![]() |
Data Aceh. Sejumlah sejarawan dan pelaku sejarah Belanda mengakui perang melawan Aceh sejak 1873 adalah perang yang paling menyedot biaya dan stamina.
Perlawanan muncul dari delapan penjuru angin. Dari pergerakan berkelompok, hingga serangan tiba-tiba yang dilakukan orang per orang. Serangan oleh individu ini melahirkan istilah Atjeh Moorden atau Aceh pungo (Aceh gila). Atjeh Moorden secara harfiah bermakna pembunuhan Aceh.
Untuk mengapresiasi perjuangan memperjuangkan kemerdekaan, pemerintah menobatkan mereka yang berjasa sebagai Pahlawan Nasional. Salah satu pahlawan nasional dari Aceh adalah Teungku Chik di Tiro.
Teungku Muhammad Saman adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. Ia lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, daerah Pidie, Aceh. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat.
Ketika ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agamanya. Selain itu tidak lupa ia menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada di sana, sehingga ia mulai tahu tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme. Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, Muhammad Saman sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinan ini dibuktikan dengan kehidupan nyata, yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Sabil.
Dengan perang sabilnya, satu persatu benteng Belanda dapat direbut. Begitu pula wilayah-wilayah yang selama ini diduduki Belanda jatuh ke tangan pasukannya. Pada bulan Mei tahun 1881, pasukan Muhammad Saman dapat merebut benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong dan lain-lain. Belanda akhirnya terjepit di sekitar kota Banda Aceh dengan mempergunakan taktik lini konsentrasi (concentratie stelsel) yaitu membuat benteng yang mengelilingi wilayah yang masih dikuasainya.
Teungku Chik di Tiro adalah tokoh yang kembali menggairahkan Perang Aceh pada tahun 1881 setelah menurunnya kegiatan penyerangan terhadap Belanda. Teungku Chik di Tiro tampil sebagai pemimpin perang ketika perlawanan terhadap Belanda kian meredup pada 1881, delapan tahun setelah Belanda menyatakan maklumat perang terhadap Aceh.
Perlawanan muncul dari delapan penjuru angin. Dari pergerakan berkelompok, hingga serangan tiba-tiba yang dilakukan orang per orang. Serangan oleh individu ini melahirkan istilah Atjeh Moorden atau Aceh pungo (Aceh gila). Atjeh Moorden secara harfiah bermakna pembunuhan Aceh.
Untuk mengapresiasi perjuangan memperjuangkan kemerdekaan, pemerintah menobatkan mereka yang berjasa sebagai Pahlawan Nasional. Salah satu pahlawan nasional dari Aceh adalah Teungku Chik di Tiro.
Teungku Muhammad Saman adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. Ia lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, daerah Pidie, Aceh. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat.
Ketika ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agamanya. Selain itu tidak lupa ia menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada di sana, sehingga ia mulai tahu tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme. Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, Muhammad Saman sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinan ini dibuktikan dengan kehidupan nyata, yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Sabil.
Dengan perang sabilnya, satu persatu benteng Belanda dapat direbut. Begitu pula wilayah-wilayah yang selama ini diduduki Belanda jatuh ke tangan pasukannya. Pada bulan Mei tahun 1881, pasukan Muhammad Saman dapat merebut benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong dan lain-lain. Belanda akhirnya terjepit di sekitar kota Banda Aceh dengan mempergunakan taktik lini konsentrasi (concentratie stelsel) yaitu membuat benteng yang mengelilingi wilayah yang masih dikuasainya.
Teungku Chik di Tiro adalah tokoh yang kembali menggairahkan Perang Aceh pada tahun 1881 setelah menurunnya kegiatan penyerangan terhadap Belanda. Teungku Chik di Tiro tampil sebagai pemimpin perang ketika perlawanan terhadap Belanda kian meredup pada 1881, delapan tahun setelah Belanda menyatakan maklumat perang terhadap Aceh.
Bersama Teungku Chik Pante Kulu, Teungku Chik di Tiro mengobarkan semangat perang sabil, perang di jalan Allah.
Dari Lamlo, Pidie, Teungku Chik di Tiro hijrah ke Aceh Besar dan menjadikan Desa Meureu, Indrapuri, sebagai basis gerilyawan. Meureu yang kontur alamnya perpaduan antara dataran rendah dan perbukitan dinilai cocok sebagai benteng pertahanan alami.
Pada 1881, pasukan Teungku Chik di Tiro merebut satu per satu benteng Belanda seperti di Lambaro dan Aneuk Galong.
Masa perlawanan Teungku Chik di Tiro, Belanda dibuat kalang kabut. Setidaknya, Belanda empat kali mengganti gubernurnya saat menghadapi Teungku Chik di Tiro.
Teungku Chik di Tiro meninggal bukan karena peluru Belanda, melainkan lantaran diracun lewat makanan yang disajikan oleh seorang perempuan Aceh pada 1891. Jasadnya dimakamkan di Desa Meureu, Indrapuri, tempat ia menggerakkan perlawanan melawan Belanda.
Atas jasa-jasanya, pemerintah memberi gelar pahlawan nasional pada 1973

Data Aceh. Pocut Baren adalah seorang pahlawan dan ulama wanita dari Aceh yang terkenal gigih melawan penjajahan Belanda. Selain menjadi panglima perang, ia pun menjadi uleebalang daerah Gome. Ia mempunyai pengikut setia yang banyak dan membantunya dalam pertempuran melawan Belanda. Menurut cerita penduduk, ia ikut bergerilya bersama-sama pasukan yang dipimpin oleh Cut Nyak Dhien. Setelah Cut Nyak Dhien tertangkap oleh Belanda, Pucut Baren tetap meneruskan perjuangan menentang penjajahan Belanda. Ia menjadi panglima perang menggantikan suaminya yang meninggal dunia dalam peperangan.
Selain menjadi panglima perang, ia pun menjadi ulee balang daerah Gome. Ia mempunyai pengikut setia yang banyak dan membantunya dalam pertempuran melawan Belanda. Menurut cerita penduduk, ia ikut bergerilya bersama-sama pasukan yang dipimpin oleh Cut Nyak Dhien. Setelah Cut Nyak Dhien tertangkap oleh Belanda, Pucut Baren tetap meneruskan perjuangan menentang penjajahan Belanda. Ia menjadi panglima perang menggantikan suaminya yang meninggal dunia dalam.
Sebagaimana penduduk Aceh lainnya, ia belajar ilmu agama. Pocut kecil mengaji kepada para ulama, baik yang didatangkan kerumahnya maupun mengaji di meunasah, dayah dan masjid.
Pocut dibesarkan dalam lingkungan Aceh yang sedang berkecamuk perang. Situasi ini membentuknya menjadi seorang perempuan yang berkepribadian tangguh, berani, dan militan. Jiwa mudanya bergejolak dengan semangat berkobar-kobar untuk mengusir kaphee (si kafir) Belanda. Ia pun bertekad akan menggabungkan dirinya dengan para pejuang Aceh.
Setelah dewasa, Pocut menikah dengan seorang Keujruen yang kemudian menjadi Uleebalang Gume, Kabupaten Aceh Barat. Yang kemudian tewas dalam peperangan melewan Belanda. Peperangan yang dia ikut juga didalamnya. Namun kematian suaminya tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melanjutkan berjuang. Setelah suaminya tewas kemudian Pocut Baren menggantikan suaminya sebagai uleebalang, Dalam berptempur Pocut Baren selalu diiringi oleh semacam pengawal, terdiri dari lebih kurang tiga puluh orang pria. Kemana-mana ia selalu memakai peudeueng tajam (pedang tajam), sejenis kelewang bengkok.
Pocut Baren telah berjuang dalam waktu yang cukup lama. Sejak muda ia terjun ke kancah pertempuran. Pocut Baren juga ikut berjuang bersama-sama dengan Cut Nyak Dhien. Perjuangan dan perlawanan Pocut Baren yang gagah berani dilukiskan sendiri oleh penulis Belanda bernama Doup. Pocut Baren telah melakukan perlawanan terhadap Belanda sejak tahun 1903 hingga tahun 1910. Cut Nyak Dhien pernah tertangkap oleh pasukan Belanda pada tanggal 4 November 1905. Artinya, Pocut Baren pernah memimpin sendirian pasukannya melawan Belanda, meskipun Cut Nyak Dhien masih aktif berjuang secara sendirian. Dengan demikian, pada masa itu di wilayah Aceh terdapat dua wanita pejuang yang memimpin pasukannya melawan Belanda, yaitu Cut Nyak Dhien dan Pocut Baren.
Akibat serangan gencar Belanda, Pocut Baren pernah terdesak ke pedalaman hutan dan memutuskan bermarkas di sebuah gua di Gunong Mancang. Belanda mengalami kesulitan melacak keberadaan gua ini. Hingga suatu saat, keberadaan gua tersebut diketahui. Usaha tentara Belanda untuk sampai di gua itu kandas di tengah jalan karena ketika sedang mendaki gunung, beratus-ratus batu digulingkan ke bawah oleh anak buah Pocut Baren sehingga banyak tentara Belanda yang tewas. Akhirnya Belanda mendapat akal untuk mengalirkan 1200 kaleng minyak tanah ke arah gua lalu dibakar. Banyak jatuh korban karena penyerangan ini. Pocut Baren sendiri terkena peluru di kakinya sehingga perlawanannya terpaksa berhenti. Ia lalu ditahan di Kutaraja, namun anak buahnya tetap melakukan perlawanan.
Pocut pun ditangkap dan dijadikan tawanan oleh Belanda. Pocut dibawa ke Meulaboh. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1910, tahun berakhirnya perlawanan Pocut Baren, pendekar Aceh Barat yang gagah berani.
Kaki Pocut terkena infeksi cukup parah. Tim dokter Belanda yang ada di Meulaboh tidak sanggup untuk mengobatinya. Akhirnya Pocut di bawa ke Kutaraja (Banda Aceh) untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Semakin hari luka infeksi di kaki Pocut semakin parah. Untuk menyelamatkan jiwanya, akhirnya tim dokter mengambil keputusan untuk mengamputasi kakinya.
Setelah Pocut Baren dinyatakan sembuh dari sakitnya dan diyakini oleh Belanda tidak akan melakukan perlawanan lagi, maka ia dikembalikan ke kampung halamannya di Tungkop sebagai seorang uleebalang.
Namun perlawanan Pocut tidaklah berhenti sampai disitu saja. Walau ia tidak dapat berperang langsung namun jiwa panglimanya terus berkobar. Dia terus menyemangati para anak buahnya. Melalui syair dan pantun dia menyemangati para pengikutnya agar tetap bersemangat melakukan perlawanan terhadap kaphe Belanda. Pantun-pantunya yang popular dan mengesankan itu masih belum dilupakan orang.
Pocut Baren meninggal pada tahun 1933 dan dimakamkan di kampung halamannya, Kemukiman Tungkop, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat. Sebagai bentuk penghargaan pemerintah memberi nama salah satu jalan di Nanggroe Aceh dengan nama Pocut Baren.
Selain menjadi panglima perang, ia pun menjadi ulee balang daerah Gome. Ia mempunyai pengikut setia yang banyak dan membantunya dalam pertempuran melawan Belanda. Menurut cerita penduduk, ia ikut bergerilya bersama-sama pasukan yang dipimpin oleh Cut Nyak Dhien. Setelah Cut Nyak Dhien tertangkap oleh Belanda, Pucut Baren tetap meneruskan perjuangan menentang penjajahan Belanda. Ia menjadi panglima perang menggantikan suaminya yang meninggal dunia dalam.
Pocut Baren lahir pada tahun 1880 di Kabupaten Aceh Barat. Ia merupakan anak perempuan seorang uleebalang Teuku Cut Anmat Tungkop sebuah kemukiman di Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat.
Sebagaimana penduduk Aceh lainnya, ia belajar ilmu agama. Pocut kecil mengaji kepada para ulama, baik yang didatangkan kerumahnya maupun mengaji di meunasah, dayah dan masjid.
Pocut dibesarkan dalam lingkungan Aceh yang sedang berkecamuk perang. Situasi ini membentuknya menjadi seorang perempuan yang berkepribadian tangguh, berani, dan militan. Jiwa mudanya bergejolak dengan semangat berkobar-kobar untuk mengusir kaphee (si kafir) Belanda. Ia pun bertekad akan menggabungkan dirinya dengan para pejuang Aceh.
Setelah dewasa, Pocut menikah dengan seorang Keujruen yang kemudian menjadi Uleebalang Gume, Kabupaten Aceh Barat. Yang kemudian tewas dalam peperangan melewan Belanda. Peperangan yang dia ikut juga didalamnya. Namun kematian suaminya tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melanjutkan berjuang. Setelah suaminya tewas kemudian Pocut Baren menggantikan suaminya sebagai uleebalang, Dalam berptempur Pocut Baren selalu diiringi oleh semacam pengawal, terdiri dari lebih kurang tiga puluh orang pria. Kemana-mana ia selalu memakai peudeueng tajam (pedang tajam), sejenis kelewang bengkok.
Pocut Baren telah berjuang dalam waktu yang cukup lama. Sejak muda ia terjun ke kancah pertempuran. Pocut Baren juga ikut berjuang bersama-sama dengan Cut Nyak Dhien. Perjuangan dan perlawanan Pocut Baren yang gagah berani dilukiskan sendiri oleh penulis Belanda bernama Doup. Pocut Baren telah melakukan perlawanan terhadap Belanda sejak tahun 1903 hingga tahun 1910. Cut Nyak Dhien pernah tertangkap oleh pasukan Belanda pada tanggal 4 November 1905. Artinya, Pocut Baren pernah memimpin sendirian pasukannya melawan Belanda, meskipun Cut Nyak Dhien masih aktif berjuang secara sendirian. Dengan demikian, pada masa itu di wilayah Aceh terdapat dua wanita pejuang yang memimpin pasukannya melawan Belanda, yaitu Cut Nyak Dhien dan Pocut Baren.
Akibat serangan gencar Belanda, Pocut Baren pernah terdesak ke pedalaman hutan dan memutuskan bermarkas di sebuah gua di Gunong Mancang. Belanda mengalami kesulitan melacak keberadaan gua ini. Hingga suatu saat, keberadaan gua tersebut diketahui. Usaha tentara Belanda untuk sampai di gua itu kandas di tengah jalan karena ketika sedang mendaki gunung, beratus-ratus batu digulingkan ke bawah oleh anak buah Pocut Baren sehingga banyak tentara Belanda yang tewas. Akhirnya Belanda mendapat akal untuk mengalirkan 1200 kaleng minyak tanah ke arah gua lalu dibakar. Banyak jatuh korban karena penyerangan ini. Pocut Baren sendiri terkena peluru di kakinya sehingga perlawanannya terpaksa berhenti. Ia lalu ditahan di Kutaraja, namun anak buahnya tetap melakukan perlawanan.
Pocut pun ditangkap dan dijadikan tawanan oleh Belanda. Pocut dibawa ke Meulaboh. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1910, tahun berakhirnya perlawanan Pocut Baren, pendekar Aceh Barat yang gagah berani.
Kaki Pocut terkena infeksi cukup parah. Tim dokter Belanda yang ada di Meulaboh tidak sanggup untuk mengobatinya. Akhirnya Pocut di bawa ke Kutaraja (Banda Aceh) untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Semakin hari luka infeksi di kaki Pocut semakin parah. Untuk menyelamatkan jiwanya, akhirnya tim dokter mengambil keputusan untuk mengamputasi kakinya.
Setelah Pocut Baren dinyatakan sembuh dari sakitnya dan diyakini oleh Belanda tidak akan melakukan perlawanan lagi, maka ia dikembalikan ke kampung halamannya di Tungkop sebagai seorang uleebalang.
Namun perlawanan Pocut tidaklah berhenti sampai disitu saja. Walau ia tidak dapat berperang langsung namun jiwa panglimanya terus berkobar. Dia terus menyemangati para anak buahnya. Melalui syair dan pantun dia menyemangati para pengikutnya agar tetap bersemangat melakukan perlawanan terhadap kaphe Belanda. Pantun-pantunya yang popular dan mengesankan itu masih belum dilupakan orang.
Pocut Baren meninggal pada tahun 1933 dan dimakamkan di kampung halamannya, Kemukiman Tungkop, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat. Sebagai bentuk penghargaan pemerintah memberi nama salah satu jalan di Nanggroe Aceh dengan nama Pocut Baren.

Data Aceh. Panglima Polem bernama lengkap Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud adalah seorang panglima Aceh. Sampai saat ini belum ditemukan keterangan yang jelas mengenai tanggal dan tahun kelahiran Panglima Polem, yang jelas ia berasal dari keturunan kaum bangsawan Aceh. Ayahnya bernama Panglima Polem VIII Raja Kuala anak dari Teuku Panglima Polem Sri Imam Muda Mahmud Arifin yang juga terkenal dengan Cut Banta (Panglima Polem VII (1845-1879). Mahmud Arifin merupakan Panglima Sagoe XXII Mukim Aceh Besar.
Setelah dewasa, Teuku Panglima Polem Muhammad Daud menikah dengan salah seorang puteri dari Tuanku Hasyim Bantamuda, tokoh Aceh yang seperjuangan dengan ayahnya. Dia diangkat sebagai Panglima Polem IX pada bulan Januari 1891 untuk menggantikan ayahnya Panglima Polem Raja Kuala yang telah wafat. Setelah pengangkatannya sebagai Panglima dia kemudian mewarisi gelar Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Wazirul Azmi.
Dalam perjuangannya Panglima Polem Muhammad Daud juga memperoleh dukungan dari para ulama Aceh. Sebagai pendukung utama, Teungku Muhammad Amin dan Teungku Beb, yang kemudian diangkat menjadi panglima besar.
Pada tahun 1897 Belanda terpaksa mengambil inisiatif untuk menambah pasukannya di Aceh. Sejak saat itu serangan pihak Aceh mulai menurun dan Teuku Umarpun mengambil jalan pintas mengundurkan diri ke daerah Daya Hulu. Untuk mengelabui Belanda tentang keberadaannya, Teuku Umar meninggalkan Panglima Polem bersama pasukannya di wilayah pegunungan Seulimeum.
Dalam sebuah pertempuran di Gle Yeueng dengan kekuatan 4 kompi infantri Belanda akhirnya berhasil menguasai 3 buah benteng yang didirikan oleh Panglima Polem. Dalam pertempuran ini, jatuh korban 27 orang tewas dan 47 orang luka-luka. Pada bulan Oktober 1897, wilayah Seulimeum akhirnya berhasil dikuasai oleh Belanda tanpa banyak perlawanan, dan Panglima Polem terpaksa mengambil jalan hijrah ke Pidie Pada bulan November 1897, kedatangan Panglima Polem di Pidie diterima oleh Sultan Aceh(Muhammad Daud Syah). Dia mengadakan suatu musyawarah bersama tokoh pejuang Aceh lainnya.
Pada bulan Februari 1898, Teuku Umar tiba di wilayah VII Mukim Pidie bersama seluruh kekuatan pasukannya lalu bergabung dengan Panglima Polem. Pada tanggal 1 April 1898, Teuku Panglima Polem bersama Teuku Umar dan para ulama serta Uleebalang terkemuka lainnya menyatakan sumpah setianya kepada Sultan Muhammad Daud Syah.
Pada awal tahun 1901, Sultan Muhammad Daud Syah bersama Panglima Polem mengambil inisiatif secara bersama-sama menyingkir ke daerah gayo dan kemudian menjadikan daerah ini sebagai pusat pertahanan Aceh. Di daerah ini Sultan Aceh bersama Panglima Polem dan pasukannya kembali menyusun strategi baru untuk mempersiapkan penyarangan terhadap Belanda.
Karena Belanda gagal menangkap Sultan dan Panglima Polem, maka meraka menghentikan penyerangannya ke daerah Gayo. Kemudian Belanda menyusun strategi baru yang sangat licik yaitu dengan menangkap keluarga-keluarga dekat Sultan. Mereka berhasil menangkap isteri Sultan yang bernama Teungku Putroe di Glumpang Payong dan isteri sultan yang bernama Pocut cot Murong dan juga Putera Sultan di Lam Meulo. Setelah menangkap mereka, Belanda mengancam Sultan; apabila Sultan tidak menyerahkan dini dalam tempo satu bulan, maka kedua isterinya akan dibuang.
Menerima berita ancaman itu, pada tanggal 10 Januari 1903 Sultan Muhammad Daud Syah terpaksa berdamai dengan Belanda. Pemerintah Hindia Belanda mengasingkannya ke Ambon dan terakhir dipindahkan ke Batavia sampai Sultan wafat pada tanggal 6 Februari 1939. Hal ini menyebabkan Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud secara terpaksa juga berdamai dengan Belanda pada tanggal 7 September 1903.[1] Selanjutnya Panglima Polem tetap diakui oleh Belanda sebagai Panglima Sagoe XXII Mukim.
Setelah dewasa, Teuku Panglima Polem Muhammad Daud menikah dengan salah seorang puteri dari Tuanku Hasyim Bantamuda, tokoh Aceh yang seperjuangan dengan ayahnya. Dia diangkat sebagai Panglima Polem IX pada bulan Januari 1891 untuk menggantikan ayahnya Panglima Polem Raja Kuala yang telah wafat. Setelah pengangkatannya sebagai Panglima dia kemudian mewarisi gelar Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Wazirul Azmi.
Dalam perjuangannya Panglima Polem Muhammad Daud juga memperoleh dukungan dari para ulama Aceh. Sebagai pendukung utama, Teungku Muhammad Amin dan Teungku Beb, yang kemudian diangkat menjadi panglima besar.
Sampai tahun 1896, Belanda masih sulit mencapai kubu-kubu pertahanan Aceh. Teuku Umar bersama 15 orang panglimanya pada bulan September 1893, pura-pura menyerah kepada Belanda, setelah terjadi penyerahan, patroli Belanda di daerah Lam Kra' VII, Mukim Ba'et Aceh Besar. Teuku Umar bersama 15 orang berbalik kembali membela rakyat Aceh. Sementara itu Teuku Panglima Polem Muhammad Daud bersama 400 orang pasukannya bergabung dengan Teuku Umar untuk menghadapi serangan Belanda. Dalam pertempuran tersebut pasukan Belanda sangat marah karena dari pihak mereka banyak yang berjatuhan.Korban dalam penyerangan itu sebanyak 25 orang tewas dan 190 orang luka-luka.
Pada tahun 1897 Belanda terpaksa mengambil inisiatif untuk menambah pasukannya di Aceh. Sejak saat itu serangan pihak Aceh mulai menurun dan Teuku Umarpun mengambil jalan pintas mengundurkan diri ke daerah Daya Hulu. Untuk mengelabui Belanda tentang keberadaannya, Teuku Umar meninggalkan Panglima Polem bersama pasukannya di wilayah pegunungan Seulimeum.
Dalam sebuah pertempuran di Gle Yeueng dengan kekuatan 4 kompi infantri Belanda akhirnya berhasil menguasai 3 buah benteng yang didirikan oleh Panglima Polem. Dalam pertempuran ini, jatuh korban 27 orang tewas dan 47 orang luka-luka. Pada bulan Oktober 1897, wilayah Seulimeum akhirnya berhasil dikuasai oleh Belanda tanpa banyak perlawanan, dan Panglima Polem terpaksa mengambil jalan hijrah ke Pidie Pada bulan November 1897, kedatangan Panglima Polem di Pidie diterima oleh Sultan Aceh(Muhammad Daud Syah). Dia mengadakan suatu musyawarah bersama tokoh pejuang Aceh lainnya.
Pada bulan Februari 1898, Teuku Umar tiba di wilayah VII Mukim Pidie bersama seluruh kekuatan pasukannya lalu bergabung dengan Panglima Polem. Pada tanggal 1 April 1898, Teuku Panglima Polem bersama Teuku Umar dan para ulama serta Uleebalang terkemuka lainnya menyatakan sumpah setianya kepada Sultan Muhammad Daud Syah.
Pada awal tahun 1901, Sultan Muhammad Daud Syah bersama Panglima Polem mengambil inisiatif secara bersama-sama menyingkir ke daerah gayo dan kemudian menjadikan daerah ini sebagai pusat pertahanan Aceh. Di daerah ini Sultan Aceh bersama Panglima Polem dan pasukannya kembali menyusun strategi baru untuk mempersiapkan penyarangan terhadap Belanda.
Karena Belanda gagal menangkap Sultan dan Panglima Polem, maka meraka menghentikan penyerangannya ke daerah Gayo. Kemudian Belanda menyusun strategi baru yang sangat licik yaitu dengan menangkap keluarga-keluarga dekat Sultan. Mereka berhasil menangkap isteri Sultan yang bernama Teungku Putroe di Glumpang Payong dan isteri sultan yang bernama Pocut cot Murong dan juga Putera Sultan di Lam Meulo. Setelah menangkap mereka, Belanda mengancam Sultan; apabila Sultan tidak menyerahkan dini dalam tempo satu bulan, maka kedua isterinya akan dibuang.
Menerima berita ancaman itu, pada tanggal 10 Januari 1903 Sultan Muhammad Daud Syah terpaksa berdamai dengan Belanda. Pemerintah Hindia Belanda mengasingkannya ke Ambon dan terakhir dipindahkan ke Batavia sampai Sultan wafat pada tanggal 6 Februari 1939. Hal ini menyebabkan Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud secara terpaksa juga berdamai dengan Belanda pada tanggal 7 September 1903.[1] Selanjutnya Panglima Polem tetap diakui oleh Belanda sebagai Panglima Sagoe XXII Mukim.

Data Aceh. Teuku Nyak Arif adalah Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau juga merupakan Residen/gubernur Aceh yang pertama periode 1945–1946. Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, saat Volksraad (parlemen) dibentuk, Teuku Nyak Arif terpilih sebagai wakil pertama dari Aceh.
Teuku Nyak Arief dilahirkan di Ulèë Lheue, Kutaraja (sekarang Banda Aceh) pada tanggal 17 Juli 1899. Ayahnya adalah seorang Ulèë Balang bernama Teuku Nyak Banta, ibunya bernama Cut Nyak Rayeuk. Kedudukan Teuku Nyak Banta adalah sebagai Panglima Sagi 26 Mukim wilayah Aceh Besar. Teuku Nyak Arief merupakan anak yang ke 3 dari 5 bersaudara.
Teuku Nyak Arief bersekolah di Volksschool (Sekolah Rakyat) Kutaraja, ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Raja Kweekschool di Bukit Tinggi, dan kemudian Sekolah Pamongpraja OSVIA di Serang Banten. Sekolah ini khusus diadakan oleh Belanda untuk anak-anak Raja dan Bangsawan dari seluruh Indonesia.
Beliau diangkat menjadi ketua National Indische Partij cabang Kutaraja pada tahun 1919. Setahun kemudian menggantikan Ayahnya sebagai Panglima Sagi 26 Mukim. Kemudian di tahun 1927 Beliau diangkat menjadi anggota Dewan Rakyat Volksraad sampai dengan tahun 1931.
Teuku Nyak Arief merupakan salah seorang pendiri dan anggota dari Fraksi Nasional di Dewan Rakyat yang diketuai oleh Mohammad Husni Thamrin. Dalam berbagai kesempatan yang diperolehnya ini Beliau banyak memberikan sumbangan dalam bentuk perjuangan politik baik untuk kesejahteraan rakyat maupun kemerdekaan.
Sejak tahun 1932 T. Nyak Arif memimpin gerakan dibawah tanah menentang penjajahan Belanda di Aceh.
Teuku Nyak Arif aktif dalam kegiatan-kegiatan peningkatan pendidikan di Aceh, beliau bersama Mr. Teuku Muhammad Hasan mendirikan Perguruan Taman Siswa di Kutaraja pada tanggal 11 Juli 1937. Dalam kepengurusan lembaga yang diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara ini, T. Nyak Arif menjadi sekretaris dengan ketuanya Mr. Teuku Muhammad Hasan.
Bersama Mr. T.M Hasan, beliau juga ikut mempelopori berdirinya organisasi Atjehsche Studiefonds (Dana Pelajar Aceh) yang bertujuan untuk membantu anak-anak Aceh yang cerdas tetapi tidak mampu untuk sekolah.
Pada tahun 1939 berdiri Persatuan Ulama Aceh, disingkat PUSA yang diketuai oleh Teungku Daud Beureu'eh. Pemuda-pemuda PUSA mengadakan hubungan dengan Jepang di Malaya sejak 1940 sampai 1942. Kemudian Jepang mempergunakan PUSA untuk melemahkan Belanda di Aceh dengan segala jalan. Teuku Nyak Arif prihatin melihat langkah-langkah PUSA dan menganggapnya sebagai suatu kemunduran bagi pergerakan nasional.
Desember 1945 terjadilah peristiwa perang Cumbok mengakibatkan perpecahan antara golongan bangsawan dan Ulama. Ulama ingin merebut tampuk pemerintahan dari golongan Uleebalang (bangsawan). Pada saat itu Teuku Nyak Arief merasa sedih ketika mendengar peritiwa tersebut, karena Ia telah berusaha mempersatukannya sejak zaman Hindia Belanda dan Jepang, dan berhasil. Namun perpecahan tidak mungkin dielakkan.
Ulama di bawah PUSA dan Pesindo berhasil menguasai Aceh, dan membunuh banyak Uleebalang, dan mengambil alih harta dan tanah mereka. Laskar Ulama (Mujahiddin) yang di dipimpin Husein Al Mujahid mempunyai ambisi untuk menggantikan residen Teuku Nyak Arif, dan mendapat dukungan dari TPR (Tentara Perlawanan Rakyat).
Teuku Nyak Arief di tangkap pada Januari 1946 oleh TPR. Penangkapan terhadap Teuku Nyak Arief dilakukan pada saat ia dalam keadaan sakit. Teuku Nyak Arief membiarkan dirinya untuk ditawan oleh laskar Mujahidin dan tentara perlawanan rakyat (TPR), dan meminta pasukan yang menjaganya untuk tidak memberi perlawanan.[7] Kemudian ia dibawa ke Takengon dan ditahan di sana.
T. Nyak Arif meninggal pada tanggal 4 Mei 1946 di Takengon. Ia sempat berpesan kepada keluarganya: "Jangan menaruh dendam, karena kepentingan rakyat harus diletakkan di atas segala-galanya". Jenazahnya dibawa ke Kutaraja dan dikebumikan di tanah pemakaman keluarga di Lamreung, dua kilometer dari Lamnyong.
Teuku Nyak Arief dilahirkan di Ulèë Lheue, Kutaraja (sekarang Banda Aceh) pada tanggal 17 Juli 1899. Ayahnya adalah seorang Ulèë Balang bernama Teuku Nyak Banta, ibunya bernama Cut Nyak Rayeuk. Kedudukan Teuku Nyak Banta adalah sebagai Panglima Sagi 26 Mukim wilayah Aceh Besar. Teuku Nyak Arief merupakan anak yang ke 3 dari 5 bersaudara.
Teuku Nyak Arief bersekolah di Volksschool (Sekolah Rakyat) Kutaraja, ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Raja Kweekschool di Bukit Tinggi, dan kemudian Sekolah Pamongpraja OSVIA di Serang Banten. Sekolah ini khusus diadakan oleh Belanda untuk anak-anak Raja dan Bangsawan dari seluruh Indonesia.
Teuku Nyak Arief dikenal sebagai orator ulung walaupun selalu berbicara seperlunya saja. Sangat gemar membaca terutama yang menyangkut politik dan pemerintahan serta mendalami pengetahuan Agama. Oleh sebab itu tidak mengherankan kalau dalam usia muda Beliau telah giat dalam pergerakan.
Beliau diangkat menjadi ketua National Indische Partij cabang Kutaraja pada tahun 1919. Setahun kemudian menggantikan Ayahnya sebagai Panglima Sagi 26 Mukim. Kemudian di tahun 1927 Beliau diangkat menjadi anggota Dewan Rakyat Volksraad sampai dengan tahun 1931.
Teuku Nyak Arief merupakan salah seorang pendiri dan anggota dari Fraksi Nasional di Dewan Rakyat yang diketuai oleh Mohammad Husni Thamrin. Dalam berbagai kesempatan yang diperolehnya ini Beliau banyak memberikan sumbangan dalam bentuk perjuangan politik baik untuk kesejahteraan rakyat maupun kemerdekaan.
Sejak tahun 1932 T. Nyak Arif memimpin gerakan dibawah tanah menentang penjajahan Belanda di Aceh.
Teuku Nyak Arif aktif dalam kegiatan-kegiatan peningkatan pendidikan di Aceh, beliau bersama Mr. Teuku Muhammad Hasan mendirikan Perguruan Taman Siswa di Kutaraja pada tanggal 11 Juli 1937. Dalam kepengurusan lembaga yang diprakarsai oleh Ki Hajar Dewantara ini, T. Nyak Arif menjadi sekretaris dengan ketuanya Mr. Teuku Muhammad Hasan.
Bersama Mr. T.M Hasan, beliau juga ikut mempelopori berdirinya organisasi Atjehsche Studiefonds (Dana Pelajar Aceh) yang bertujuan untuk membantu anak-anak Aceh yang cerdas tetapi tidak mampu untuk sekolah.
Pada tahun 1939 berdiri Persatuan Ulama Aceh, disingkat PUSA yang diketuai oleh Teungku Daud Beureu'eh. Pemuda-pemuda PUSA mengadakan hubungan dengan Jepang di Malaya sejak 1940 sampai 1942. Kemudian Jepang mempergunakan PUSA untuk melemahkan Belanda di Aceh dengan segala jalan. Teuku Nyak Arif prihatin melihat langkah-langkah PUSA dan menganggapnya sebagai suatu kemunduran bagi pergerakan nasional.
Desember 1945 terjadilah peristiwa perang Cumbok mengakibatkan perpecahan antara golongan bangsawan dan Ulama. Ulama ingin merebut tampuk pemerintahan dari golongan Uleebalang (bangsawan). Pada saat itu Teuku Nyak Arief merasa sedih ketika mendengar peritiwa tersebut, karena Ia telah berusaha mempersatukannya sejak zaman Hindia Belanda dan Jepang, dan berhasil. Namun perpecahan tidak mungkin dielakkan.
Ulama di bawah PUSA dan Pesindo berhasil menguasai Aceh, dan membunuh banyak Uleebalang, dan mengambil alih harta dan tanah mereka. Laskar Ulama (Mujahiddin) yang di dipimpin Husein Al Mujahid mempunyai ambisi untuk menggantikan residen Teuku Nyak Arif, dan mendapat dukungan dari TPR (Tentara Perlawanan Rakyat).
Teuku Nyak Arief di tangkap pada Januari 1946 oleh TPR. Penangkapan terhadap Teuku Nyak Arief dilakukan pada saat ia dalam keadaan sakit. Teuku Nyak Arief membiarkan dirinya untuk ditawan oleh laskar Mujahidin dan tentara perlawanan rakyat (TPR), dan meminta pasukan yang menjaganya untuk tidak memberi perlawanan.[7] Kemudian ia dibawa ke Takengon dan ditahan di sana.
T. Nyak Arif meninggal pada tanggal 4 Mei 1946 di Takengon. Ia sempat berpesan kepada keluarganya: "Jangan menaruh dendam, karena kepentingan rakyat harus diletakkan di atas segala-galanya". Jenazahnya dibawa ke Kutaraja dan dikebumikan di tanah pemakaman keluarga di Lamreung, dua kilometer dari Lamnyong.
Data Aceh. Sejak dahulu negri Aceh sudah
dikenal sebagai negeri islam yang banyak terdapat para wali Allah dan ulamanya.
oleh sebab itu wajarlah jika Rasulullah pernah menyebut nama Aceh sebagai
negeri para ulama, hingga hari ini yang kita kenal sebagai negeri Serambi
Mekkah. Ada banyak ulama masyhur di Aceh namun disini hanya disebutkan 4 ulama
besar saja, karena dari 4 ulama ini para ulama-ulama lain berasal dari mereka.
Lalu siapakah ulama tersebut ? berikut penjelasannyanya :
Syeikh Hamzah Fanzuri

Riwayat hidupnya tidak banyak
diketahui. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa kesultanan Aceh
Sultan Alaiddin Riayatsyah IV. Beliau menyebutkan Sultan Alaiddin selaku sultan
yang ke-4 dengan sayyid mukammil sebagai gelarnya. Hal keadaan ini sebagai
isyarat yang terlihat dalam syairnya yang berbunyi sebagai berikut:
Hamba mengikat syair ini
Di bawah hadhrat Raja yang wali
Syah Alam raja yang adil, raja kutub sempurna kamilWali Allah sempurna wasil, Raja arif lagi mukammil
Tentang dirinya beliau bersyair:
Hamzah ni asalnya fansuri
Mendapat wujud di tanah syahr nawi
Beroleh khilafat ilmu yang aliDari pada Abdul Qadir Sayyid Jailani
Syahr Nawi mengisyaratkan beliau
lahir di tanah Aceh. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri yakni
ayah dari Abdurrauf Singkil Fansuri.
Ketika pengembaraannya selesai dari
Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Makkah dan Madinah, untuk
mencari ilmu makrifat terhadap Allah SWT. Ia kembali ke Aceh dan mengajarkan
ilmunya. Mula-mula ia berdiam di Barus, lalu di Banda Aceh yang kemudian ia
mendirikan Dayah (pesantren) di Oboh Simpang Kanan Singkil dan di Oboh itulah
(ada yang mengatakan antara Singkil dengan Rundeng) beliau di makamkan di
sebuah kuburan di desa ini dan dipandang oleh masyarakat banyak sebagai kuburan
Hamzah Fansuri.
Bersama-sama dengan Syeikh
Syamsuddin Sumatrani, Hamzah Fansuri adalah tokoh aliran wujudiyah (seorang
alim yang telah sampai kepada makrifat wahdatul wujud). Ia dianggap sebagai
guru Syamsuddin Sumatrani, dimana ia kerapkali mengutip ungkapan-ungkapan Hamzah
Fansuri. Bersama dengan muridnya ini Hamzah Fansuri dituduh menyebarkan ajaran
sesat oleh Nuruddin Ar-Raniry pada ketika Nuruddin Ar-Raniry menjadi mufti
kerajaan yang berpengaruh di istana Sultan Iskandar Tsani, pada hal karya
Hamzah Fansuri musnah dibakar pada zaman Sultanah Safiatuddin. Kebanyakan dari
karangan beliau menulis tentang ilmu tauhid, ilmu suluk, ilmu thariqat, ilmu
tasawuf dan ilmu syara’. Beliau adalah anak dari seorang ulama besar terkemuka
di Barus, dan Fansuri di negeri Barus terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan
yang letaknya di selatan Aceh.
Hal keadaan di atas telah
diungkapkan oleh Prof. DR. Syekh Muhammad Naquib Al-Attas, dalam bukunya The
Mysticism of Hamzah Fansuri.
Syamsuddin as-Sumatrani
Beliau adalah tokoh ulama besar dan
pengarang di Aceh. Nama lengkapnya ialah Syekh Syamsuddin bin Abdillah as
Sumatrani; sering juga disebut Syamsuddin Pasee. Dia adalah ulama besar yang
hidup di Aceh pada beberapa dasa warsa (sepuluh tahun) terakhir abad ke-16 dan
tiga dasa warsa pertama abad ke-17.
Gurunya yang utama ialah Hamzah
Fansuri dan pernah belajar dengan Pangeran Sunan Bonang di Jawa. Beliau
menguasai bahasa Melayu-Jawa, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang
dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain.
Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV dan Sultan Iskandar Muda,
beliau memegang jabatan yang tinggi dalam Kerajaan Kesultanan Aceh. Beliau
dilantik sebagai penasehat kepada kedua sultan tersebut. Beliau juga pernah
diangkat menjadi qadi malikul adil yaitu satu jabatan yang terdiri dalam
Kerajaan Aceh (orang yang kedua penting dalam kerajaan). Beliau mengetuai
Balai Gading (balai khusus yang di anggotai oleh tujuh orang ulama dan delapan
orang ulee balang), di samping menjadi Syekh pusat pengajaran Baiturrahman.
Sekalipun mengikut faham aliran
tasawuf wahdatul wujud, namun beliau berlaku adil dalam menjalankan hukum-hukum
yang difatwakannya. Keahliannya diakui oleh semua pihak termasuk musuhnya Syekh
Nuruddin. Beliau meninggal dunia pada tahun 1630 M pada zaman Sultan Iskandar
Muda. Banyak karangan-karangan beliau dan fatwa-fatwa beliau diantaranya Syarah
Ruba’i Fansuri (uraian terhadap puisi Hamzah Fansuri), dan lain-lain.
Wal hasil beliau adalah seorang
ulama besar fiqh dan tasawuf. Dalam hal ini seorang pelaut Belanda bernama
Frederick de Houtman (1599M/1008H) yang ditawan di Banda Aceh, dia menyebutkan
dalam bukunya tentang Syamsuddin Sumatrani adalah seorang Syekh, penasehat
agung raja.
Demikian juga Duta Kerajaan Inggris
Sir James Lancaster yang datang ke istana Sultan Aceh (1602 M/1011 H)
menyebutkan bahwa Syamsuddin Sumatrani adalah chiefe bishope (imam kepala) yang
dihormati raja dan rakyatnya, bijaksana dan berwibawa dan ikut dalam
perundingan antara perutusan Inggris dan pihak Aceh. Para peneliti cenderung
pada kesimpulan bahwa Syekh yang menjadi penasehat agung raja itu dan imam
kepala tersebut tidak lain dari pada Syekh Syamsuddin Sumatrani. Bahkan ada
sarjana yang menetapkan bahwa Syekh ini baik pada masa Sultan Alaiddin
Riayatsyah IV (1589 – 1604 M/997 – 1011 H) maupun pada masa Sultan Iskandar
Muda (1607 – 1636 M/1016 – 1045 H) diangkat menjadi Qadi Al Malikul Adil, orang
kedua dalam barisan ulama besar Aceh pada zaman dahulu.
Syekh Nuruddin ar-Raniry
![]() |
| Syekh Nuruddin ar-Raniry |
Kemudian ia melanjutkan pendidikan
ke Tarim Arab Selatan. Kota ini adalah pusat studi ilmu agama pada masa itu.
Setelah menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Nabi SAW pada 1621 M (1030
H), ia kembali ke India. Setelah kembali ke India dan mengajar di samping
sebagai Syekh Thariqat Rifa’iyyah ia merantau ke nusantara dan memilih Aceh
sebagai tempat menetap. Ia datang ke Aceh karena itu telah Aceh berkembang
menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan politik serta pusat studi agama Islam
di kawasan Asia Tenggara menggantikan Melaka yang telah jatuh kepada penguasaan
portugis. Mungkin juga ia mau mengikuti jejak pamannya, Syekh Muhammad Jailani
bin Muhammad Hamid Ar-Raniry yang telah tiba di Aceh pada 1588 M berkat
kesungguhannya ia berhasil menjadi ulama besar yang berpengatahuan luas dan
tercatat sebagai Syekh Thariqat Rifa’iyyah dan bermazhab syafi’ie dalam
lapangan fiqh.
Pada tahun 1621 atau 1030 H ia
berada di Makkah dan Madinah dalam rangka menunaikan ibadah haji dan setelah
kembali ke India. Setelah itu untuk kali yang kedua ia kembali ke Aceh. Pada
tahun 1620-an (1030-an H) dan menelaah faham wujudiyah yang sedang berkembang
di kalangan murid-murid Syekh Syamsuddin Sumatrani. Hubungan baik Ar-Raniry
dengan Sultan Iskandar Tsani di Aceh memberi peluang kepadanya untuk
mengembangkan ajaran dan faham mistik yang dibawanya. Peluang itu lebih
berkembang lagi terutama setelah ia diangkat sebagai mufti kerajaan Aceh. Ia
menentang faham wujudiyah yang sesat yang berkembang di Aceh pada waktu itu.
Jadi untuk menyanggah pendapat dan faham wujudiyah yang sesat itu ia sengaja
menulis beberapa kitab di samping juga ia menyanggah ajaran wujudiyah yang
sesat yang tidak sejalan dengan ajaran wujudiyah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin
Sumatrani.
Al Quraisyi pada laqab namanya
menunjukkan ia dari kabilah yang besar dan terhormat yaitu Quraisy. Asy
Syafi’ie mengungkapkan bahwa ia bermazhab Syafi’ie yang tidak perlu diragukan
oleh rakyat Aceh. Ia berthariqat dengan thariqat Rifa’iyyah menunjukkan bahwa
tidak ada perbedaan antara dia dengan Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan
Abdurrauf al Fansuri karena sama-sama penganut thariqat suffiyah dan bermazhab
Imam Syafi’ie r.a.
Namun yang sangat ditentangkan
olehnya adalah para pengikut wujudiyah yang sesat. Dengan demikian maka tidak
ada perbedaan antara dia dengan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani.
Mungkin sejarawan yang lain seperti menulis ada pertentangan menurut saya
antara ulama-ulama besar itu tidak ada sesat menyesatkan antara mereka dan
terjadi perbedaan politik oleh karena ada kaitan dengan kerajaan itu
sah-sah saja. Kalaupun ada pertentangan ada pertentangan antara keduanya
bukanlah perbedaan dalam masalah syariat, thariqat dan hakikat, akan tetapi tidak
lebih untuk kepentingan rakyat dan kerajaan semata karena masa senantiasa
berubah. Dan setelah meninggal Sultan Iskandar Tsani maka kedudukannya selaku
qadi malikul adil dilanjutkan pada Sultanah Ratu Saifatuddin (1641 – 1675 M) di
samping beliau menjadi guru besar ilmu-ilmu pengetahuan Islam di mesjid Raya
Baiturrahman.
Syekh Abdurrauf As Singkily
Beliau adalah salah satu dari empat
ulama terkemuka yang pernah muncul di Aceh pada abad ke-17. Sedang yang tiga
lagi adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Nuruddin Ar-Raniry. Para
ahli sejarah memperkirakan bahwa ia lahir sekitar 1615 M (1035 H) di Singkil
yang terletak di ujung paling selatan pantai barat Aceh, sekampung dengan Syekh
Hamzah Fansuri dan juga putra dari saudara Syekh Hamzah Fansuri sendiri. Ia
tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama di Aceh pada masa negeri itu sedang
berada dalam puncak kejayaan di bawah pimpinan sultannya yang terbesar, Sultan
Iskandar Muda.
Demi untuk lebih memperdalam atau
memperluas pengetahuan agamanya, ia berangkat ke negeri Arab sekitar tahun 1643
M (1064 H) pada saat negeri Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin yang berada
kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.
Abdurrauf tidak segera langsung
menuju Mekkah, tapi terlebih dahulu bermukim pada banyak tempat yang menjadi
pusat-pusat pendidikan agama di sepanjang jalur perjalanan haji. Setelah beliau
sampai di Mekkah dan Madinah beliau melengkapi ilmu lahir (ilmu Al-Qur’an,
tafsir, hadits, fiqh) yang telah dimilikinya dan dilengkapi pula dengan ilmu,
yakni tasawuf dan thariqat. Setelah belajar di Madinah pada Syekh Thariqat
Syatthariyah Ahmad Al Qusyasyi (wafat 1661 M/ 1082 H) dan kemudian pada
khalifah atau penggantinya IbrahimAlqur’ani, beliau memperoleh ijazah dari
pimpinan thariqat tersebut. Ini berarti ia telah beroleh pengakuan dan hak
untuk mengajarkan Thariqat Syatthariyah itu pada orang lain atau untuk
mendirikan cabang baru pada tempat lain. Banyak guru-guru besar yang ia
mendapatkan ijazah ilmu pengetahuan dari padanya selama 19 tahun ia menuntut
ilmu pengetahuan itu. Ia pulang ke Aceh sebagai seorang ulama yang luas dalam
ilmunya. Menurut perkiraan para ahli sekitar tahun 1662 M (1083 H), boleh jadi
peranannya sebagai pengajar thariqat Syatthariah telah dimulainya di Madinah,
menjelang pulang ke Aceh, seperti yang disimpulkan oleh Snouck Houghranje dari
penelitiannya atas silsilah-silsilah thariqat, yang tidak hanya tersebar di
Sumatra tetapi juga di Jawa, yang sudah pasti beliau sesudah berada di Aceh,
aktif mengajar dan tercatat sebagai ulama Indonesia yang menjadi mata rantai
pertama dalam silsilah thariqat Syatthariah yang mengajar di Sumatra, Jawa atau
tempat-tempat lain di Indonesia. Ia mengajar di Kuala atau muara krueng Aceh
sampai wafat di sana pada tahun 1693 M (1105 H). Karena mengajar dan berkubur
di kuala Aceh ia kemudian dikenal oleh masyarakat Aceh dengan sebutan Syiah
Kuala. Selain mengajar ia juga menjalankan tugasnya sebagai mufti kerajaan Aceh
Darussalam pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin (1641 - 1675 M). Banyak
karangan beliau baik dalam ilmu tafsir dan kitab tafsir pertama yang dihasilkan
di Indonesia dan ilmu-ilmu lain.
Seperti halnya Syamsuddin Sumatrani
dan Nuruddin Ar-Raniry, Abdurrauf As Singkili, beliau juga menganut faham
wahdatul wujud yang benar, yakni bahwa satu-satunya wujud hakiki adalah Allah,
sedangkan alam adalah ciptaannya bukanlah wujud hakiki, tetapi wujud bayangan
yakni bayangan dari wujud hakiki. Dengan demikian bahwa tuhan lain dari alam
atau alam lain dari tuhan. Kendati begitu antara bayangan alam dengan yang
memancarkan bayangan (Tuhan) itu terdapat keserupaan pada alam yang tampak ini.
Tuhan menampakkan diri-Nya (tajalli) secara tidak langsung. Pada manusia
khususnya sifat-sifat tuhan secara tidak langsung menampakkan diri dengan sempurna
dan relatif sempurna pada insan kamil (manusia sempurna). Tujuan thariqat yang
diajarkannya tidak lain dari memfanakan (menyinarkan) apa saja selain Allah
dari kesadaran batin manusia melalui pengamalan beberapa macam zikir.
![]() |
| Teungku Syekh Abdurrauf As Singkily |
Data Aceh, Abdul Rauf Al-Singkili adalah Amin al-Din Abdul Rauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri As-Singkili. Dia diperkirakan lahir di Singkil, Kabupaten Aceh Singkil pada 1620 M. Ayahnya seorang guru dan mubaligh yang bernama Ali berasal dari Persia atau Arabia yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13.
Sesuai dengan gelaran al-Fansuri, ibu Abdul Rauf berasal dari Desa Fansur Barus. Sedangkan gelaran Al-Singkili karena dia lahir di daerah Singkil, Aceh.
Pada masa mudanya, ia mula-mula belajar agama Islam pada ayahnya sendiri. Mengenai latar belakang pendidikannya, Abdul Rauf telah mempunyai dasar agama yang cukup kuat. Barulah sekitar tahun 1642 beliau merantau ke tanah Arab. Kepergiannya dikarenakan adanya kontroversi dan pertikaian antara Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani dengan Nurudin ar Raniri dan para pengikutnya. Dengan alasan ini mungkin sekali Abdul Rauf mengetahui semua permasalahan yang mengakibatkan terjadinya pembakaran karya-karya Hamzah Fansuri. Akan tetapi, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kepergiannya ke tanah Arab untuk menunaikan ibadah haji.
Selama di tanah Arab, Abdul Rauf belajar kepada sejumlah guru, ulama, dan tokoh ternama di Jeddah, Makkah, Madinah, Mokha, Bait al Faqih, dan tempat-tempat lain. Sebagai orang yang bisa dikatakan paling berpengaruh pada diri Abdul Rauf adalah Syeikh Shafiuddin Ahmad Al-Dajjani Al Qusyasyi, yakni guru spiritualnya di Madinah. Darinya Abdul Rauf mendapat ijazah dan khirqah untuk menjadi khalifah dalam Thariqat Syaththariyyah dan Qadiriyyah.
Teungku Syekh Abdurrauf As Singkily bukanlah sekadar ulama tasawuf, tapi juga ahli ilmu-ilmu lahir seperti tafsir, fiqih, dan hadits. Perpaduan dua bidang ilmu tersebut sangat memengaruhi sikap keilmuan Abdul Rauf, yang sangat menekankan perpaduan antara syariat dengan tasawuf. Ia diperkirakan kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M dan mengajarkan serta mengembangkan tarekat Syattariah yang diperolehnya. Murid yang berguru kepadanya banyak dan berasal dari Aceh serta wilayah Nusantara lainnya. Beberapa yang menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin Ulakan (dari Pariaman, Sumatera Barat) dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (dari Tasikmalaya, Jawa Barat). Karena pola pemikiran Abdul Rauf menarik hati Sultanah Safiyyatudin yang saat itu memerintah Kesultanan Aceh, Abdul Rauf akhirnya diangkat sebagai Qadi Malik al ‘Addil yang bertanggung jawab atas administrasi masalah-masalah keagamaan.
Teungku Syekh Abdurrauf As Singkily wafat pada tahun 1693 dan dimakamkan di dekat Kuala Sungai Aceh. Oleh karena itu, beliau mendapat sebutan Teungku di Kuala. Kini, namanya diabadikan menjadi nama sebuah perguruan tinggi di Aceh, yaitu Universitas Syaikh Kuala. Karya Teungku Syekh Abdurrauf As Singkily:
Berikut adalah sebagian karya Teungku Syekh Abdurrauf As Singkily yang dapat kami sajikan dari berbagai sumber:
- Turjuman al-Mustafid (terjemah pemberi faedah), merupakan kitab tafsir pertama dalam bahasa melayu, kitab ini ditulis oleh Abdul Rauf sekembalinya dari negeri Arab.

Turjuman al-Mustafid
- Mir’atuttullab fi tashil ma’rifat al-Ahkam asy-Syariat li al-Malik al-Wahhab, kitab fiqih yang ditulis olehnya atas permintaan Sulthanah Tajul Alam Safiyatuddin Syah. Kitab ini berisi kajian tentang muamalat. Di dalam kitab ini, ada kajian beliau yang membolehkan perempuan sebagai qadhi dan pemimpin.

Mir’atuttullab
- Hidayah al-Balighah, kitab fiqh yang isimya mengenai pembuktian dalam peradilan, kesaksian, dan sumpah.
- ’Umdat al Muhtajin ila suluk maslak al-Mufridin, kitab tasawuf yang isinya terdiri atas tujuh bab. Di akhir kitab ini Abdul Rauf menguraikan silsilah tarekat Syattariyah sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
- Kifayatul Muhtajin ila masyrah al-Muwahhidin al Qailin bi Wahdat al-Wujud, berisi mengenai ilmu tasawuf.
- Daqaiqul Huruf, yang isinya terhadap beberapa bait syair Ibn Arabi.
- Bayan Tajalli, kitab ini berisi tentang penjelasan Abdul Rauf tentang zikir yang yang utama dibaca ketika sakaratul maut.
- Tambihul Masyi Manshub ila Thariqi al-Qushasi, isinya mencerminkan perjalanan tasawuf Abdul Rauf dengan gurunya Ahmad Qushasi.
- Attariqat as-Syattariyah, berisi tentang pokok ajaran Syattariyah.
- Mawaizil Badiah, berisi tiga puluh dua hadits beserta syarahnya yang berhubungan dengan tauhid, akhlaq, ibadat dan tasawuf. Penjelasan tentang Matan al-Arba’in an-Nawawi.
- Bayan al-Arkan, pedoman dalam melaksanakan ibadah. Risalah adab Murid dengan Ulama.
- Risalah Mukhtasar fi Bayan Syurut as-Syeh wa al-Murid, yang berisi tentang kewajiban-kewajiban murid terhadap guru mereka terutama dalam metode zikir dalam tarekat Syattariyah.
- Syams al-Makrifat, berisi tentang uraian tasawuf dan ilmu ma’rifat yang beliau ambil dari Ahmad Qushasi.
- Majmu’ Masail, berisi tasawuf terutama uraian menyangkut kehidupan beragama.
- Bayan al-Aghmadal Masail wa Sifat al-Wajibat li Rabb al-Ard wa as-Samawati, isinya tentang al-Akyan as-Sabithah.
- Lubb al-Kasy wa al-Bayan lima yarahu al-Muqtadar bi al-Iyan, isinya tentang sakaratul maut.
- Sullam al-Mustafidhin, penjelasan tentang nazam-nazam yang dikarang oleh gurunya al Qushasi. Pernyataan tentang zikir yang paling utama pada saat sakaratul maut, yaitu la ilaa ha illa Allah.
Aliran Tasawuf yang dikembangkan oleh Syech Abdul Rauf sepulangnya dari negeri Arab dalam perkembangannya di Indonesia menghadapi dua kutub aliran tasawuf yang berbeda sebagai warisan ulama terdahulu Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, dan Nuruddin ar-Raniri, dalam kondisi demikian tarekat Syattariah menjadi ”penyejuk” bagi perbedaan yang tajam antara dua aliran wahdatul wujud dan syuhuduyah tersebut.
Pendekatan yang dilakukan oleh Syech Abdul Rauf adalah mendamaikan antara paham-paham yang bertentangan, hal itu sejalan dengan kecenderungan jaringan ulama abad ke-17 M yang berupaya saling mendekatkan antara ulama yang berorientasi pada syariat dengan para sufi yang berorientasi pada makrifat.
Diskursus rekonsiliasi antara tasawuf dan syariat. Dari ini ajaran tasawufnya mirip dengan Syamsuddin al-Sumatrani dan Nuruddin al-Raniri, yaitu menganut paham satu-satunya wujud hakiki, yakni Allah. Sedangkan alam ciptaan-Nya bukanlah merupakan Wujud hakiki, tetapi bayangan dari yang hakiki. Menurutnya jelaslah bahwa Allah berbeda dengan alam.
Syech Abdul Rauf menpunyai pemikiran tentang zikir. Zikir, dalam pandangan Abdul Rauf, merupakan suatu usaha untuk melepaskan diri dari sifat lalai dan lupa. Dengan zikir inilah hati selalu mengingat Allah.
Tujuan zikir ialah mencapai fana’ (tidak ada wujud selain wujud Allah), berarti wujud hati yang berzikir dekat dengan wujud-Nya. Ajaran tasawuf Abdul Rauf yang lain adalah bertalian dengan martabat perwujudan.
Menurutnya, ada tiga martabat perwujudan:
- pertama martabat ahadiyyah atau la ta’ayyun, yang mana alam pada waktu itu masih merupakan hakikat ghaib yang masih berada di dalam ilmu Tuhan.
- Kedua, martabat wahdah atau ta’ayyun awwal, yang mana sudah tercipta haqiqat Muhammadiyyah yang potensial bagi terciptanya alam.
- Ketiga, martabat wahdiyyah atau ta’ayyun tsani, yang disebut juga dengan a’ayyan al-tsabitah dan dari sinilah alam tercipta.
- Ketuhanan dan hubungannya dengan alam, Syeh Abdurrauf menganut paham satu-satunya yang wujud hakiki adalah Allah, Alam ciptaannya adalah wujud bayangan-Nya yakni bayangan dari wujud hakiki.
- Insan kamil adalah sosok manusia ideal. Abdul Rauf memahami insan kamil sebagai kombinasi dari paham al-Ghazali, al-Hallaj dan paham martabat tujuh yang telah ditulis oleh Syeh Abdullah al-Burhanpuri dalam kitab Tuhfah almursalah ila ruhin nabi.
- Thariqat (jalan kepada Allah), kecendrungan rekonsiliasi yang dilakukan oleh Syeh Abdurrauf sangat kentara sekali ketika ia menjelaskan tauhid dan zikir sejalan dengan kepatuhan total pada syariat. Abdul Rauf berpendapat bahwa dzikir penting bagi orang yang menempuh jalan tasawuf, di mana dasar dari tasawuf adalah dzikir yang berfungsi mendisiplinkan kerohanian Islam.
Pandangan-pandangan dasar Syech Abdul Rauf tentang tasawuf ini tertera dalam kitab Tanbih Al-Masyi. La ilaha illa Allah menurut dia, memiliki empat tingkatan tauhid: penegasan, pengesahan ketuhanan Allah, mengesahkan sifat Allah dan mengesahkan dzat Tuhan.
Wallahu'alambissawaf
![]() |
| lukisan Cut Meutia di rumah pahlawan nasional Cut Meutia |
Data Aceh. Tjoet Nyak Meutia (Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, 1870 – Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910) adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Ia menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.
Awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.
Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nagroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya Syahid pada tanggal 26 September 1910.
Tjoet Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukkannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara.
Perlawanan Melawan Belanda Awal pergerakan dimulai pada tahun 1901 dengan basis perjuangan dari daerah Pasai atau Krueng Pasai (Aceh Utara) di bawah komando perang Teuku Chik Tunong. Mereka memakai taktik gerilya dan spionase dengan menggunakan untuk prajurit memata-matai gerak-gerik pasukan lawan terutama rencana-rencana patroli dan pencegatan. Taktik spionase dilakukan oleh penduduk kampung yang dengan keluguannya selalu mendapatkan informasi berharga dan tepat sehingga daerah lokasi patroli yang akan dilalui pasukan Belanda dapat segera diketahui.
Pada bulan Juni 1902, berdasarkan informasi dari spionasenya bahwa pasukan Belanda akan melakukan operasi patroli dengan kekuatan 30 orang personel di bawah pimpinan sersan VanSteijn Parve. Di dalam perlawanan tersebut pasukan Belanda mengalami kekalahan yang cukup besar yaitu matinya seorang pimpinan dan 8 orang serdadu serta banyak pasukan yang cidera berat dan ringan, sedang di pasukan muslim syahid 10 orang.
Kemudian pada bulan Agustus 1902, pasukan Chik Tunong dan Cut Meutia mencegat pasukan Belanda yang berpatroli di daerah Simpang Ulim, Blang Nie. Strategi yang dipakai oleh pasukan Aceh untuk mencegat pesukan Belanda adalah dengan menempatkan pasukannya di daerah yang beralang-alang tinggi dekat jalan tidak jauh dari Meunasah Jeuro sehingga memudahkan para pejuang menyintai dan sekaligus melakukan penyerangan secara tiba-tiba.
Di dalam penyerangan ini pasukan Belanda lumpuh total dan para pejuang muslim dapat merebut 5 pucuk senapan, November 1902 diisukan oleh salah seorang pejuang muslimin (Pang Gadeng) bahwa pasukan Teuku Chik Tunong akan mengadakan kenduri yang bertempat di Gampong Matang Rayeuk di seberang sungai Sampoiniet. Mendapat kabar itu, Belanda melakukan perjalanan untuk menggempur pasukan yang tengah kenduri dan dipimpin oleh Letnan RDP DE Cok bersama 45 orang personelnya. Di dalam perjalanan, pasukan Belanda mendapatkan serangan jarak dekat yang dahsyat dari pasukan Chik Tunong sebagai akibat dari proses jebakan kabar burung yang telah disusun oleh Cut Nyak Meutia. Dalam penyerangan itu, Letnan De Cok dan 28 prajuritnya tewas serta 42 pucuk senapan diperoleh kaum muslimin.
Selain itu, pasukan Cut Meutia juga sering melakukan sabotase terhadap kereta api, penghancuran hubungan telepon hingga jalur perhubungan untuk mengangkut logistik pasukan Belanda seperti di Lhoksukon dan Lhokseumawe. Tindakan ini sebagai tindakan balas dendam setelah Belanda melakukan penyerangan ke Desa Blang Paya Itiek yang merupakan akibat dari pengkhianatan Pang Ansari ( dari Blang Nie) dimana pasukan Belanda menyerang pasukan Sultan Alaidin Mahmud Daudsyah sehingga Sultan dan pasukannya harus mundur diri ke Menasah Nibong Payakemuek.
Selanjutnya tanggal 9 Januari 1903, Sultan bersama pengikutnya seperti Panglima Polem Muhammad Daud, Teuku Raja Keumala dan pemuka kerajaan lainnnya telah menghentikan perlawanan dan menyatakan turun dari usaha bergerilya melakukan penyerangan pasukan Belanda. Atas dasar itu, Cut Nyak Meutia bersama suami pun turun gunung pada tanggal 5 Oktober 1903. Atas persetujuan komandan datasemen Belanda di Lhokseumawe, HNA Swart, Teuku Tunong dan Cut Meutia dibenarkan menetap di Keureutoe tepatnya di Jrat Manyang dan akhirnya pindah ke Teping Gajah daerah Panton Labu.
Akhir perjuangan Teuku Chik Muhammad dan Cut Meutia adalah sebagai akibat dari peristiwa di Meurandeh Paya sebelah timur kota Lhoksukon pada tanggal 26 Januari 1905. Peristiwa ini diawali dengan terbunuhnya pasukan Belanda yang sedang berpatroli dan berteduh di Meunasah Meurandeh Paya. Pembunuhan atas pasukan Belanda ini merupakan pukulan yang sangat berat bagi Belanda. Di dalam penyelidikan Belanda, didapat bahwa Teuku Chik Tunong terlibat dalam pembunuhan itu. Maka dari itu, Teuku ditangkap dan dihukum gantung. Namun pada akhirnya berubah menjadi hukum tembak mati.
Pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan pada bulan Maret 1905 di tepi pantai lhoksuemawe dan dimakamkan di Masjid Mon Geudong. Sebelum dihukum mati, Teuku Tunong mewasiatkan agar Pang Nanggroe yang merupakan sahabat perjuangannya untuk menikahi Cut Nyak Meutia serta menjaga anak-anaknya.
Sesuai amanah dari almarhum suaminya, Cut Meutia menerima lamaran Pang Nanggroe. Dan dengan beliau, Cut Meutia melanjutkan perjuangan melawan Belanda dengan memindahkan markas basis perjuangan ke Buket Bruek Ja. Pang Nanggroe mengatur siasat perlawanan melawan patroli marsose Belanda bersama dengan Teuku Muda Gantoe. Penyerangan Cut Meutia dan Pang Nanggroe dimulai dari hulu Kreueng Jambo Ayee, sebuah tempat pertahanan yang sangat strategis karena daerah tersebut merupakan daerah hutan liar yang sangat banyak tempat persembunyian. Pasukan muslimin melakukan penyerangan ke bivak-bivak Belanda dimana banyak pejuang muslim yang ditahan.
Pada tanggal 6 Mei 1907, pasukan Pang Nanggroe melakukan penyerbuan secara gerak cepat terhadap bivak yang mengawal para pekerja kereta api. Dari hasil beberapa orang serdadu Belanda tewas dan luka-luka. Bersama itu pula dapat direbut 10 pucuk senapan dan 750 butir peluru serta amunisi.
Pada tanggal 15 Juni 1907, pasukan Pang Nanggroe menggempur kembali sebuah bivak di Keude Bawang (Idi), pasukan Belanda mengalami kekalahan dengan tewasnya seorang anggota pasukan dan 8 orang luka-luka.
Taktik penyerangan Cut Meutia yang lain pula adalah jebakan yang dirancang dengan penyebaran kabar bahwa adanya acara kenduri di sebuah rumah dengan mengundang pasukan Belanda. Rumah tersebut telah diberikan jebakan berupa makanan yang lezat, padahal pondasi rumah itu telah diakali dengan potongan bambu sehingga mudah diruntuhkan. Pada saat pasukan Belanda berada di dalam rumah tersebut, rumah diruntuhkan dan pasukan Cut Meutia menyerang secara membabibuta.
Penyerangan pasukan Cut Meutia juga terjadi pada rel kereta api sebagai usaha untuk memutuskan jalur distribusi logistik dan jalur kereta apinya. Di pertengahan tahun 1909 sampai Agustus 1910 pihak Belanda atas petunjuk orang kampung yang dijadikan tawanan telah mengetahui pusat pertahanan pasukan Pang Nanggroe dan Cut Nyak Meutia. Beberapa penyerangan dilakukan, namun pasukan Cut Meutia yang selalu berpindah tempat membuat Belanda susah untuk menangkapnya. Beberapa penyerangan dilakukan di daerah Jambo aye, Peutoe, Bukit Hague, Paya Surien dan Matang Raya. Namun pada tanggal 25 September 1910, saat terjadi penyerangan di daerah Paya Cicem, Pang Nanggroe terkena tembakan Belanda sehingga meninggal dunia setelah mewasiatkan kepada anaknya Teuku Raja Sabi untuk mengambil rencong dan pengikat kepala ayahnya dan menjaga ibundanya Cut Nyak Meutia. Makam Pang Nanggroe terletak di samping Mesjid Lhoksukon.
Setelah Pang Nanggroe syahid, pasukan dipimpin langsung oleh Cut Meutia dan basis pertahanan dipindahkan ke daerah Gayo dan Alas bersama pasukan yang dipimpin oleh Teuku Seupot Mata. Pada tanggal 22 Oktober 1910, pasukan Belanda mengejar pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat. Esoknya pengejaran dilakukan kembali ke daerah Krueng Putoe menuju Bukit Paya sehingga membuat pasukan Cut Meutia semakin terjepit dan selalu berpindah antar gunung dan hutan belaBelanda yang sangat banyak.
Dalam pertempuran tanggal 25 Oktober di Krueng Putoe, pasukan Cut Meutia menghadapi serangan Belanda. Di sinilah Cut Meutia syahid bersama pasukan muslim yang lain seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh. Menjelang gugurnya, Cut Meutia mewasiatkan kepada Teuku Syech Buwah untuk tidak lagi menghadapi serangan belanda, taktik selanjutnya adalah mundur sejauh mungkin dan menyusun serangan kembali, karena posisi mereka sudah sangat terjepit kali ini. Cut Meutia juga menitipkan anaknya untuk dicari dan dijaga.
Awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.
Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nagroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya Syahid pada tanggal 26 September 1910.
Tjoet Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukkannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara.
Perlawanan Melawan Belanda Awal pergerakan dimulai pada tahun 1901 dengan basis perjuangan dari daerah Pasai atau Krueng Pasai (Aceh Utara) di bawah komando perang Teuku Chik Tunong. Mereka memakai taktik gerilya dan spionase dengan menggunakan untuk prajurit memata-matai gerak-gerik pasukan lawan terutama rencana-rencana patroli dan pencegatan. Taktik spionase dilakukan oleh penduduk kampung yang dengan keluguannya selalu mendapatkan informasi berharga dan tepat sehingga daerah lokasi patroli yang akan dilalui pasukan Belanda dapat segera diketahui.
Pada bulan Juni 1902, berdasarkan informasi dari spionasenya bahwa pasukan Belanda akan melakukan operasi patroli dengan kekuatan 30 orang personel di bawah pimpinan sersan VanSteijn Parve. Di dalam perlawanan tersebut pasukan Belanda mengalami kekalahan yang cukup besar yaitu matinya seorang pimpinan dan 8 orang serdadu serta banyak pasukan yang cidera berat dan ringan, sedang di pasukan muslim syahid 10 orang.
Kemudian pada bulan Agustus 1902, pasukan Chik Tunong dan Cut Meutia mencegat pasukan Belanda yang berpatroli di daerah Simpang Ulim, Blang Nie. Strategi yang dipakai oleh pasukan Aceh untuk mencegat pesukan Belanda adalah dengan menempatkan pasukannya di daerah yang beralang-alang tinggi dekat jalan tidak jauh dari Meunasah Jeuro sehingga memudahkan para pejuang menyintai dan sekaligus melakukan penyerangan secara tiba-tiba.
Di dalam penyerangan ini pasukan Belanda lumpuh total dan para pejuang muslim dapat merebut 5 pucuk senapan, November 1902 diisukan oleh salah seorang pejuang muslimin (Pang Gadeng) bahwa pasukan Teuku Chik Tunong akan mengadakan kenduri yang bertempat di Gampong Matang Rayeuk di seberang sungai Sampoiniet. Mendapat kabar itu, Belanda melakukan perjalanan untuk menggempur pasukan yang tengah kenduri dan dipimpin oleh Letnan RDP DE Cok bersama 45 orang personelnya. Di dalam perjalanan, pasukan Belanda mendapatkan serangan jarak dekat yang dahsyat dari pasukan Chik Tunong sebagai akibat dari proses jebakan kabar burung yang telah disusun oleh Cut Nyak Meutia. Dalam penyerangan itu, Letnan De Cok dan 28 prajuritnya tewas serta 42 pucuk senapan diperoleh kaum muslimin.
Selain itu, pasukan Cut Meutia juga sering melakukan sabotase terhadap kereta api, penghancuran hubungan telepon hingga jalur perhubungan untuk mengangkut logistik pasukan Belanda seperti di Lhoksukon dan Lhokseumawe. Tindakan ini sebagai tindakan balas dendam setelah Belanda melakukan penyerangan ke Desa Blang Paya Itiek yang merupakan akibat dari pengkhianatan Pang Ansari ( dari Blang Nie) dimana pasukan Belanda menyerang pasukan Sultan Alaidin Mahmud Daudsyah sehingga Sultan dan pasukannya harus mundur diri ke Menasah Nibong Payakemuek.
Selanjutnya tanggal 9 Januari 1903, Sultan bersama pengikutnya seperti Panglima Polem Muhammad Daud, Teuku Raja Keumala dan pemuka kerajaan lainnnya telah menghentikan perlawanan dan menyatakan turun dari usaha bergerilya melakukan penyerangan pasukan Belanda. Atas dasar itu, Cut Nyak Meutia bersama suami pun turun gunung pada tanggal 5 Oktober 1903. Atas persetujuan komandan datasemen Belanda di Lhokseumawe, HNA Swart, Teuku Tunong dan Cut Meutia dibenarkan menetap di Keureutoe tepatnya di Jrat Manyang dan akhirnya pindah ke Teping Gajah daerah Panton Labu.
Akhir perjuangan Teuku Chik Muhammad dan Cut Meutia adalah sebagai akibat dari peristiwa di Meurandeh Paya sebelah timur kota Lhoksukon pada tanggal 26 Januari 1905. Peristiwa ini diawali dengan terbunuhnya pasukan Belanda yang sedang berpatroli dan berteduh di Meunasah Meurandeh Paya. Pembunuhan atas pasukan Belanda ini merupakan pukulan yang sangat berat bagi Belanda. Di dalam penyelidikan Belanda, didapat bahwa Teuku Chik Tunong terlibat dalam pembunuhan itu. Maka dari itu, Teuku ditangkap dan dihukum gantung. Namun pada akhirnya berubah menjadi hukum tembak mati.
Pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan pada bulan Maret 1905 di tepi pantai lhoksuemawe dan dimakamkan di Masjid Mon Geudong. Sebelum dihukum mati, Teuku Tunong mewasiatkan agar Pang Nanggroe yang merupakan sahabat perjuangannya untuk menikahi Cut Nyak Meutia serta menjaga anak-anaknya.
Sesuai amanah dari almarhum suaminya, Cut Meutia menerima lamaran Pang Nanggroe. Dan dengan beliau, Cut Meutia melanjutkan perjuangan melawan Belanda dengan memindahkan markas basis perjuangan ke Buket Bruek Ja. Pang Nanggroe mengatur siasat perlawanan melawan patroli marsose Belanda bersama dengan Teuku Muda Gantoe. Penyerangan Cut Meutia dan Pang Nanggroe dimulai dari hulu Kreueng Jambo Ayee, sebuah tempat pertahanan yang sangat strategis karena daerah tersebut merupakan daerah hutan liar yang sangat banyak tempat persembunyian. Pasukan muslimin melakukan penyerangan ke bivak-bivak Belanda dimana banyak pejuang muslim yang ditahan.
Pada tanggal 6 Mei 1907, pasukan Pang Nanggroe melakukan penyerbuan secara gerak cepat terhadap bivak yang mengawal para pekerja kereta api. Dari hasil beberapa orang serdadu Belanda tewas dan luka-luka. Bersama itu pula dapat direbut 10 pucuk senapan dan 750 butir peluru serta amunisi.
Pada tanggal 15 Juni 1907, pasukan Pang Nanggroe menggempur kembali sebuah bivak di Keude Bawang (Idi), pasukan Belanda mengalami kekalahan dengan tewasnya seorang anggota pasukan dan 8 orang luka-luka.
Taktik penyerangan Cut Meutia yang lain pula adalah jebakan yang dirancang dengan penyebaran kabar bahwa adanya acara kenduri di sebuah rumah dengan mengundang pasukan Belanda. Rumah tersebut telah diberikan jebakan berupa makanan yang lezat, padahal pondasi rumah itu telah diakali dengan potongan bambu sehingga mudah diruntuhkan. Pada saat pasukan Belanda berada di dalam rumah tersebut, rumah diruntuhkan dan pasukan Cut Meutia menyerang secara membabibuta.
Penyerangan pasukan Cut Meutia juga terjadi pada rel kereta api sebagai usaha untuk memutuskan jalur distribusi logistik dan jalur kereta apinya. Di pertengahan tahun 1909 sampai Agustus 1910 pihak Belanda atas petunjuk orang kampung yang dijadikan tawanan telah mengetahui pusat pertahanan pasukan Pang Nanggroe dan Cut Nyak Meutia. Beberapa penyerangan dilakukan, namun pasukan Cut Meutia yang selalu berpindah tempat membuat Belanda susah untuk menangkapnya. Beberapa penyerangan dilakukan di daerah Jambo aye, Peutoe, Bukit Hague, Paya Surien dan Matang Raya. Namun pada tanggal 25 September 1910, saat terjadi penyerangan di daerah Paya Cicem, Pang Nanggroe terkena tembakan Belanda sehingga meninggal dunia setelah mewasiatkan kepada anaknya Teuku Raja Sabi untuk mengambil rencong dan pengikat kepala ayahnya dan menjaga ibundanya Cut Nyak Meutia. Makam Pang Nanggroe terletak di samping Mesjid Lhoksukon.
Setelah Pang Nanggroe syahid, pasukan dipimpin langsung oleh Cut Meutia dan basis pertahanan dipindahkan ke daerah Gayo dan Alas bersama pasukan yang dipimpin oleh Teuku Seupot Mata. Pada tanggal 22 Oktober 1910, pasukan Belanda mengejar pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat. Esoknya pengejaran dilakukan kembali ke daerah Krueng Putoe menuju Bukit Paya sehingga membuat pasukan Cut Meutia semakin terjepit dan selalu berpindah antar gunung dan hutan belaBelanda yang sangat banyak.
Dalam pertempuran tanggal 25 Oktober di Krueng Putoe, pasukan Cut Meutia menghadapi serangan Belanda. Di sinilah Cut Meutia syahid bersama pasukan muslim yang lain seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh. Menjelang gugurnya, Cut Meutia mewasiatkan kepada Teuku Syech Buwah untuk tidak lagi menghadapi serangan belanda, taktik selanjutnya adalah mundur sejauh mungkin dan menyusun serangan kembali, karena posisi mereka sudah sangat terjepit kali ini. Cut Meutia juga menitipkan anaknya untuk dicari dan dijaga.
Data Aceh. Nama aslinya Ahmad Permala, dia merupakan tokoh dari aliran Wujudiyah di Samudra Pasai. Raja Bakoy juga merupakan sahabat karib dengan Syekh Abdul Jalil (Syekh Siti Jenar).
Ahmad Permala sempat menjadi “Mangkubumi” dengan gelar Maharaja Bakoy Ahmad Permala setelah Sultanah Nahrisyah Malikul Zahir mangkat pada hari senin tanggal 17 Dzulhijjah 831 H (1428 M) dan dikebumikan di dekat makam suaminya.
Aliran yang dibawa oleh Raja Bakoy berlawanan dengan aliran ahlusunnah wal jama’ah, bahkan ia pernah diperingatkan oleh ulama agar tidak mengawini puterinya sendiri, namun malah menentang dan membunuh 40 ulama. Ahmad Permala akhirnya mati dibunuh oleh Malik Musthafa yang bergelar Pocut Cindan Simpul Alam, suami dari Ratu Nahrisyah dengan bantuan dari Sultan Mahmud Alaiddin Johan Syah dari Kerajaan Aceh (1409-1465 M). “Silsilah Raja-Raja Islam di Aceh dan Hubungannya Dengan Raja-Raja Islam di Nusantara”
Menurut suatu riwayat yang diceritakan secara turun temurun bahwa raja Bakoy adalah orang biasa dari kalangan rakyat jelata. Dia berasal dari Gampong Bakoy di Kutaraja. Ihwal dia menjadi raja semuanya adalalah setelah Sultan Zainal Abidin mangkat, Nahrisyah yang kala itu sudah diangkat menjadi Sultanah membuat sayembara.
Dia menuliskan pada sebuah pamflet yang dipasang di tepi pantai Pase. Di dalam pengumumannya itu, Sultanah berkehendak siapapun yang bisa mengalahkan raja Nagor dari Polisigli akan dijadikan sebagai Maharaja dan dijadikan sebagai suami Sultanah. Melihat pengumuman itu, Ahmad Permandala-Permandala beserta abangnya yang bernama Ibrahim Papa menjadi tertarik. Kemudian kakak-beradik ini menuju negeri Polisigli untuk membunuh raja Nagor.
Usaha mereka berhasil. Kemudian diangkatlah Ahmad Permandala menjadi maharaja mendampingi Sultanah Nahrisyah. Dalam perjalanan sejarah, Nahrisyah kemudian bertahta sampai tahun 1427 M. Menjelang dia mangkat, saat-saat terakhir Nahrisyah sempat menitipkan sebuah cincin kepada Bakoy sambil berpesan, "Kanda, bila kelak aku kembali kepangkuan Ilahi, berikanlah cincin ini kepada siapapun yang bisa memakainya dengan pas. Bila orang itu engkau temukan maka jadikanlah dia sebagai istrimu."
Raja Bakoy menyanggupi pesan terakhir dari sang Sultanah. Maka setelah Nahrisyah mangkat dan semua bentuk peringatan kematian usai digelar, maka Raja Bakoy langsung membuat sayembara itu. Tahap pertama adalah semua janda yang ada dinegeri Pase diundang untuk mengikuti sayembara itu. Siapapun yang bisa memakai cincin peninggalan Nahrisyah dengan pas sekali, maka akan dijadikan istri raja. Namun tak satupun janda yang punya jari manis yang sesuai dengan cincin itu.
Sayembara kedua pun digelar. Kali ini diperuntukkan buat gadis-gadis diseluruh penjuru negeri. Hal yang sama juga kembali terjadi. Tak ada satupun jari manis mereka yang sesuai dengan lubang cincin. Terakhir kali yang mencobanya adalah putri raja sendiri yang bernama Ganggang Sari. Raja terhenyak. Tak pernah disangkanya akan seperti itu. Akhirnya diam-diam dia mencari hukum kepada ulama agar diperbolehkan dirinya menikahi putrinya sendiri.
Untuk memenuhi keinginannya itu, Raja Bakoy mengumpulkan sebanyak 44 orang ulama di sebuah mesjid. kemudian dia mengutarakan semua permasalahan yang sedang dihadapi, termasuk wasiat dari sang Sultanah. Namun tak satupun ulama yang membenarkan sang raja menikahi putrinya sendiri. Raja marah. Lalu dia mengatakan tamsilan kepada para ulama seperti ini," Jikalau ada seseorang yang menanam sebatang pisang, kemudian berbuah dan matang, siapakah yang pertama sekali akan memakannya?
Para ulama menjawab, "Pemiliknya yang terlebih dahulu memakannya."
"Lalu bagaimana dengan Ganggang Sari?" tanya raja. Semua ulama diam. Terakhir mereka tetap tidak membenarkan raja mengawini anaknya sendiri. Akhirnya dengan sangat murka dia membunuh semua ulama yang hadir pada waktu itu.
Kemudian dia kembali menemui salah seorang ulama yang tinggal di Paya Terbang yang bernama Tgk. Razali. Ditempat ini juga dia tidak menemukan jawaban. Tgk. Razali meminta raja untuk kembali keesokan harinya. Sepeninggal raja, Tgk. Razali berzikir kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk menerbangkan tanah tempat dia mendirikan rumah. Keesokan harinya setibanya raja ditempat itu Tgk. razali dan pertapakan tempat dia tinggal sudah tidak ada lagi, yang ditemukan hanya bekas tanah yang seperti kolam.
Info tentang keinginan raja untuk mengawini putrinya sendiri pun merebak ditengah-tengah masyarakat. Ganggang Sari malu luar biasa. Ibrahim Papa kemudian membawa lari sang putri untuk menghindari keinginan gila ayahnya. Dipelarian itulah Ganggang Sari bunuh diri dengan cara minum racun akibat tak sanggup menanggung malu yang teramat sangat.
Menurut riwayat pula bahwa Pusara Raja Bakoy berada satu kompleks dengan Kompleks Makam Sultanah Nahrisyah yaitu di komplek makam Raja-Raja Pasai. Makam Raja Bakoi terus memendek sejak dikuburkan dan menyisakan panjang sekitar 70 cm.
Lokasi makam berada setengah kilometer dari Makam Sultan Malikussaleh yang berada di mulut pintu masuk ke cagar budaya Samudera Pasai. Di sekitar makam itu juga dulunya adalah lokasi yang dulunya istana Kerajaan Pasai. Sayang sekali, wujud fisik bangunan yang berada persis di bibir pantai Lhok Seumawe itu tak lagi bisa dinikmati.
Kawasan itu sudah beralih fungsi menjadi lahan pertambakan. Menurut Yakub, bangunan istana kesultanan sebagian besar terdiri atas kayu. Bekas-bekas fondasi dari batu bata merah masih terlihat di atas tanah tempat berdirinya kerajaan.
Di atas tanah seluas lebih dari lima hektar itu, aura kebesaran kerajaan masih sangat terasa.
Di lokasi itu juga terdapat makam Peut Ploh Peut (44), ulama yang meninggal karena dieksekusi Raja Bakoi, salah satu raja di Pasai. Akibat tindakannya yang sewenang-wenang, rakyat menjuluki dia Raja Bakoi, yang menurut masyarakat setempat berarti pelit.






