercatat bersama 7 ulama lainnya sebagai
Anggota Majelis Tuha Peuet Lembaga Wali Nanggroe Aceh periode 2016-2021.
Di
samping aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, Abu Tumin juga sangat peduli
dalam hal berbangsa dan bernegara. Dalam kesibukannya yang luar biasa, beliau
masih menyempatkan diri menganalisa keadaan bangsa dan memberikan solusinya.
Sebagaimana
yang dimuat di beberapa media, pernah suatu ketika Abu diajukan pertanyaan oleh
wartawan tentang kondisi Aceh hari ini, dengan bahasa filosofinya yang
sederhana tapi sarat dengan makna Abu menjawab : “Malakat kana lam jaroe, tuah
kana bak droe, tapi lagee-lagee hana ta tu’oh peutimang” maksudnya “perdamaian
dengan segala hal yang melekat di dalamnya, seperti MoU Helsinki dan UUPA
adalah salah satu malakat dan tuah yang dimiliki Aceh saat ini dan ini menjadi
jembatan untuk Aceh menuju masa depan yang lebih cemerlang, tapi sepertinya keistimewaan
tersebut malah kita sia-siakan”.
Lebih
lanjut, Abu menuturkan saat ini Aceh membutuhkan sosok pemersatu yang mampu
menyatukan seluruh elemen masyarakat dan sanggup memupuk persatuan antara ulama
dan Umara dalam membangun Aceh, seperti yang telah dipraktikkan oleh indatu
kita pada masa Iskandar Muda. Ketika ulama dan Umara berjalan sendiri-sendiri
maka dengan sendirinya umat akan terkotak menjadi dua bagian. Tetapi ketika
ulama dan umara sudah bersatu maka yang lahir hanyalah satu keputusan dan umat
pun akan bersatu dalam satu keputusan.
Pada
masa Iskandar Muda, ulama dan umara bersanding untuk membangun Aceh bukan malah
bersaing maka lahirlah istilah “Adat bak Poe Teumeureuhom, hukom bak Syiah
Kuala” sebagai simbol persatuan dua kekuatan yaitu umara dan ulama. Padahal,
masih menurut Abu “watak masyarakat Aceh dari dulu sampai sekarang tidak pernah
berubah, yang berubah adalah perangai nya disebabkan pengaruh budaya Global”.
Kemudian
beliau merincikan tiga macam watak masyarakat Aceh yaitu : Geunaseh (pengasih)
Seutia (setia) Beuhe (berani).
Sebagai
ulama kharismatik yang lahir sejak masa penjajah, Abu Tumin menilai, ketiga
watak yang melekat pada masyarakat Aceh ini merupakan aset yang bisa kita
gunakan sebagai landasan untuk embangun aceh. Tapi Aceh yang tidak
dipecah-pecah ke dalam bagian-bagian kecil, sehingga identitasnya hilang papar
beliau. Karenanya, dalam banyak kesempatan beliau selalu mengingatkan tentang
pentingnya persatuan, lebih-lebih lagi persatuan antara ummat dan ulama.
Beliau
sangat mengecam oknum-oknum yang ingin memisahkan ummat dari ulama. Sebagaimana
yang pernah beliau sampaikan dalam Acara Muzakarah Ulama se-Aceh yang diadakan
di Paya Pasi tahun 2016 silam. Kata beliau
“Apabila ada pihak-pihak yang hendak
memisahkan masyarakat muslimin Aceh dengan ulama, nyan beuneuteupue racon bagi
droneuh, nyoe peusan, nyoe peusan, nyoe peusan dari ulon tuan”,
lanjut beliau
lagi “apabila teuma masyarakat nyoe ka meupisah ngon ulama, yang poh ulama
adalah ureueng Aceh sendiri” tutur beliau di depan ratusan masyarakat pada
acara tersebut.
Kepedulian
dan kepiawaian belia dalam segala bidang ini membuat sosok Abu Tumin dijadikan
rujukan oleh sebagian besar masyarakat dan pemerintah Aceh, bahkan dari
kalangan apapun ketika berkunjung ke Aceh, serasa belum lengkap jika belum
bersilaturrahmi dengan beliau.
Tidak
hanya di dunia nyata, di dunia maya sendiri nama beliau termasuk salah satu
yang dijadikan tujuan pencarian, tapi sayangnya beliau tidak pernah bersentuhan
dengan Sosial Media (Sosmed). Kalau ada akun di media sosial baik Facebook,
Twitter atas nama beliau maka dapat dipastikan akun tersebut dikelola oleh
orang yang tidak bertanggung jawab dan Abu tidak tahu-menahu tentang hal
itu. “Abu berinteraksi face to face tidak mel
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
Lirik
Bungong Jeumpa Bungong Jeumpa Meugah di Aceh Bungong teuleubeh teuleubeh Indah lagoina
Bungong Jeumpa Bungong Jeumpa Meugah di Aceh Bungong teuleubeh teuleubeh Indah lagoina
Lam sinar buleun lam sinar buleun Angen peu ayon Luroh meususon meususon yang mala mala Lam sinar buleun lam sinar buleun Angen peu ayon Luroh meususon meususon yang mala mala
Keubit that meubee meunyoe tatem com Leupah that harom si bungong jeumpa Keubit that meubee meunyoe tatem com Leupah that harom si bungong jeumpa
Bungong Jeumpa Bungong Jeumpa Meugah di Aceh Bungong teuleubeh teuleubeh Indah lagoina
Bungong Jeumpa Bungong Jeumpa Meugah di Aceh Bungong teuleubeh teuleubeh Indah lagoina
Lam sinar buleun lam sinar buleun Angen peu ayon Luroh meususon meususon yang mala mala Lam sinar buleun lam sinar buleun Angen peu ayon Luroh meususon meususon yang mala mala
Keubit that meubee meunyoe tatem com Leupah that harom si bungong jeumpa Keubit that meubee meunyoe tatem com Leupah that harom si bungong jeumpa
Leupah that harom si bungong jeumpa Leupah that harom si bungong jeumpa
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
Sejarah Aceh Oleh Tgk Abdul Azis
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
Gambar hanya sebuah ilustrasi
Data Aceh - Gampong Lampeudaya merupakan perpaduan dari dua buah kata, yaitu “Lam” dan “Peudaya”. “Lam” berarti “dalam” sedangkan “Peudaya” artinya “memperdayai/mempengaruhi”. Sehingga arti dari kata “Lampeudaya” adalah dalam memperdayai.
Secara historis, nama Gampong Lampeudaya berasal dari kejadian seekor ular naga. Di mana menurut cerita secara turun temurun, dahulu ada seekor ular naga yang bersuara sangat keras di Gampong tetangga, yaitu Gampong Suleu yang suaranya terdengar sampai ke Gampong Lampeudaya. Ular naga itu hendak dibunuh oleh masyarakat Suleu, kemudian menyingkir ke Gampong Lampeudaya.
Masyarakat Gampong Lampeudaya mencari solusi untuk membunuh ular tersebut dengan cara memperdaya ular tersebut dengan racun, yaitu diracuni dengan kapur sirih sehingga ular tersebut menjadi tak terkendali dan melarikan diri ke sawah. Sampai di sawah ular naga tersebut akhirnya mati akibat reaksi dari racun kapur sirih tersebut. Maka sejak kejadian itu orang-orang tua Gampong Lampeudaya sepakat untuk memberi nama Gampong mereka dengan sebutan Gampong Lampeudaya.
Nama ini timbul karena masyarakat Lampeudaya sudah berhasil memperdayai ular naga yang besar dan ganas tersebut hingga mati. Kemudian dari tahun ke tahun hingga beralih generasi nama Gampong ini masih terkenal dengan sebutan Lampeudaya karena dapat memperdayai seekor ular naga. Berdasarkan peristiwa yang sangat bersejarah itulah sampai saat ini masih bernama Gampong Lampeudaya.
sumber : Lampeudaya.web.id
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
Sejak tiga tahun terakhir Gampong Peulanggahan, Banda, Aceh banyak dikunjungi pengunjung yang datang dari Persia, Malaysia, Jakarta, atau Medan. Mereka berziarah ke sebuah makam yang terletak persis di samping masjid Teungku Di Anjong di Gampong Peulanggahan, Banda Aceh. Makam yang mereka ziarahi adalah makam seorang ulama yang berilmu tinggi dan kasyaf yang terkenal di Aceh dengan gelar Teungku Di Anjong. Khusus pengunjung dari Hadhramaut, para penziarah tersebut terdiri atas para ulama habaib yang masyhur seperti Habib Umar bin Hafidz dan Habib Kazim Assagaf dari pesantren Daarul Mustafa di Tarim, Habib Salim Assyathiri dan Habib Saleh bin Muhammad Alatas. Sudah sejak lama memang makam ini sepi dari penziarah apalagi dari luar negeri. Namun, perhatian masyarakat kembali muncul pada 14 Ramadhan 1429 Hijrah (tahun 2008 M) sewaktu diadakannya kembali kenduri Teungku Di Anjong yang dilaksanakan oleh masyarakat Peulanggahan bersama Rabithah Alawiyah Provinsi Aceh.
Teungku Di Anjong adalah seorang ulama besar yang hidup pada masa kerajaan Aceh Sultan Alauddin Mahmud Syah, 1760 - 1781 M. Penobatan nama Teungku Di Anjong adalah gelar yang dianugerahkan dengan ungkapan Teungku yang “dianjong” yang berarti disanjung atau dimuliakan. Dalam versi lain juga dikatakan bahwa gelar Teungku Di Anjong diberikan karena ulama ini banyak menghabiskan ibadah dengan shalat, berzikir, shalawat dan membaca ratib di anjungan masjid yang bertingkat tiga. Beliau dikenal sebagai ulama tasawuf, juga berperan sebagai ulama fikih dan telah membimbing manasik haji bagi calon-calon jamaah baik dari dalam wilayah kesultanan Aceh, Sumatera, Pulau Jawa, bahkan juga jamaah dari Semenanjung Malaya yang akan menunaikan ibadah haji melalui Aceh.
Peran Teungku Di Anjong dalam menyelamatkan kerajaan Aceh tertulis dalam naskah penelitian lapangan yang ditulis oleh Adnan
Abdullah dari Pusat Pengembangan Ilmu Sosial Universitas Syiah Kuala (1987) yang mengemukakan tentang kejadian pada masa Sultan Alauddin Mahmud Syah. Saat itu kerajaan Aceh mengalami defisit neraca pembayaran (utang) dalam jumlah besar kepada kerajaan Inggris. Hal ini sangat mencemaskan Sultan, karena menyangkut martabat kerajaan. Konon kabarnya pula, meskipun semua hasil emas yang diperoleh dari tambang di Pariaman dikumpulkan, bersama-sama dengan seluruh kekayaan kerajaan, namun jumlahnya masih belum mencukupi untuk melunasi utang kepada kerajaan Inggris. Sultan kemudian diberi pendapat oleh majelis kerajaan agar meminta bantuan Teungku Di Anjong. Saran tersebut diterima dan dikirimlah utusan menghadap Teungku Di Anjong yang dibekali dengan seperangkat hidangan makanan untuk memuliakan ulama tersebut. Mengetahui maksud kedatangan utusan, Teungku Di Anjong menyarankan agar persoalan ini dibicarakan dengan Teungku Syiah Kuala, mufti kerajaan Aceh. Namun, Teungku Syiah Kuala menyatakan ketidakmampuannya memenuhi permintaan Sultan dan beliau menyatakan bahwa hanyalah Teungku Di Anjong yang sanggup membantu Sultan. Teungku Di Anjong pun bersedia dan meminta untuk disediakan beberapa buah goni ke salah satu tempat di pinggir Krueng Aceh. Semua goni diisi dengan pasir dan diangkut ke Pantai Cermen, Ulee Lheue. Sedangkan hidangan dari Sultan beliau kembalikan dengan pesan bahwa salah satu dari hidangan tersebut hanya boleh dibuka oleh Sultan sendiri. Ketika Sultan membuka hidangan itu, ternyata isinya emas dan permata. Begitu juga pasir dalam goni yang dibawa ke Pantai Cermen sudah berubah menjadi perak. Dengan logam mulia itulah Sultan Aceh membayar utang kepada kerajaan Inggris. Dengan demikian, martabat Aceh yang nyaris luntur karena tidak mampu membayar utang tetap terpelihara dalam pandangan kerajaan Inggris.
Nama sebenarnya Teungku Di Anjong adalah Al Habib - Sayyid Abubakar bin Husain Bilfaqih. Beliau berasal dari wilayah Hadhramaut, negeri Yaman. Kisahnya hingga kini masih diceritakan oleh para ulama habaib dari negeri asalnya Hadhramaut, seperti yang disebutkan para penziarah dari Yaman yang datang ke Peulanggahan. Manaqib tersebut menyebutkan bahwa kedatangan Teungku Di Anjong ke Aceh tidak langsung melalui Hadhramaut. Beliau terlebih dahulu mempelajari dan mengamalkan secara sungguh-sungguh semua kandungan yang terdapat dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali bersama dengan dua ulama lainnya di Madinah. Ulama yang pertama adalah Sayyid Abdurrahman bin Musthafa Alaydrus yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Mesir dan yang kedua ialah Sayyid Syeikh bin Muhammad Al-Jufri yang berjalan menuju Malabar, India.
Untuk meletarikan situs sejarah Islam di Banda Aceh, masyarakat Peulanggahan masih tetap menjaga bentuk bangunan masjid tersebut seperti sedia kala. Masjid dan makam ini kembali dibangun oleh BRR Aceh pada tahun 2009 dengan struktur beton, namun tetap menjaga bentuk awalnya dengan tambahan sarana lainnya seperti halaman aspal dan tempat wudhuk.
Status tanah bangunan masjid ini adalah tanah wakaf seluas situs 4 Ha. Sebelum mendirikan masjid, ulama ini terlebih dahulu memanfaatkan rumahnya (Rumoh Cut, atau rumah kecil) yang sangat sederhana sebagai tempat pengajian dan asrama bagi murid-muridnya yang memperdalam agama Islam dan bermalam di sana. Oleh karena perkembangannya semakin pesat, rumahnya tidak mampu lagi menampung murid- muridnya. Akhirnya beliau mendirikan masjid yang bukan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga dimanfaatkan untuk bermusyawarah, kepentingan pengajian, dan lain-lainnya. Mesjid Teungku Di Anjong selain berfungsi sebagai sarana tempat shalat dan kegiatan - kegiatan ibadah lainnya, pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia masjid ini pernah dijadikan markas perjuangan kemerdekaan oleh laskar perjuangan Aceh dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari rongrongan penjajah Belanda. Jadi masjid ini tercatat sebagai salah satu masjid bersejarah di Kota Banda Aceh. (Makalah Drs. Husaini Ibrahim, MA, 2006).
Masjid Teungku Di Anjong yang ada sekarang dahulunya dikenal oleh masyarakat dengan sebutan dayah yang terdiri atas tiga lantai. Lantai pertama disebut dengan Hakikat, lantai kedua Tarekat, dan lantai ketiga Makfirat. Dayah ini pernah dibakar oleh Belanda karena dianggap sebagai pusat doktrin antipenjajahan (Tgk.H. Ibrahim Bardan, 2008). Snouck Hurgronje, dalam bukunya The Atjehers, juga menyaksikan bahwa makam Teungku Di Anjong menjadi tempat melakukan tradisi Peuleuh Kaoy atau bernazar, dan mencatatnya sebagai makam ulama yang paling dihormati di Aceh.
Di kawasan masjid Teungku Di Anjong dahulunya juga dibangun semacam asrama untuk menampung jemaah haji yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Rumoh Raya. Bisa dikatakan bahwa gelar Aceh Serambi Mekah sangat erat kaitannya dengan peran Tengku Di Anjong dalam membimbing jamah haji yang mendapatkan dukungan kerajaan Aceh pada masa itu.
* Penulis adalah warga Gampong Peulanggahan, Banda Aceh
Oleh Bustami
Sumber: aceh.trinnews.com Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
DATA ACEH - Pertumbuhan Teknologi Informasi saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan untuk semua lapisan masyarakat khususnya Aceh saat ini. Aceh saat ini sedang memaksimalkan konsep Smart City untuk memberikan pelayanan terpadu, mudah, cepat kepada masyarakatnya. ITCamp 2015 akan menjadi sebuah langkah awal kegiatan tahuan
yang di selenggarakan oleh “Aceh Smart City” dengan dukungan seluruh komunitas IT Aceh untuk memberikan kontribusi berbasis teknologi infomrasii kepada masyarakat untuk dapat mempercepat penggunaan teknologi informasi sebagai sarana pelayanan publik.
Kegiatan ITCamp 2015 ini di kemas metode belajar baru yang melibatkan peserta dengan alam, untuk mewujudkan rasa tanggung jawab atas lingkungan, memberikan peserta pemahaman kepemimpinan dan kepedulian terhadap daerah masing masing serta rasa kebersamaan antara komunitas untuk mewujudkan misi besar bersama yakni memberikan dan turut berpartisipasi dalam membangun daerahnya.
ITCamp 2015 ini merupakan konsep baru yang akan memberikan pemahama lebih mendalam kepada peserta dengan output kegiatan adalah pendampingan masyarakat berbasis tekonlogi informasi yang di laksanakan secara bersama sama tanpa ada sekat. Sehingga Aceh akan siap untuk bersaing di Masyarakat Ekonomi Asia yang sebentar lagi akan memasuki Indonesia sehingga peran setiap element saat ini sangat di butuhkan.
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
DATA ACEH - Pra Study Pulau Nasi ini adalah untuk memberi gambaran umum kepada semua pihak yang berkepentingan dalam upaya pengembangan wilayah tersebut serta sebagai refferensi untuk melakukan kepentingan tingkat lajut dalam menyusun feasibility Study (Study kelayakan Usaha) Pengembangan Pulau Aceh Khususnya Pulau Nasi menjadi lebih baik.
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
DATA ACEH - Profil Desa/Kampung adalah gambaran menyeluruh tentang karakter Kampung yangmeliputi data Dasar keluarga, potensi sumber daya alam, sumber daya manusia,kelembagaan, prasarana dan sarana serta perkembangan kemajuan danpermasalahan yang dihadapi sebuah Kampung.
Data yang valid dan akuntabel merupakan salah satu elemen penting dalamperencanaan pembangunan baik di tingkat pusat maupun pada tingkat daerah.Namun fenomena selama ini, perhatian terhadap penyusunan data yang akurattersebut, khususnya data base pada tingkat kampung, masih belum optimal.
Sebagai contoh dapat dilihat dari perbedaan data jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin, anak putus sekolah maupun jumlah pemilih dari setiap institusipemerintah terkait.Mencermati hal ini, Kementerian Dalam Negeri menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan dan Pendayagunaan Data Profil desa dan kelurahan. Di dalam Permendagri ini diaturmekanisme dan instrumen yang menjadi acuan dalam penyusunan data base suatudesa. Secara umum, dalam penyusunan data profil desa dan kelurahan meliputi kegiatan-kegiatan penyiapan instrumen pengumpulan data, penyiapan kelompok kerja profil desa dan kelurahan, pelaksanaan pengumpulan data, pengolahan data,publikasi data profil desa dan kelurahan.Selanjutnya dalam pendayagunaan data profil desa dan kelurahan diarahkan pada pemanfaatan data sebagai data dasar bersama pelaku pembangunan desa dan kelurahan dalam mendukung perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi dan pelestarian kebijakan, program dan kegiatan penanggulangan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, pelayanan publik,pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa dan kelurahan,lembaga kemasyarakatan serta penataan wilayah adminstrasi pemerintahan.
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
DATA ACEH- Data Belanja Propinsi Aceh yang disalurkan kedaerah Pada tahun 2019 berdasarkan TAHUN ANGGARAN 2019 ( PERGUB 133 TAHUN 2018)
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
TEUNGKU CHIK DI AWE GEUTAH
Di Desa Awe Geutah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, ada rumah adat asli Atjeh yang masih berdiri kokoh walau usianya sudah ratusan tahun lamanya. Namun, dibalik itu banyak yang tidak mengetahui riwayat tentang pendirinya, Teungku Chik Awe Geutah, seorang ulama yang sangat berperan dalam mengembangkan agama Islam di Atjeh.
Sayangnya jasa-jasa Teungku Awe Geutah seperti terlupakan. Belum ada sejarawan yang menulis riwayat tentang ulama Sufi itu. Kebanyakan mereka hanya datang untuk melihat pesona Rumoh Atjeh yang masih terpelihara keasliannya sampai kini. Tanpa ada yang mau peduli untuk mengabadikannya untuk kita kenang sepanjang masa. Sehingga dikhawatirkan sejarah tentang tokoh ulama besar Atjeh tersebut akan punah ditelan masa.
Pihak keluarga Teungku Chik Awe Geutah sendiri sudah banyak yang tidak mengetahui lagi secara mendetail tentang riwayat ulama yang dikenal keramat itu. Makanya untuk menulis kisah tentang Teungku Chik Awe Geutah sangat sulit. Sebab, tidak ada literatur atau referensi sebagai pedoman untuk menguatkan kebenaran penulisan sejarahnya itu.
Untunglah ada seorang peminat sejarah, khususnya tentang riwayat Teungku Chik Awe Geutah, yang masih tersisa di sana. Namanya Teungku Syamaun Cut alias Cut Teumeureuhom. Sebenarnya dia bukan bukan keturunan Teungku Chik Awe Geutah. Tapi kakeknya dulu pernah tinggal bersama anggota keluarga keturunan Teungku Chik Awe Geutah.
Dari cerita-cerita kakeknya itulah dia banyak mengetahui sejarah Teungku Chik Awe Geutah. Malah buruh kilang padi itu punya dokumentasi khusus, dan mengetahui silsilah Teungku Chik Awe Geutah sampai tujuh keturunan hingga saat ini. Nah, tulisan ini berdasarkan penuturannya kepada saya beberapa waktu lalu di bawah rumah Atjeh tersebut. Keterangan laki-laki berusia 70 tahun itu, juga dibenarkan beberapa anggota keluarga keturunan Teungku Chik Awe Geutah yang mendampingi kami ketika itu.
Dikisahkan Cut Teumeuruhom, Teungku Chik Awe Geutah bernama asli Abdul Rahim bin Muhammad Saleh. Dia seorang ulama Sufi, yang berasal dari Kan’an, Iraq. Kemudian merantau dan menetap di Desa Awe Geutah, sampai dia meninggal di sana. Namun tidak diketahui persisnya tahun berapa dia pertama kali menginjakkan kaki di desa pedalaman Kecamatan Peusangan Siblah Krueng itu. Di batu nisannya pun tidak tertera tahun meninggal ulama besar tersebut.
Perjalanannya mencari Awe Geutah sebagai tempat menetap, sekaligus mengembangkan agama Islam yang aman dan damai, punya kisah tersendiri. Syahdan sekitar abad ke 13 yang lampau, Abdul Rahim bin Muhammad Saleh sekeluarga, serta tiga pria saudara kandungnya, dan sejumlah pengikutnya melakukan hijrah.
Mereka meninggalkan tanah kelahirannya.Sebab, waktu itu ada pertentangan antar pemeluk agama Islam di sana, meyangkut perbedaan khilafiyah. Untuk menghindari perselisihan yang bisa berakibat perpecahan antar pemeluk agama Islam itulah Abdul Rahim bersama keluarga dan para pengikutnya berinisiatif melakukan hijrah ke tempat lain.
Pencarian untuk mendapatkan negeri yang aman dan tenteram itu, membuat mereka harus menyingggahi beberapa tempat. Pertama Abdul Rahim beserta rombongan mendarat di kepulauan Nicobar dan Andaman di Samudera Hindia. Kemudian singgah di pulau Weh. Lalu ke pulau Sumatera, yang waktu itu mereka menyebutnya pulau Ruja. Di pulau tersebut mereka menetap beberapa saat di Gampong Lamkabeu, Atjeh Besar.
Merasa belum menemukan tempat yang cocok sebagai tempat menetap, lalu mereka melanjutkan lagi pelayaran. Namun seorang saudara kandung Abdul Rahim tidak mau lagi melanjutkan perjalanan. Namanya tidak diketahui persis. Dia saat itu sudah memantapkan pilihan hatinya untuk bertahan di sana. Konon kabarnya dia kemudian menetap di Tanoh Abee. Di sana dia membangun tempat pengajian. Kelak dia lebih dikenal dengan nama Teungku Chik Tanoh Abee.
Sedangkan pengikut rombongan Abdul Rahim kemudian melanjutkan pengembaraannya. Rombongan tersebut akhirnya mendarat di Kuala Jangka (Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen-red). Sebab, mereka melihatdi situ banyak pelayar yang singgah. Di sana mereka mendapati beberapa toke dari India yang melakukan transaksi penjualan pinang di Kuala Jangka. Salah satunya bernama Cende. Dia mengaku kepada Abdul Rahim, sudah sering pulang-pergi ke Kuala Jangka. Waktu itu Kuala Jangka sudah menjadi pelabuhan yang maju, dan disinggahi para pedagang dari berbagai negara.
Rombongan Abdul Rahim kemudian menetap di Asan Bideun (Sekarang Desa Asan Bideun, Kecamatan Jangka-red). Mereka tinggal beberapa waktu dan mendirikan balai pengajian untuk mengembangkan dan mengajarkan ilmu agama Islam kepada penduduk di sana. Suatu hari Abdul Rahim melihat beberapa perempuan setempat, termasuk istrinya, yang kemudian dikenal dengan nama Teungku Itam, pulang mencuci di sungai dengan berkemben (memakai kain yang menampakkan bagian dada atas). Melihat pemandangan yang tidak biasanya itu, Abdul Rahim punya firasat lain. Dia berkesimpulan, Asan Bideun bukanlah tempat yang cocok sebagai tempat mereka menetap. Negeri itu sudah laklim.
Lalu mereka sepakat pindah ke tempat lain. Kali ini rombongan terpecah lagi, mereka terbagi tiga kelompok. Satu kelompok yang dipimpin adiknya Abdul Rahim menuju Paya Rabo dan menetap di sana (Sekarang Desa Paya rabo masuk wilayah Kecamatan Sawang, Kabupaten Atjeh Utara). Kelompok yang dipimpin adiknya yang lain pergi dan menetap di Pulo Iboh (Sekarang masuk wilayah Kecamatan Jangka).
Sedangkan satu kelompok lagi yang dipimpin Abdul Rahim sendiri hijrah ke Keudee Asan (Sekarang masuk wilayah Kecamatan Peusangan Selatan). Di sana rombongan tersebut sempat menetap beberapa waktu, dan mengadakan pengajian bagi penduduk setempat.
Namun setelah sekian lama menetap di Keudee Asan, dia merasa tempat itu belum cocok untuk dijadikan tempat menetap yang benar-benar sesuai keinginannya. Untuk itulah Abdul Rahim melaksanakan shalat istikharah empat malam berturut-turut, untuk memohon petunjuk dari Allah, dan harus naik ke atas bukit menghadap empat arah penjuru mata angin.
Malam pertama setelah Abdul Rahim melaksanakan shalat istikharah tengah malam, dia naik ke sebuah bukit yang cukup tinggi, namanya Gle Sibru (Sekarang masuk wilayah Desa Cibrek, Kecamatan Peusangan Selatan). Di atas bukit itu Abdul Rahim berdiri menghadap ke arah selatan. Agak lama juga dia menatap ke sana, namun tidak tampak apa-apa. Yang terlihat hanya pucuk labu. Konon kabarnya, pucuk labu yang dilihat Abdul Rahim itu adalah Desa Geulanggang Labu, Kecamatan Peusangan Selatan sekarang.
Malam kedua, setelah shalat istikharah, Abdul Rahim naik lagi ke atas bukit tersebut. Kali ini dia menghadap ke arah barat, tapi dia tidak melihat apapun. Malam berikutnya dia juga melakukan hal yang sama, dengan menghadap ke arah utara. Hasilnya tetap nihil, tidak mendapatkan petunjuk apa-apa.
Baru pada malam keempat Abdul Rahim mendapatkan hasilnya. Ketika dia menghadap ke arah timur, pandangan matanya terlihat sesuatu. Seberkas cahaya putih bersih dia lihat menyembul di sana. Abdul Rahim berkeyakinan, di daerah sembulan kilauan cahaya itulah tempat yang aman dan damai sebagai tempat tinggal yang permanen.
Maka keesokan harinya mereka langsung berangkat menuju ke daerah asal cahaya tadi. Singkat cerita, sesuai petunjuk Abdul Rahim yang memimpin perjalanan, tibalah mereka di sebuah tempat yang diyakininya sebagai daerah asal cahaya itu.
Saat itu, di sana masih berhutan belantara. Kemudian hutan-hutan itu mereka tebang dan bersihkan untuk dijadikan perkampungan. Suatu hari sambil melepas lelah, setelah capek bergotong-royong, Abdul Rahim menanyakan pada rekan-rekannya, apa nama yang cocok ditabalkan untuk tempat pemukiman baru itu. Ada beberapa nama yang diusulkan mereka, tapi dirasakan tidak ada yang cocok.
Seorang di antara mereka, sambil duduk-duduk membersihkan getah rotan yang lengket di tangannya, mengusulkan sebuah nama.
“Untuk apa capek-capek memikirkan nama. Bagaimana kalau kita namai saja Awe Geutah?”
tanya orang itu. Usulan itu pun diterima Abdul Rahim dan rekan-rekan mereka yang lain. Nah, sejak saat itulah tempat pemukiman baru mereka itu dinamakan Awe Geutah.
Sumber:FB Are Lando
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
Data Aceh- Gampong Darussalam adalah sebuah kosep Pengembangan Desa dengan mengedepankan kearifan Lokal dan Resource yang dimiliki sebuah Daerah, Semoga Bermanfaat
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
Data Aceh - TOR Survey UMKM ini merupakan sebuah konsep sederhana yang menggambarkan tentang Perusahaan serta Output yang akan dicapai dalam sebuah survey terhadap UMKM yang Feseable tetapi belum bankable, semoga bermanfaat.
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
DATA ACEH - Profil Desa Mandiri merupkan TOR yang menggambarkan tentang informasi Update dari Desa yang dapat digunakan untuk setiap desa
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
DATA ACEH - Konsep Pasar Muamalah, merupakan pasar yang menggunakan alat Tukar/Sistem Barter Menggunakan Dinar Dirham, dengan konsep TOR ini menggambarkan tentang proses pelaksanaan Pengerjaan dan estimasi biaya yg akan dikeluarkan.
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
Data Aceh - Meureudu merupakan ibukota Pidie Jaya usai pemekaran dari Pidie. Kota ini terletak di pesisir timur Kabupaten Pidie Jaya. Daerah ini terkenal dengan aneka masakan khas India yang lezat, seperti martabak kari dan nasi briani yang tidak berbeda jauh dengan negara asalnya, karena mayoritas penduduk Meureudu merupakan keturunan Hindi (India).
Penamaan nama Meurudu terkait dengan sejarah meluasnya wilayah Kerajaan Aceh Darussalam yang berpusat di Banda Aceh. Berdasarkan cerita turun temurun penduduk Pidie Jaya, Meureudu berasal dari kata meurah du yang artinya gajah duduk.
Konon dikisahkan pada saat Sultan Aceh melakukan perjalanan ke daerah-daerah dia menumpang seekor gajah. Namun saat tiba di Meureudu, gajah tersebut kelelahan dan beristirahat. Akibatnya, lokasi armada gajah milik Kerajaan Aceh beristirahat ini kemudian disebut sebagai Meurah Du yang kemudian menjadi Meureudu. Lokasi gajah duduk milik Sultan Aceh tersebut berada di Gampong Meunasah Raya, Meureudu. Di sana terdapat sebuah monumen yang menceritakan asal mula penamaan Meureudu, yang bisa ditemui hingga sekarang.
Di catatan sejarah lainnya yang ditulis Ali Hasjmy mengungkapkan bahwa penamaan Meureudu berasal dari nama salah satu putera Makdum Malik Mansur dari kerajaan Peureulak. Ia terkenal dengan gelar Meurah Meria atau Tue Mersa.
Makdum Malik Mansur memiliki tujuh orang anak laki-laki, yaitu Meurah Jernang, Meurah Bacang, Meurah Itam, Meurah Puteh, Meurah Silu dan Meurah Mege. Ketujuh anaknya tersebut ditugaskan menyebarkan dakwah ke daerah-daerah lainnya di luar Peureulak seperti ke Seunagan, Barus, Beuracan, Kiran, Jeumpa Syahir Tanwi, dan Daya.
Nama Meureudu sendiri berasal dari Meurah dua, yakni Meurah Itam dan Meurah Puteh yang kemudian diberi nama oleh Sultan Malik Saleh (Meurah Silu) menjadi Meureudu.
Sumber Portalsatu
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
Data Aceh - Gampong Asan Bideun merupakan salah satu desa yang ada di Bireuen. Penamaan gampong ini sangat menarik karena terkait erat dengan cerita gaib penduduk setempat.
Menurut sejarah penduduk setempat, penamaan gampong ini berasal dari cerita adanya kuntilanak yang sering bernyanyi di batang angsana atau sonokembang. Pohon ini adalah sejenis pohon penghasil kayu berkualitas tinggi dari suku Fabaceae. Kayunya keras, kemerah-merahan, dan cukup berat, yang dalam perdagangan dikelompokkan sebagai narra atau rosewood.
“Pohon asan (angsana) itu besar dan berhantu. Sering terdengar hantu perempuan bernyanyi (biduan) di pohon tersebut. Kemudian daerah ini disebut sebagai Gampog Asan Bideun,” ujar Iqbal.
“Kini pohon tersebut sudah ditebang meski gampong itu masih disebut sebagai Asan Bideuen,” katanya.
Sumber Portal Satu
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
Data Aceh - Desa Alue Peudeueng terletak di Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat. Menurut kisah, dulu nama kampung ini adalah Kuntirek yang kemudian diubah setelah terjadinya perang antar daerah.
Wilayah ini diperintah oleh seorang pemimpin yang bergelar datuk. Pemimpin pertama bernama Datuk Raja Bujang. Wilayah kekuasaannya sangat luas, mulai Alue Gantung sampai ke Pasi Megat.
Merujuk catatan Teuku Abdullah Sakti, secara berurutan datuk-datuk yang pernah memerintah di daerah ini adalah Datuk Raja Bujang, Datuk Teungku Meuko Cumeh, Datuk Keucik Padang, Datuk Keucik Kuta Baro, Datuk Genta Ali, Datuk Gadong, Datuk Jali, Datuk Bali, Datuk Sampe, dan Datuk Kaoy yang merupakan pemimpin yang bergelar datuk paling akhir.
Setelah terjadi pembagian wilayah pada masa berkuasa datuk-datuk, maka desa itu dinamakan Alue Peudeueng. Berdasarkan arti kata, alue berarti alur atau aliran sungai kecil. Sedangkan peudeueng berarti pedang atau senjata tajam.
“Jadi Alue Peudeung artinya aliran sungai yang ada pedangnya. Menurut cerita, pada suatu peristiwa perebutan kekuasaan zaman dulu, jatuhlah ke sungai sebilah pedang dari salah satu pihak. Karena air sungai sangat curam deras, maka pedang itu tak dapat diambil lagi,” kata Teuku Abdullah.
Sumber Portalsatu
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
makam Sultan Iskandar Muda
Data Aceh - Kampung Kandang Cut termasuk dalam Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Menurut cerita seorang sesepuh desa, zaman dulu di desa ini berdiri sebuah kerajaan yang besar dan megah. Kerajaan itu memiliki sebuah benteng terletak di Cot Kuta. Setelah berdiri sekian lama kerajaan itu pun runtuh.
Sesudah kerajaan lebur maka yang tinggal hanya kuburan raja-raja dan keturunannya. Sebagai penghormatan kepada para raja yang dikebumikan di situ, kuburan inilah dinamakan Kandang.
“Mungkin karena ada Kandang Rayeuk besar di tempat lain, maka makam raja ini dinamakan Kandang Cut artinya perkuburan kecil. Seterusnya, nama desa itupun digelar orang Kampung Kandang Cut; artinya Cut atau Pocut (orang bangsawan) dikuburkan,” kata Teuku Abdullah Sakti.
Dia turut merujuk catatan sejarah Aceh yang menyebutkan perkuburan “Kandang Cut” adalah makam-makam keturunan raja dari Kerajaan Aceh Darussalam. “Jadi bukan kuburan keturunan raja kerajaan yang berdiri di desa itu sendiri, sebagaimana dijelaskan sesepuh Desa Kandang Cut tersebut,” katanya.
Sumber Portal Satu
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!
Gambar Hanya sebuah ilustrasi
Data Aceh - Di Pidie, juga terdapat nama Kemukiman yang unik Jeurat Manyang. Kemukiman ini terletak di Kecamatan Mutiara, Pidie. “Dalam bahasa Indonesia arti harfiah dari Jeurat Manyang, yaitu kuburan tinggi,” katanya.
Teuku Abdullah berkisah, pada zaman periode awal kedatangan Islam di Aceh telah datang ke desa (yang sekarang bernama Jeurat Manyang) seorang ulama dari negeri Pasai (Kerajaan Samudra Pasai). Ulama tersebut mengendarai seekor gajah.
“Menurut sumber cerita orang-orang tua, ulama itu berasal dari suatu daerah bernama Jeurat Manyang (Rhang Manyang) di Kerajaan Samudra Pasai, Aceh Utara. Masyarakat menyebut ulama itu dengan gelar Teungku Jeurat Manyang,” katanya.
Setelah tinggal menetap di situ, Teungku Jeurat Manyang lalu mendirikan dayah (pesantren). Banyak sekali santri yang belajar ke dayah tersebut sehingga dikenal oleh masyarakat luas. Saat Teungku Jeurat Manyang meninggal, dayahnya terus dikembangkan oleh murid-muridnya.
“Akhirnya untuk mengenang dan menghormati ulama ini, maka tempat daerah lokasi dayah didirikan sekaligus tempat beliau dikuburkan dinamakan Kampung Jeurat Manyang. Jeurat Manyang berarti di situ pernah berjasa Teungku Jeurat Manyang asal Pasai, Aceh Utara,” kata Teuku Abdullah.
Selain itu, kata dia, ada juga yang berpendapat penyebutan Gampong Jeurat Manyang disebabkan adanya makam tinggi (jeurat manyang) di daerah tersebut. “Kalau diperhatikan, letak kuburan itu memang pada tanah yang agak tinggi kalau dalam bahasa Aceh disebut manyang. Sementara jeurat artinya kuburan. Jeurat Manyang makna harfiahnya kubur yang tinggi,” katanya.
Sumber: Portalsatu
Mohon Koreksi dan Sarannya bila ada Informasi/Data yang salah!